Kembali

CEO Nansen Jelaskan Kenapa AI Tidak Bisa Gantikan Keyakinan Manusia dalam Trading Aset Kripto

author avatar

Ditulis oleh
Kamina Bashir

editor avatar

Diedit oleh
Harsh Notariya

22 Januari 2026 20.48 WIB
  • Nansen meluncurkan alat AI untuk meningkatkan analisis dan eksekusi trading on-chain.
  • CEO Nansen mengatakan AI memperkuat penilaian manusia, bukan menggantikannya, dalam analisis aset kripto.
  • Ai unggul dalam skala dan deteksi pola, sementara manusia tetap memiliki keyakinan dan tanggung jawab.
Promo

Artificial intelligence sudah mengubah banyak industri, dan ke mana pun teknologi ini bergerak, selalu muncul pertanyaan yang sama: Apakah akan menggantikan peran manusia? Di dunia aset kripto, dampaknya sudah terlihat jelas, mulai dari bot trading berbasis AI sampai sistem trading berbasis agen.

Namun, Alex Svanevik, CEO sekaligus co-founder Nansen, berpendapat bahwa AI bukan pengganti penilaian manusia, melainkan pelengkapnya. Dalam wawancara eksklusif bersama BeInCrypto, Svanevik membahas lebih dalam tentang perubahan ini dan menjelaskan arah perkembangan analisis berbasis AI ke depannya.

Debat AI di Aset Kripto: CEO Nansen Mendesak Augmentasi, Bukan Penggantian

Pada 21 Januari, Nansen mengumumkan peluncuran fitur trading on-chain yang didukung kecerdasan buatan (AI). Inovasi ini menjadi perubahan besar dari platform analitik murni menjadi produk yang menggabungkan insight dan eksekusi secara terpadu.

Sponsored
Sponsored

Dibangun dari dataset milik mereka sendiri yang berisi lebih dari 500 juta wallet terlabel, peluncuran fitur baru ini memungkinkan pengguna mengelola portofolio, membaca sinyal on-chain secara langsung, serta mendapat saran berbasis data. Selain itu, pengguna bisa mengeksekusi transaksi secara langsung di dalam platform Nansen.

“Dilatih dan dievaluasi dengan dataset milik Nansen sendiri, Nansen AI secara konsisten melampaui produk AI terkemuka lain dalam benchmark yang dirancang untuk analisis on-chain dan kebutuhan trading. Ini memastikan insight yang dihasilkan tidak hanya lebih akurat, tapi juga langsung bisa dimanfaatkan oleh trader/investor, sehingga intelligence agentic benar-benar memberi keunggulan trading praktis,” terang pengumuman tersebut.

Selain itu, peluncuran ini juga membuka fitur yang Nansen sebut sebagai “vibe trading.” Fitur ini digambarkan sebagai cara yang lebih intuitif untuk beralih dari insight ke eksekusi on-chain tanpa harus berpindah alat.

Ketika AI semakin mengambil alih pekerjaan analitik, peran analis manusia pun mulai dipertanyakan. Svanevik mengungkapkan bahwa AI sangat unggul dalam hal skala pemrosesan data, menjadikannya mampu menganalisis ratusan juta wallet, melacak arus lintas chain, dan menangkap pola-pola yang sulit dideteksi manusia.

Tetapi, ia menegaskan keputusan tetap berada di tangan pengguna, yang pada akhirnya mengarahkan seluruh proses dengan mengajukan pertanyaan yang tepat dan menyetujui tindakan yang akan diambil.

“Batasannya tidak tetap. Itu akan bergeser seiring AI makin canggih dalam penalaran dan seiring data on-chain semakin kaya. Tapi tujuannya bukan menggantikan penilaian manusia, melainkan membebaskan manusia dari tugas berulang supaya bisa fokus ke keputusan yang lebih penting,” ucap Svanevik.

Apa yang Membuat Analisis Kredibel di Pasar Kripto Berbasis AI?

Penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada alat kecerdasan buatan bisa membuat kemampuan berpikir kritis jadi menurun. Di pasar aset kripto, di mana para trader harus menghadapi volatilitas ekstrem dan aset berisiko tinggi, taruhannya jadi semakin besar.

Sponsored
Sponsored

Nampaknya, Svanevik melihat hal ini dari sudut pandang yang berbeda. Ia meyakini bahwa “AI yang baik” justru menampilkan lebih banyak sinyal, yang pada akhirnya mendorong pengguna untuk berpikir lebih kritis saat melakukan eksekusi, bukan sebaliknya.

“Risiko sistemik terbesar sebenarnya terjadi ketika semua orang memiliki pola pikir yang sama. Itu bukan hal khusus pada AI — hal serupa juga terjadi pada analis manusia. Jawabannya adalah keberagaman: model yang beragam, strategi yang beragam, dan penafsiran data yang beragam. Karena itu, kami mengembangkan alat yang memberi kekuatan pada pengambilan keputusan individu, bukan satu sumber kebenaran yang diikuti semua orang,” tambah Svanevik.

Pimpinan Nansen ini juga menegaskan bahwa baik AI maupun analis manusia tidak boleh dipercaya begitu saja tanpa pertimbangan. Menurutnya, yang terpenting adalah apakah analisisnya benar-benar konsisten dari waktu ke waktu.

Mengenai kepercayaan di pasar yang didominasi AI, CEO ini menjelaskan,

“Kepercayaan di era AI lahir dari pengukuran dan pengulangan, bukan dari nama atau jumlah pengikut di Twitter. Kelebihan AI, dia bisa diuji terus menerus, dengan skala besar, dan berhadapan langsung dengan realita, cara yang tidak mungkin bisa dilakukan manusia secara individu.”

Ia juga membagikan bahwa metode pengujian paling sederhana adalah praktik langsung. Svanevik menyarankan agar pengguna menanyakan hal yang benar-benar penting bagi mereka sendiri, lalu menilai apakah jawaban yang diberikan memang relevan, bermanfaat, dan bisa dipraktikkan. Ia juga menilai bahwa pengguna biasanya cukup jeli dalam menilai kualitas.

Sponsored
Sponsored

“Dalam jangka panjang, kepercayaan akan bergeser dari analis individu menuju platform yang bisa membuktikan, secara berkelanjutan, mampu menampilkan sinyal dan mengurangi kebisingan informasi. Itulah standar yang kami pegang,” imbuh Svanevik pada BeInCrypto.

Mengapa AI Bisa Menganalisis Data On-chain, namun Tidak Bisa Menggantikan Keyakinan Manusia

Analis manusia biasanya mengambil keputusan trading dengan mempertimbangkan metrik on-chain, data harga, serta sinyal lain, lalu menambahkannya dengan penilaian dan interpretasi berdasarkan konteks. Sebaliknya, sistem AI mengandalkan pola yang dipelajari dari data masa lalu.

Ketika ditanya apakah AI pada akhirnya mampu mengembangkan bentuk penilaian yang serupa, Svanevik mengungkapkan bahwa hal tersebut mungkin saja terjadi, meski bentuknya tidak persis seperti manusia.

Ia menjelaskan bahwa AI nantinya akan mengembangkan kemampuan penalaran konteks versinya sendiri. Pimpinan Nansen ini percaya AI bahkan bisa mengintegrasikan data langsung dari berbagai variabel secara jauh lebih luas dibandingkan manusia mana pun.

“Jalannya ke sana adalah melalui data pelatihan yang semakin baik, jendela konteks yang lebih panjang, dan feedback loop dari eksekusi nyata. Kami sudah melihat tanda-tandanya lewat agent kami. Agent ini tidak sekadar mencari pola — tapi juga melakukan penalaran terhadap data perilaku secara langsung. Itulah tahap awal penilaian. Analisis ini akan semakin tajam seiring evolusi model dan akumulasi pembelajaran dari jutaan interaksi on-chain,” jelas Svanevik.

Sponsored
Sponsored

Tetapi, ia juga menyoroti satu aspek analisis on-chain yang menurutnya tak mungkin sepenuhnya digantikan AI: mengambil tanggung jawab saat membuat keputusan di tengah ketidakpastian.

Svanevik menekankan meski AI bisa menampilkan pola, probabilitas, dan berbagai kemungkinan, serta mengukur apa yang sudah terjadi maupun yang mungkin akan terjadi, namun AI tidak bisa menentukan batas toleransi risiko seseorang, menilai nilai satu keputusan, apalagi bertanggung jawab jika hasil akhir ternyata negatif.

“Pada akhirnya, analisis on-chain akan berujung pada aksi di dunia nyata: mengalokasikan dana, mendukung tim, maupun membuat keputusan yang dipublikasikan secara terbuka. Harus ada sosok yang bertanggung jawab atas keputusan-keputusan itu. Itulah peran manusia,” ujar eksekutif Nansen ini.

Ia menegaskan bahwa, tidak peduli seberapa canggih model AI berkembang, kredibilitas tetap berada di tangan manusia dalam hal penilaian, tanggung jawab, dan keyakinan. AI memang bisa memberikan informasi untuk pengambilan keputusan, ujarnya, tapi pada akhirnya manusia yang memutuskan dan menanggung semua akibatnya.

“Menentukan apa yang penting. AI bisa memberi tahu apa yang sedang terjadi di chain, tapi AI tidak bisa memberitahu apa yang seharusnya kamu pedulikan. Itu soal selera. Itu keyakinan. Itu manusiawi,” komentar Svanevik.

Pada akhirnya, Svanevik melihat AI lebih sebagai alat pemberdaya yang kuat daripada pengambil keputusan. Meskipun AI dapat menampilkan pola, probabilitas, dan insight dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, penilaian manusia tetap berperan sentral dalam hal risiko, tanggung jawab, dan keyakinan.

Seiring analisis berbasis AI semakin umum, kepercayaan akan makin bergantung pada platform yang dapat terus membuktikan kualitas dari insight mereka. Di saat yang sama, manusia tetap bertanggung jawab untuk menentukan apa yang penting dan berani menanggung hasil akhirnya.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori