Ethereum (ETH) bergerak di bawah US$2.000, membuat banyak investor merugi seiring tren bearish yang berlanjut hingga Februari 2026.
Meski kondisi melemah terus berlanjut, BitMine tetap menunjukkan pandangan bullish terhadap Ethereum. Hal ini menimbulkan pertanyaan utama: Apakah keyakinan mereka didasarkan pada narasi atau sentimen, atau ada faktor lain yang menjadi alasan kuat?
Rasa Sakit Ethereum Capai Desil ke-9: Apa Artinya untuk Harga?
Dalam sebuah unggahan panjang di X (sebelumnya Twitter), BitMine menyoroti riset dari Sean Farrell, Kepala Strategi Aset Digital Fundstrat, yang berfokus pada realized price Ethereum. Ini adalah metrik valuasi on-chain yang menggambarkan rata-rata biaya akuisisi dari seluruh koin Ethereum yang saat ini beredar.
Berdasarkan data tersebut, realized price Ethereum berada di angka US$2.241. Pada saat analisis, aset ini diperdagangkan di kisaran US$1.934.
Hal ini membuat rata-rata holder mengalami minus. Berdasarkan model Fundstrat, “kerugian untuk realized price sebesar 22%,” terang laporan itu.
Analisis ini juga membandingkan penurunan harga saat ini dengan posisi terendah di siklus sebelumnya. Pada bear market tahun 2022, Ethereum sempat diperdagangkan hingga 39% di bawah realized price. Sementara di tahun 2025, diskon tersebut menyentuh sekitar 21%.
“Jika kita terapkan ‘kerugian’ ini pada realized price ETH sekarang di US$2.241, maka didapat ‘level terendah’ untuk ETH. Berdasarkan 2022, ini berarti US$1.367. Berdasarkan 2025, ini berarti US$1.770,” papar analisis tersebut.
Melalui analisis desil, unggahan ini mengungkap bahwa penurunan harga saat ini masuk ke desil ke-9 (ekstrem tinggi). Sebagai konteks, analisis desil adalah metode kuantitatif yang biasa digunakan di statistik, keuangan, dan pemasaran untuk membagi dataset menjadi 10 kelompok dengan ukuran sama (desil) berdasarkan distribusi suatu variabel tertentu.
Data menunjukkan bahwa median return ke depan selama 12 bulan pada desil ini sekitar 81%, dengan rasio kemenangan 12 bulan sebesar 87%. Artinya, dalam kebanyakan kasus sejarah ketika ETH menyentuh level penurunan serupa, harga ETH cenderung naik satu tahun setelahnya.
“Apakah ini titik terendah? Sepertinya kita mulai mendekati level tersebut. Jika melihat lebih jauh ke depan, risiko dan potensi imbal hasil untuk ETH bersifat positif,” ujar unggahan tersebut.
Ketua BitMine, Tom Lee, sebelumnya juga menekankan bahwa penurunan tajam merupakan bagian yang sering terjadi dalam sejarah harga Ethereum. Sejak 2018, ETH telah mengalami delapan kali penurunan sebesar 50% atau lebih dari harga puncaknya, yang menunjukkan bahwa koreksi sebesar ini terjadi hampir setiap tahun.
Pada tahun 2025, Ethereum turun 64% antara Januari dan Maret. Walaupun penurunan begitu dalam, aset ini kemudian berhasil reli signifikan.
“ETH mengalami pemulihan berbentuk V dari level terendah besar. Ini terjadi di setiap dari 8 penurunan sebelumnya yang mencapai 50% atau lebih. Pemulihan serupa diperkirakan terjadi pada 2026. Peluang investasi terbaik di kripto biasanya muncul setelah penurunan. Ingat kembali 2025, momen entry terbaik di kripto justru terjadi sesudah pasar terjun tajam karena isu tarif,” ucap Lee.
Pemulihan Ethereum Bisa Jadi Kunci untuk Posisi Underwater BitMine Senilai US$7 Miliar
Jika Ethereum berhasil pulih dengan kenaikan yang signifikan, hal ini bisa jadi titik balik penting bagi para investor, terutama BitMine. Kerugian belum terealisasi perusahaan tersebut kini membengkak hingga sekitar US$7.000.000.000 menurut data CryptoQuant.
Di saat yang sama, BitMine nampaknya memperkuat sikap bullish mereka dengan terus melakukan akumulasi. Lookonchain melaporkan bahwa perusahaan ini membeli 10.000 ETH dari Kraken hari ini.
Transaksi ini terjadi setelah adanya akuisisi 35.000 ETH dalam satu hari yang jauh lebih besar. BitMine membeli 20.000 ETH dari BitGo dan 15.000 ETH dari FalconX.
Jika digabungkan, pembelian-pembelian ini menunjukkan bahwa walaupun kerugian yang belum terealisasi terus bertambah, BitMine justru bersiap untuk kemungkinan skenario kenaikan harga bukan mengurangi eksposur.