Kembali

Kripto dalam Kehidupan Sehari-hari: Seberapa Dekat Kita dengan Adopsi Massal?

Pilih kami di Google
author avatar

Ditulis oleh
Matej Prša

editor avatar

Diedit oleh
Shilpa Lama

23 Februari 2026 22.00 WIB

Sekarang Februari 2026. Dua tahun lalu, industri masih tergila-gila dengan mantra memasukkan satu miliar pengguna baru. Seruan ini menggema di setiap ruang konferensi mulai dari Dubai hingga Tokyo. Hari ini, setelah debu mereda dari penerapan GENIUS Act di Amerika Serikat dan kerangka Markets in Crypto-Assets (MiCA) Uni Eropa yang sudah berjalan penuh, pertanyaannya sudah berubah. Kita tidak lagi bertanya apakah adopsi massal akan terjadi, atau bahkan kapan. Sekarang, kita bertanya kenapa ini tidak terasa seperti revolusi cyberpunk yang dulu kita bayangkan.

Untuk memahami paradoks ini—di mana aset kripto sudah menjadi bagian di sistem keuangan namun bagi orang awam masih terasa asing—BeInCrypto berbincang dengan sejumlah pemimpin industri yang sedang membangun jembatan antara keduanya: Fernando Lillo Aranda (Zoomex), Vivien Lin (BingX), Griffin Ardern (BloFin), Dorian Vincileoni (Kraken), Federico Variola (Phemex), dan Michael Ivanov (Arcanum Foundation).

Keputusan bersama mereka? Teknologinya sudah siap. Regulasi juga (sebagian besar) sudah dibuat. Hambatan terakhir kini bukan lagi soal kode, tapi budaya.

Revolusi UX: dari Seed Phrases ke Smart Accounts

Selama lebih dari satu dekade, penghalang utama untuk masuk ke dunia kripto adalah faktor rasa takut. Kripto terkenal sangat tidak memaafkan. Kekuatan terbesar dari industri ini, yaitu kedaulatan penuh, juga menjadi kelemahan terbesarnya. Kalau kamu kehilangan seed phrase 24 kata, maka tabungan hidupmu ikut hilang. Kalau kamu salah kirim ke alamat hex, danamu lenyap tanpa jejak. Di tahun 2026, kita harus bertanya, apakah era satu kesalahan berakibat fatal benar-benar sudah berakhir?

Dorian Vincileoni, Head of Regional Growth dari Kraken, memberikan penilaian jujur yang menembus gempuran promosi pemasaran. Meskipun teknologi sudah semakin maju, inti filosofi kripto—tanggung jawab penuh individu—tetap menjadi hambatan psikologis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kode.

Vincileoni mengakui:

Disponsori
Disponsori

“Bisakah kita benar-benar bilang orang awam yang tidak paham teknologi sudah aman? Tidak sepenuhnya, dan berpura-pura sebaliknya itu tidak jujur. Pengalaman pengguna memang meningkat pesat, tapi self-custody masih membawa tanggung jawab, dan tanggung jawab ini tidak otomatis terasa mudah bagi semua orang.”

Meski begitu, Vincileoni menyoroti terjadinya perubahan paradigma besar di industri ini. Kini kita tidak lagi terpaku pada pilihan biner antara centralized exchange atau self-custody yang berbahaya. Sekarang, kita telah memasuki era Smart Accounts.

“Antarmuka yang semakin baik, abstraksi akun, dan perlindungan yang makin cerdas menurunkan risiko human error,” terang Vincileoni.

“Perubahan utama di sini bukan menghapus risiko sepenuhnya, melainkan memberi pengguna pilihan. Ada yang pilih kedaulatan penuh, ada juga yang mau tetap di bawah pagar pembatas keamanan. Adopsi massal akan datang kalau kita menghargai keduanya.”

Evolusi teknologi ini paling terlihat dengan kehadiran standar ERC-4337 dan regulasi serupa di berbagai chain. Michael Ivanov, CEO Arcanum Foundation, menekankan bahwa proses masuk ke dunia kripto masih perlu dibuka lebih mudah, dan para pengguna butuh alat khusus agar tidak kehilangan aset mereka sendiri.

“Saat ini kita masih punya perjalanan panjang untuk menyederhanakan proses masuk ke dunia kripto,” sorot Ivanov.

“Dari sisi kami, kami mengembangkan cara termudah agar hal ini bisa terjadi. Kami membuat beberapa Telegram Web Apps (TWA) dengan lapisan manajemen risiko yang efisien, khusus untuk membantu pengguna tidak kehilangan dana mereka, bahkan kalau mereka membuat beberapa kesalahan sekaligus.”

Pernyataan Ivanov ini penting. Di 2026, UX idaman bukan cuma wallet yang lebih cantik, namun lebih kepada “jaring pengaman”. Industri kripto akhirnya mengakui bahwa orang biasa hanya ingin menikmati keunggulan blockchain—cepat, transparan, dan menjangkau dunia—tanpa perlu paham komputer sampai tingkat ahli sekadar agar uangnya aman.

Aplikasi Killer Tahun 2026: Konvergensi, Bukan Kasino

Kalau tahun 2021 identik dengan ledakan NFT (yang seringkali tidak rasional), dan 2024 adalah tahunnya exchange-traded fund (ETF) Bitcoin, maka tahun 2026 lebih berfokus pada sesuatu yang jauh lebih fungsional: Konvergensi. Pencarian aplikasi native kripto yang diharapkan bisa mengubah dunia, kini sudah banyak ditinggalkan demi memperbaiki sistem keuangan eksisting jadi sepuluh kali lebih baik.

Fernando Lillo Aranda, Direktur Marketing di Zoomex, menyatakan bahwa industri terlalu lama mencari killer app yang hidup sepenuhnya di dalam gelembung Web3. Padahal, terobosan nyata justru terjadi ketika Web3 mulai merembes ke dunia nyata.

“Untuk sampai ke titik tersebut, pertama-tama kita harus memahami kenapa adopsi massal belum benar-benar terjadi,” papar Lillo Aranda.

“Salah satu hal yang selama ini kurang adalah utilitas nyata di dunia nyata, bukan sekadar spekulasi. ‘Killer app’ sebenarnya di tahun 2026 adalah pertemuan antara infrastruktur keuangan Web3 dan kebutuhan keuangan harian.”

Lillo Aranda menyoroti bahwa centralized exchange (CEX) sekarang bukan sebatas platform trading; kini mereka menjadi antarmuka keuangan utama bagi generasi digital.

Aranda menambahkan:

“Centralized exchange menghadapi tantangan besar di sini; pesaing Web2 tradisional mereka—bank—sudah bertahun-tahun menyesuaikan diri dan menawarkan layanan mirip kripto. Di saat yang sama, CEX visioner sedang berupaya mendekatkan Web3 ke kehidupan sehari-hari.”

Disponsori
Disponsori

Bagaimana bentuknya dalam praktik? Ini bukan soal media sosial terdesentralisasi atau tata kelola on-chain untuk masyarakat umum.

Lillo Aranda menerangkan:

“Produk seperti kartu debit atau kredit yang terhubung dengan aset kripto, akses praktis ke pasar tradisional seperti saham, penarikan keuntungan instan untuk belanja harian, dan tabungan tinggi imbal hasil yang mengalahkan produk Web2—itulah hal-hal yang benar-benar akan membawa gelombang pengguna baru.”

“Ketika Web3 tidak lagi terasa seperti ekosistem terpisah, dan justru menjadi lapisan keuangan yang lebih baik untuk hidup keseharian, adopsi akan datang dengan sendirinya—bukan karena spekulasi, tapi karena memang lebih baik dan praktis.”

Michael Ivanov melihat killer app sebagai tombak bercabang banyak, dengan alat berbeda untuk demografi yang berbeda pula. Bagi generasi muda digital, titik masuknya bukan layanan perbankan, melainkan hiburan.

“Sekilas memang tidak ada killer app tunggal yang menonjol, namun untuk beberapa audiens tertentu, itu bisa berupa game MMO baru yang terintegrasi Web3,” Ivanov mengusulkan.

“Kami tetap percaya bahwa setiap audiens membutuhkan cara mereka sendiri untuk masuk ke Web3. Bagi sebagian orang, itu adalah crypto banking; bagi yang lain, itu adalah ekonomi imersif di mana mereka benar-benar memiliki kemajuan digital mereka.”

Ekonomi Stablecoin: Apakah Kita Sudah Meninggalkan Fiat?

Produk paling sukses dalam sejarah aset kripto bukan Bitcoin, melainkan stablecoin. Pada tahun 2025, volume transaksi stablecoin sudah melampaui jaringan kartu kredit besar di beberapa koridor utama. Hal ini membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah kita mendekati “Akhir Fiat” untuk belanja sehari-hari?

Vivien Lin, Chief Product Officer di BingX, melihat dunia di mana batas-batas mulai kabur, namun mengingatkan supaya tidak berharap pada revolusi yang terjadi secara tiba-tiba. Transisinya berjalan dengan diam-diam.

“Kita memang bergerak ke arah itu, namun prosesnya akan perlahan, bukan secara mutlak,” ujar Lin.

“Stablecoin semakin sering digunakan untuk pembayaran karena cepat, biaya rendah, dan bersifat global, terutama untuk perdagangan lintas negara dan layanan daring. Untuk banyak merchant, menerima stablecoin sekarang sudah lebih masuk akal dibanding berurusan dengan jalur pembayaran tradisional.”

Meski begitu, Lin menyisipkan sentuhan realisme pada narasi hiper-bitcoinisasi.

“Fiat tidak akan segera hilang dari pengeluaran sehari-hari. Seiring waktu, saat infrastruktur dan regulasi semakin matang, perbedaan antara keduanya akan semakin tidak penting bagi para pengguna akhir.”

Dengan kata lain, di tahun 2026, pengguna mungkin membayar dengan dolar digital, dan mereka tidak selalu peduli apakah itu CBDC, stablecoin dari bank, atau stablecoin terdesentralisasi seperti LUSD, asalkan transaksi berjalan lancar.

Griffin Ardern dari BloFin menawarkan sudut pandang ekonomi makro yang lebih hati-hati. Ia berpendapat bahwa stabilitas kredit negara adalah faktor utama yang menentukan adopsi stablecoin.

“Hal ini kecil kemungkinan terjadi dalam waktu dekat,” terang Ardern soal perubahan total dari fiat ke stablecoin.

“Walaupun banyak merchant mulai menerima stablecoin, saat ini stablecoin lebih diperlakukan seperti ‘money market fund’ daripada pengganti fiat. Meskipun risiko kolateral stablecoin salah satu yang terendah di pasar aset kripto, tetap saja masih signifikan jika dibandingkan dengan aset kelas satu tradisional.”

Ardern menyampaikan bahwa impian bebas fiat ini sangat dipengaruhi faktor geografis.

“Di negara-negara dengan kredit negara yang lemah, para pengguna rela mengambil risiko kolateral ini, karena alternatifnya lebih buruk. Tapi di negara dengan kredit negara yang baik, pengguna biasanya hanya mau mengonversi sedikit dana ke stablecoin untuk kebutuhan spesifik.”

Ia juga menyoroti hambatan dari sisi merchant:

“Merchant juga hanya mau menerima stablecoin dalam jumlah terbatas supaya tidak menambah risiko operasional di neraca keuangan mereka.”

Terlepas dari berbagai tantangan ini, bagi para power user dan digital nomad, transisi sudah terjadi sepenuhnya. Michael Ivanov adalah bukti nyata dari realitas tersebut. “The future is here,” ucapnya.

“Saya menggunakan kartu terhubung aset kripto hampir di seluruh dunia tanpa perlu membayar pakai fiat. Tapi, kita memang masih harus menuntaskan tantangan pemerintahan dan regulasi di banyak negara agar hal ini benar-benar menjadi standar, bukan pengecualian.”

The Final Boss: Persepsi dan Defisit Kepercayaan

Jika teknologi sudah kokoh, produknya bermanfaat, dan regulasi memberikan kerangka hukum, kenapa kita belum melihat adopsi mencapai 100%? Jawabannya, menurut para ahli kami, ada di Boss terakhir industri ini—persepsi publik.

Federico Variola, CEO Phemex, yakin bahwa saat ini menambah lebih banyak teknologi tidak akan menyelesaikan masalah. Industri ini sudah tidak lagi dibatasi infrastruktur, tetapi oleh reputasinya.

“Adopsi massal lebih dekat dari dugaan banyak orang,” papar Variola.

“Sebagian besar pengguna muda sudah pernah berinteraksi dengan aset kripto, dan akses semakin mudah lewat exchange terpusat serta wallet yang intuitif. Tantangan terbesar yang tersisa sekarang adalah persepsi.”

Variola mengungkapkan bahwa bekas luka era 2022—2023 masih membayangi kesadaran kolektif komunitas.

“Hambatannya sekarang bukan lagi soal teknologi atau regulasi; infrastrukturnya sudah ada. Yang dibutuhkan sekarang adalah narasi publik yang lebih konstruktif agar pengguna skeptis merasa nyaman berpartisipasi. Adopsi kini bukan soal membangun tool baru, melainkan soal menciptakan kondisi psikologis yang tepat di pasar.”

Sentimen ini digaungkan oleh Mike Williams (Toobit), yang menekankan bahwa industri ini harus beralih dari menjual mimpi menuju pemberian edukasi. Kepercayaan di tahun 2026 dibangun lewat transparansi dan pemahaman, bukan dengan dukungan pesohor atau hype pergerakan harga.

Michael Ivanov merangkum kompleksitas hambatan ini:

“Ada jaringan alasan yang rumit. Jelas termasuk masalah regulasi, kepercayaan yang masih kurang, serta fakta bahwa banyak aplikasi Web3 masih rumit digunakan bagi mereka yang terbiasa dengan kenyamanan Instagram atau Amazon.”

Kesimpulan: Era Aset Kripto yang Tidak Terlihat

Saat kita menelusuri lanskap tahun 2026, wawasan dari Zoomex, BingX, BloFin, Kraken, Phemex, dan Arcanum menggambarkan industri yang akhirnya matang, meninggalkan masa remaja yang penuh spekulasi dan pemberontakan. Kita sudah berhenti mencoba menghancurkan bank dan mulai menjalani tugas berat: memperbarui sistem keuangan global.

Killer App pada masa ini bukanlah satu platform, melainkan Pengalaman Tanpa Hambatan. Misalnya, kartu debit aset kripto yang memberi yield secara real-time (Zoomex). Sebuah game MMO di mana pedang legendarismu adalah aset likuid (Arcanum). Atau pembayaran lintas negara yang selesai dalam hitungan detik dan biaya hanya sebagian kecil sen tanpa pengguna harus melihat blockchain explorer sama sekali (BingX).

Adopsi massal tidak terlihat seperti revolusi yang dipimpin oleh orang-orang yang melambaikan private key di jalanan. Adopsi massal terlihat sebagai migrasi yang tenang dan efisien menuju alat yang lebih baik. Ini terlihat seperti kenyamanan. Seperti yang Variola sampaikan dengan tepat, alatnya sudah siap. Dunia hanya perlu memutuskan untuk mempercayainya.

Transisi menuju dunia berbasis Web3 sedang berlangsung, selangkah demi selangkah melalui transaksi yang tak terlihat. Pada akhir tahun 2026, pertanyaannya bukan lagi kapan aset kripto akan digunakan dalam kehidupan sehari-hari? Jawabannya cukup: Lihatlah sekeliling, itu sudah terjadi.

Ucapan terima kasih khusus untuk Fernando Lillo Aranda, Vivien Lin, Griffin Ardern, Dorian Vincileoni, Federico Variola, dan Michael Ivanov atas kontribusi mereka dalam laporan ini.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori