Harga XRP sedang berusaha menstabilkan diri setelah aksi jual besar-besaran di pasar kripto. Token ini sempat turun hingga mendekati US$1,50 sebelum kembali naik ke sekitar US$1,61, mengikuti penurunan besar yang terjadi pada 31 Januari hingga 1 Februari. Secara teknikal, pergerakan ini terlihat seperti pantulan teknikal dan mungkin menjadi awal dari tren yang lebih besar.
Tapi, data on-chain dan aliran token memperlihatkan bahwa pemulihan ini masih lemah. Para pembeli yang menopang harga XRP saat ini kebanyakan berasal dari trader jangka pendek. Permintaan secara keseluruhan juga tetap lemah. Ada tiga indikator yang menjelaskan mengapa rebound ini masih bisa gagal.
Holder Jangka Pendek Memimpin Reli — dan Itu Berisiko
Harga XRP masih bergerak di dalam channel turun jangka panjang yang aktif sejak awal Juli lalu.
SponsoredKenaikan baru-baru ini terjadi di dekat batas bawah channel tersebut, sekitar US$1,50. Level itu menarik minat pembeli yang membantu menahan harga. Tapi, siapa yang membeli lebih penting dibandingkan di mana harga memantul.
Ingin dapat insight token seperti ini? Daftarkan diri Anda untuk menerima Crypto Newsletter Harian dari Editor Harsh Notariya di sini.
Di sinilah peran penting HODL Waves. HODL Waves memantau berapa lama investor menyimpan aset mereka. Grafik ini juga menunjukkan kelompok holder mana yang sedang menambah atau mengurangi kepemilikan.
Data terbaru memperlihatkan bahwa kelompok pemegang 1 minggu hingga 1 bulan, yang adalah trader jangka pendek, menjadi pendorong utama pembelian. Persentase suplai XRP yang mereka miliki meningkat dari sekitar 1,99% menjadi 5,27% antara 31 Januari hingga 1 Februari. Ini adalah lonjakan besar jika melihat rentang waktu cuma dua hari.
Kenaikan kepemilikan spekulatif yang sangat tajam seperti ini jelas berisiko.
Sejarah mencatat alasan mengapa ini berisiko. Saat harga XRP mencapai puncak mendekati US$2,35 pada 5 Januari, kelompok yang sama memegang sekitar 4,83% suplai. Begitu harga mulai melandai, mereka cepat-cepat menjual kepemilikan hampir separuh menjadi 2,15%. Gelombang jual inilah yang ikut mendorong harga XRP turun ke kisaran US$1,65 beberapa minggu setelahnya.
Sederhananya, kelompok trader ini biasanya membeli di saat harga turun dan cepat menjual begitu harga mulai naik. Mereka tidak tahan menghadapi ketidakpastian pasar.
Sekarang, mereka kembali menjadi motor utama rebound harga. Artinya, support saat ini lebih banyak berasal dari perputaran modal spekulatif, bukan kepercayaan jangka panjang. Jika harga XRP kesulitan menembus resistance, kelompok ini bisa saja buru-buru keluar dan memicu penurunan baru.
Outflow Exchange Menurun karena Pembelian Lebih Luas Melemah
Peringatan kedua datang dari data arus keluar-masuk di exchange.
Arus keluar dari exchange mencerminkan seberapa banyak aset yang keluar dari platform perdagangan. Biasanya, semakin banyak aset keluar, menandakan ada yang membeli dan ingin menyimpan jangka panjang. Sebaliknya, arus masuk menunjukkan tekanan jual. Rebound harga yang kuat umumnya didukung oleh peningkatan arus keluar saat harga turun, tanda adanya permintaan baru.
XRP menunjukkan pola sebaliknya.
Pada 31 Januari, arus keluar XRP dari exchange tercatat sebesar 31,38 juta XRP. Di awal Februari, angkanya turun tajam hingga sekitar 9,81 juta. Artinya ada penurunan hampir 70%. Hal ini terjadi saat XRP anjlok sekitar 14% dari harga puncak akhir Januari.
SponsoredAlih-alih meningkat saat harga turun, tekanan beli justru semakin melemah.
Hal ini penting karena menunjukkan hanya sebagian kecil trader yang menopang harga, yaitu kelompok spekulatif seperti yang dijelaskan tadi. Peserta pasar yang lebih luas tidak menambah porsi investasi mereka. Jadi jika holder jangka pendek mulai menjual, tidak banyak permintaan baru yang siap menyerap suplai tersebut.
Ini menimbulkan struktur yang rapuh. Harga mungkin bisa bertahan sementara, tapi daya tahannya kurang. Tanpa arus keluar yang lebih kuat, rebound harga biasanya tidak bertahan lama.
Pembeli Berkeyakinan Lemah dan Level Harga Kunci Bikin XRP Rentan
Risiko terakhir berasal dari tidak adanya investor jangka panjang dan investor “berkeyakinan tinggi”.
HODL Waves memperlihatkan kelompok yang berinvestasi lebih lama, terutama holder 2 tahun sampai 3 tahun, belum kembali masuk. Kelompok ini pernah memegang lebih dari 14% suplai XRP di akhir 2025. Saat ini angkanya turun menjadi sekitar 5,7% dan cenderung datar. Tidak ada aksi beli meski harga sempat turun drastis.
Sponsored SponsoredKelompok holder seperti ini biasanya melakukan akumulasi besar saat harga benar-benar telah jatuh dalam. Tidak munculnya mereka menjadi tanda bahwa pasar belum menilai harga saat ini cukup menarik untuk masuk jangka panjang. Kurangnya keyakinan ini sejalan dengan struktur harga XRP sekarang.
Saat ini, ada beberapa level yang menentukan prospek XRP.
Di sisi atas, US$1,69 adalah resistensi utama pertama. Jika XRP berhasil merebut kembali level ini, kepercayaan diri mulai membaik. Jika berhasil naik lagi, US$1,96 menjadi level krusial. Pergerakan harga di atas area ini bisa menantang channel penurunan dan berpeluang mengubah tren menjadi netral.
Sementara di sisi bawah, zona support penting berada di US$1,47-US$1,50. Jika level ini jebol, harga bisa turun ke US$1,25. Hal tersebut akan mengonfirmasi terjadinya breakdown channel dan membuka potensi penurunan sekitar 27% sampai serendah US$0,93. Selama XRP bergerak di antara US$1,47 dan US$1,69, ketidakpastian masih mendominasi.
Pantulan harga baru-baru ini menunjukkan tekanan jual mulai melambat. Tapi arus exchange yang lemah, perilaku holder yang terpecah, dan ketiadaan pembeli berkeyakinan tinggi masih membatasi potensi kenaikan harga.
Saat ini, kelompok trader yang menahan harga XRP tetap di atas adalah mereka yang dulu juga pernah menjual lebih awal. Jika permintaan yang lebih besar dan partisipasi jangka panjang tidak kembali, support ini bisa justru menjadi pemicu gelombang jual berikutnya semakin cepat.