ABA Sebut Gedung Putih “Mengkaji Pertanyaan yang Salah” soal Risiko Yield Stablecoin

  • ABA mengkritik ekonom White House karena mengabaikan larinya simpanan akibat imbal hasil stablecoin.
  • CEA menemukan bahwa pelarangan yield hanya akan meningkatkan penyaluran kredit bank sebesar 0,02%.
  • Senat memiliki waktu dua minggu untuk mengajukan Clarity Act sebelum terhenti selama bertahun-tahun.
Promo

American Bankers Association (ABA) membalas laporan Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih (CEA), seraya menilai bahwa laporan tersebut mengabaikan risiko nyata yang ditimbulkan oleh yield stablecoin untuk bank komunitas.

Laporan CEA menyimpulkan bahwa pelarangan yield pada stablecoin pembayaran hanya akan meningkatkan total pinjaman bank sebesar US$2,1 miliar, atau 0,02% dari seluruh pinjaman. CEA memperkirakan konsumen akan kehilangan sekitar US$800 juta per tahun dari potensi hasil investasi yang hilang.

Disponsori
Disponsori

ABA Peringatkan Risiko Lari Dana Ketika Stablecoin Berkembang

ABA menyatakan bahwa CEA “mengkaji pertanyaan yang tidak tepat.” Alih-alih memodelkan dampak pelarangan, ABA menilai pembuat kebijakan seharusnya memeriksa apa yang terjadi ketika stablecoin dengan yield bertumbuh secara pesat.

Kelompok perbankan ini mengingatkan bahwa stablecoin yang didukung oleh Treasury AS serta menawarkan hasil yang kompetitif bisa menarik dana murah dari bank komunitas.

Perubahan tersebut berpotensi menaikkan biaya pendanaan dan mengurangi pinjaman lokal untuk pelaku usaha kecil, petani, dan pembeli rumah. Sebelumnya, Departemen Keuangan Amerika pernah memperkirakan bahwa dana deposit sebesar US$6,6 triliun bisa terdampak.

“Dengan fokus pada efek pelarangan, laporan CEA berisiko menciptakan rasa aman yang menyesatkan karena mengabaikan skenario yang jauh lebih besar dampaknya: stablecoin pembayaran dengan yield tumbuh dengan cepat,” tulis kutipan di ABA Banking Journal.

Senat Hadapi Batas Waktu Dua Minggu untuk Clarity Act

Perselisihan ini muncul ketika Senat kembali dari masa reses dengan waktu terbatas untuk mendorong pengesahan Digital Asset Market Clarity Act.

Menkeu Scott Bessent telah menyerukan dukungan secara terbuka, sementara Ketua SEC Paul Atkins dan Ketua CFTC Michael Selig menuturkan bahwa lembaga mereka siap langsung menjalankan RUU tersebut.

Menurut Senator Cynthia Lummis, CLARITY Act berisiko tertunda selama empat tahun hingga setelah tahun 2030 jika tidak lolos sekarang.

Yield stablecoin masih menjadi satu-satunya isu yang menghambat pengesahan RUU ini. Apabila Komite Perbankan Senat tidak membahasnya sebelum akhir April, kemungkinan RUU tersebut baru akan kembali setelah pemilu sela November mendatang.

Untuk membaca analisis pasar kripto terbaru dari BeInCrypto, klik di sini.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori