Binance Research merilis laporan yang menyimpulkan bahwa imbal hasil Bitcoin (BTC) dan minyak mentah secara statistik bersifat independen, berdasarkan data mingguan selama 10 tahun.
Laporan ini menganalisis 532 data mingguan dari tahun 2016 hingga 2026 menggunakan metode ekonometrika, termasuk pemodelan DCC-GARCH dan uji kausalitas Granger.
Satu Dekade Data Menunjukkan Korelasi Hampir Nol antara Bitcoin dan Minyak
Binance membagi sampel ke dalam empat rezim ekonomi makro. Hanya pada periode 2020 hingga 2022, saat suku bunga nol dan terjadi pelonggaran moneter yang agresif, barulah muncul korelasi positif antara BTC dan minyak.
Meski begitu, hubungan tersebut hanya menjelaskan 6,9% variasi imbal hasil mingguan Bitcoin.
Korelasi itu sendiri terjadi karena kondisi likuiditas yang sama, bukan karena ada hubungan sebab-akibat langsung.
Pada periode lainnya, koefisien korelasi tetap tidak berbeda dari nol. Tidak ada satu pun dari kedua aset ini yang menyebabkan perubahan pada yang lain, baik pada rentang satu hingga sepuluh minggu.
Krisis Hormuz Uji Ketahanan Bitcoin
Krisis Selat Hormuz pada Februari hingga Maret 2026 memberikan uji ketahanan secara langsung. Harga minyak mentah Brent melonjak +46% karena gangguan pasokan di pasar global.
Pada periode yang sama, BTC naik +15% sehingga mengungguli Nasdaq (+1%) dan emas (-3%).
BTC mengikuti pola tiga fase selama krisis tersebut. Fase awal pelemahan terjadi di hari pertama sampai ketiga, lalu bergerak sideways hingga hari ke-14, dan dilanjutkan reli mandiri mulai hari ke-15 hingga hari ke-24.
Arus bersih masuk exchange-traded fund (ETF) BTC spot mencapai +US$1,7 miliar pada periode krisis tersebut.
Pergerakan Minyak Lebih ke Volatilitas, Bukan Arah
Laporan itu menemukan bahwa guncangan harga minyak memperbesar volatilitas jangka pendek Bitcoin, tetapi tidak menentukan arah imbal hasilnya. Aliran modal institusi melalui ETF, pembelian di pasar spot AS, serta akumulasi kas perusahaan tetap menjadi faktor utama yang membentuk pergerakan BTC.
Sejarah juga memperkuat temuan ini. setelah konflik Rusia-Ukraina pada 2022, BTC sempat naik +24% dalam empat minggu sebelum anjlok akibat Terra/Luna dan Three Arrows Capital yang merupakan peristiwa kredit crypto-native dan tidak terkait pasar energi.