Co-founder Neoclassic Capital, Michael Bucella, mengatakan bahwa reli Bitcoin (BTC) terjadi karena alasan yang tidak berkaitan dengan Washington, namun lebih sebagai bagian dari pergerakan besar ke emas, franc Swiss, dan Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap depresiasi nilai mata uang.
Dalam wawancara di Power Lunch CNBC, Bucella menyoroti utang nasional AS yang telah melebihi US$40 triliun, dengan berargumen bahwa sekarang investor semakin memperlakukan aset yang langka seperti emas dan Bitcoin sebagai asuransi, bukan sekadar taruhan pada regulasi terkait aset kripto.
Reli yang Tahan Lama Meski Ada RUU yang Mandek
Digital Asset Market Clarity Act, sebuah RUU yang bertujuan untuk menentukan apakah token diatur sebagai sekuritas atau komoditas, gagal melaju di Senat bulan ini.
RUU ini sudah lolos di House pada tahun 2025, namun kemudian berhenti karena perdebatan soal otoritas penegakan hukum. Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin dan Ether (ETH) sempat mengalami dana keluar ratusan juta dolar AS setelahnya.
Bucella menuturkan bahwa reaksi tersebut ternyata hanya berlangsung singkat. Ia menyoroti ada satu hari di mana ETF Bitcoin mencatat arus masuk sekitar US$1 miliar tidak lama setelah peristiwa itu, dan ia berpendapat minat pelaku pasar kembali dengan cepat ketika sentimen berubah, tanpa memedulikan aksi Kongres.
Ia menambahkan bahwa saat ini Bitcoin juga makin mudah untuk dijadikan jaminan pinjaman seiring bermunculannya produk lending baru di dalam negeri, sehingga para holder tidak perlu menjual asetnya.
Perdagangan Swiss
Bucella berbagi cerita soal diskusinya dengan dua temannya di Swiss yang menyebutkan bahwa dengan utang US$40 triliun yang terus bertambah, lebih masuk akal untuk memegang aset yang langka dan bukan dolar, ketimbang menunggu regulasi disahkan.
“Franc kuat, emas kuat, Bitcoin kuat.”
Michael Bucella, CNBC
Perbandingan ini mencerminkan perubahan tren yang lebih luas, di mana para investor kini memposisikan Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap depresiasi mata uang, sejajar dengan emas dan mata uang kuat, bukan sekadar bertaruh pada kebijakan pemerintah AS.
Meski begitu, Bucella mengingatkan bahwa Bitcoin tetap merupakan aset berisiko secara keseluruhan, sehingga kondisi ekonomi makro yang lebih luas tetap akan mempengaruhi harga Bitcoin di samping narasi depresiasi ini.
Cara Bucella melihat situasi ini menunjukkan bahwa sebagian investor kini menilai Bitcoin berdasar risiko depresiasi mata uang, bukan semata-mata pada tenggat legislasi, dan hal ini bisa jadi lebih penting jika Kongres terus menunda voting Clarity Act.











