Logam mulia reli ke level pekan jamak dan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high / ATH). Ini terjadi seiring meningkatnya ekspektasi pelonggaran oleh The Fed, tetapi pasar kripto menunjukkan cerita berbeda di tengah arus keluar ETF dan juga tekanan makro.
Harga emas menyentuh level tertinggi enam minggu pada hari Senin sementara perak memecahkan rekor. Prestasi itu tak lain didorong oleh ekspektasi meningkatnya harapan akan pemotongan suku bunga AS serta melemahnya dolar.
SponsoredPerak Bersinar Berkat Tekanan Pasokan
Harga spot emas naik menjadi US$4,241 per ons, level tertinggi sejak akhir Oktober. Sedangkan, perak melesat ke rekor US$58,83 sebelum akhirnya terkoreksi tipis. Logam putih ini telah terapresiasi lebih dari dua kali lipat dari nilainya tahun ini, jauh melampaui kenaikan emas yang impresif sebesar 60%.
Adapun katalis utama di balik reli ini ialah meningkatnya ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve. Menurut data CME FedWatch, para trader kini memprediksi ada kans sebesar 87,6% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Reserve tanggal 10 Desember mendatang, di mana hanya 12,4% kemungkinan suku bunga tetap tidak berubah.
Di luar ekspektasi kebijakan moneter, perak memperoleh keuntungan dari keterbatasan pasokan yang parah. Tekanan besar di London selama Oktober menarik jumlah logam yang sangat besar ke pusat perdagangan, sehingga menguras persediaan di tempat lain. Gudang yang terkait dengan Shanghai Futures Exchange baru-baru ini mencapai level terendah dalam hampir satu dekade, sementara biaya pinjaman perak satu bulan tetap tinggi.
Penurunan dolar ke level terendah dua minggu lebih meningkatkan daya tarik logam mulia bagi pemegang mata uang lain. Pernyataan dovish dari pejabat The Fed, termasuk Gubernur Christopher Waller dan Presiden New York Fed John Williams, semakin memperkuat ekspektasi pelonggaran moneter yang berkelanjutan.
Bitcoin Bergerak Berlawanan Arah
Namun Bitcoin, yang kerap disebut sebagai “emas digital”, justru bergerak ke arah sebaliknya. Aset kripto terkemuka ini jatuh sekitar US$86.000, atau drop sekitar 30% dari rekor tertingginya di Oktober yang mendekati US$126.000.
Beberapa faktor menjelaskan perbedaan ini. ETF Bitcoin yang terdaftar di AS mencatat arus keluar bersih sekitar US$3,4 miliar pada bulan November, membalikkan arus masuk sebelumnya. Peretasan Yearn Finance sebesar US$9 juta pada 1 Desember mengguncang sentimen DeFi, sementara komentar Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda soal kemungkinan kenaikan suku bunga memicu ketakutan akan likuidasi perdagangan berisiko global. Tak berhenti sampai di situ, lebih dari US$1 miliar dalam posisi crypto dengan leverage terbantai likuidasi selama crash belum lama ini.
Meskipun emas, perak, dan Bitcoin semuanya adalah aset yang tidak menghasilkan yield atau imbal hasil, logam mulia memperoleh manfaat dari faktor bullish yang independen—terutama, kekurangan pasokan fisik. Sementara Bitcoin, sebaliknya, tetap jauh lebih sensitif terhadap arus arus masuk/keluar ETF dan likuidasi leverage.
Walau ekspektasi pemotongan suku bunga seharusnya menguntungkan Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang, hambatan jangka pendek saat ini rupanya lebih mendominasi pergerakan harga.
Bagaimana pendapat Anda tentang kans pemangkasan suku bunga oleh The Fed serta efek ke Bitcoin dan Perak? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!