Dengan Gedung Putih yang ramah kripto, adopsi institusional yang terus tumbuh, serta gelombang persetujuan ETF spot yang segera datang, beberapa analis percaya bahwa 2026 bisa menjadi tahun breakout bagi aset digital—meskipun Bitcoin menutup 2025 dengan penurunan tahunan pertamanya sejak 2022.
Crypto YouTuber Jesse Eckel, yang punya 276.000 subscriber, menyampaikan dalam video prediksi 2026 bahwa “2026 akan jadi bull run dan altcoin season yang semua orang harapkan terjadi di 2025.”
Sponsored“Reli yang Semua Orang Harapkan di 2025”
“Saya menjual rumah saya. Semua sudah saya investasikan untuk taruhan ini,” ujar Eckel. “Kalau saya salah soal ini, saya terima semua risikonya.”
Eckel mengakui prediksi 2025 miliknya “benar-benar gagal besar,” terutama prediksinya soal altcoin season yang diperkirakan terjadi Februari 2025. Sebenarnya, altcoin justru ambruk di tengah kekacauan pasar akibat isu tarif. Kegagalan itu membuatnya meninjau ulang keseluruhan teori siklus empat tahun.
“Reli 2025 tidak didorong oleh gelombang likuiditas makro besar seperti siklus sebelumnya,” terang Eckel. “Kali ini lebih didorong oleh narasi serta arus institusional—sangat berbeda dari yang biasa kita lihat.”
Sekarang, ia memprediksi pada musim panas 2026, “semua orang akan mengakui bahwa siklus empat tahun sudah mati.” Begitu pengakuan itu meluas, ia memperkirakan “akan ada pembalikan epik karena semua kabar baik yang selama ini diabaikan langsung dihargai pasar sekaligus.”
Eckel memaparkan 10 katalis yang menurutnya akan mendorong bull market 2026:
- Ledakan stablecoin: Pertumbuhan stablecoin di 2026 akan mengalahkan 2025, seiring Wall Street mengakui stablecoin sebagai kisah sukses terbesar di dunia kripto. Karena stablecoin jadi pintu masuk aset digital yang kripto-native, ini akan memudahkan arus modal ke aset digital lainnya.
- Proyek AI mendominasi: Proyek kripto terkait AI akan jadi pemimpin dalam keuntungan altcoin season, dengan setidaknya satu proyek menembus kapitalisasi pasar US$100 miliar.
- Pengesahan UU struktur pasar: Kejelasan regulasi akan membuka pintu untuk ICO dan peluncuran token baru, yang akan memberi dampak langsung lebih besar ke altcoin dibanding Bitcoin.
- Arus ETF BTC dan ETH naik dua kali lipat: setelah tekanan makro menekan arus di 2025, likuiditas yang positif di 2026 seharusnya mendorong pertumbuhan setidaknya dua kali lipat.
- Terobosan ETF altcoin: Setidaknya satu ETF altcoin—baik Solana, XRP, maupun Dogecoin—akan mendapat perhatian besar dan memicu spekulasi soal persetujuan ETF altcoin berikutnya.
- Minimal tiga kali pemangkasan suku bunga: setelah ada tiga pemangkasan di akhir 2025, Eckel memprediksi setidaknya tiga pemangkasan lagi di 2026.
- Stimulus dari Trump-Bessent: Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, pemerintah “akan melakukan semua cara stimulasi yang mungkin,” termasuk kemungkinan cek stimulus.
Untuk target harga, Eckel menaikkan prediksi puncak siklus Bitcoin menjadi US$170.000–US$250.000, naik dari prediksi sebelumnya di US$170.000, mencerminkan rentang waktu yang diperpanjang hingga 2026. Ia tetap mematok target Ethereum di US$10.000–US$20.000.
“Kalau saya salah dua tahun berturut-turut, itu sudah hampir tidak bisa dimaafkan,” aku Eckel. “Saya mungkin benar-benar berhenti.”
Stablecoin dan tokenisasi RWA akan dorong adopsi institusi
Presiden DeFi Technologies Andrew Forson menyuarakan optimisme serupa dalam sebuah wawancara, memproyeksikan bahwa “adopsi institusional akan terus dipercepat di 2026.” Ia menuturkan bahwa teknologi blockchain akan “digunakan di lebih banyak bidang, teknologi, dan keperluan.”
Sponsored SponsoredForson menyebut stablecoin sebagai “killer app” di dunia kripto, dengan menjelaskan peran utamanya dalam ekosistem aset digital.
“Setiap stablecoin sebenarnya eksis di atas distributed ledger, di ledger yang terdesentralisasi,” ucap Forson. “Setiap kali kita mendengar pembahasan stablecoin, ada banyak blockchain yang jadi tempat stablecoin itu menetap demi validasi transaksi.”
Infrastruktur ini menciptakan apa yang dijelaskan Forson sebagai “fluida” yang mulus di antara berbagai kelas aset.
“Anda bisa menyimpan aset di instrumen seperti Bitcoin atau Ether atau salah satu exchange-traded product kami lalu memindahkannya kembali ke instrumen on-chain dan kembali lagi ke ruang stablecoin,” papar Forson. “Anda punya fluiditas dan resolusi cepat dalam memindahkan aset dari area stablecoin ke aset penghasil yield, lalu kembali ke ekivalen fiat.”
Selain stablecoin, Forson menyoroti tren percepatan tokenisasi real-world asset (RWA). “Kini makin sering kita lihat institusi benar-benar memindahkan aset lain ke on-chain, termasuk saham, obligasi, dan komoditas,” terang Forson. “Hal ini hanya akan meningkatkan pemanfaatan serta nilai dasar dari aset digital tersebut.”
SponsoredForson juga menunjukkan konvergensi AI dengan blockchain sebagai potensi use case baru. “Provenance untuk beberapa sumber data harus dibuktikan, dan salah satu cara tepat guna membuktikan provenance data pelatihan AI adalah dengan mencatat informasinya di blockchain,” cerita Forson.
Menurut Forson, use case utama kedua menyangkut infrastruktur keuangan tradisional. “Kemampuan menyelesaikan aset, saham, obligasi, trading global dengan cepat, serta membawa tambahan likuiditas ke area itu—semua hal tersebut lebih mungkin, lebih fleksibel berkat distributed ledger.” Ia menambahkan bahwa DeFi Technologies berencana berfokus pada bidang ini di tahun-tahun mendatang.
Tidak Semua Orang Yakin
Tidak semua analis sepakat dengan pandangan optimistis ini. Beberapa mengingatkan bahwa crypto winter bisa kembali di 2026. Mereka menunjukkan penurunan Bitcoin lebih dari 30% dari harga tertinggi 52-minggu serta kelelahan katalis utama. Para bear juga mempertanyakan apakah strategi treasury Bitcoin bisa terus menopang permintaan.
Untuk sudut pandang bearish soal 2026, simak liputan kami di sini.