Jika proyeksi para bettor menjadi acuan, The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% pada 18 Maret, karena harga energi akibat perang dan ekspektasi inflasi yang meningkat membuat pengambil kebijakan serba sulit untuk bergerak.
Bitcoin (BTC) saat ini diperdagangkan di dekat US$74.000 setelah sempat menyentuh US$76.000 pada hari Selasa. Pasar telah sepenuhnya memperhitungkan skenario penahanan suku bunga, namun volatilitas masih terjadi di sekitar pengumuman suku bunga dan konferensi pers Ketua Jerome Powell.
Perang, Minyak, dan Bank Sentral dengan Tidak Ada Pilihan yang Baik
Pertemuan FOMC bulan Maret berlangsung di tengah kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memangkas sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Serangkaian serangan rudal ke Tel Aviv mendorong harga energi ke level tertinggi dalam beberapa tahun, dengan harga solar AS mencapai US$5 per galon.
Dalam situasi ini, CME FedWatch Tool menunjukkan hampir pasti suku bunga tetap, dengan probabilitas 98,9% tidak ada perubahan dan 1,1% kenaikan suku bunga.
Bank-bank besar sejalan dengan konsensus ini, seperti:
- Barclays memperkirakan dot plot akan menunjukkan satu pemotongan suku bunga 25 basis poin di 2026 serta proyeksi inflasi yang lebih tinggi.
- Bank of America memprediksi kemungkinan suara 8–2 dengan dissent dovish dari Gubernur Stephen Miran dan Christopher Waller.
- Deutsche Bank juga memperkirakan suku bunga tetap, mengingat ketidakpastian di Timur Tengah.
Pada waktu publikasi, Bitcoin diperdagangkan di harga US$74.046, setelah terkoreksi ringan dari level tertinggi intraday di US$76.000 yang tercatat pada hari Selasa.
Trader Kripto Bersiap untuk Nada Powell
Menurut analis aset kripto 0xNobler, suku bunga di bawah 3,75% bisa mendorong pasar reli secara parabola, sedangkan di atas level itu kemungkinan memicu aksi jual tajam.
Sementara itu, Max Crypto menyoroti dampak perang AS-Iran terhadap inflasi jangka pendek, menuturkan bahwa semakin hawkish sikap The Fed, maka aset berisiko bisa saja tertekan.
“Sejak perang AS-Iran pecah, ekspektasi inflasi jangka pendek terus naik… Jika dia memberi sinyal sikap yang lebih hawkish, aset berisiko bisa saja dump,” tulis Max.
Di sisi lain, analis Limitless berpendapat bahwa The Fed berada di posisi serba salah, yaitu:
- Jika mempertahankan suku bunga atau semakin hawkish, akan menguras likuiditas, namun
- Jika memberi sinyal pemangkasan, dolar akan melemah dan biaya energi bisa makin mahal.
Trader sudah memperhitungkan tidak akan ada pemotongan suku bunga sepanjang 2026, menandakan pasar memperkirakan situasi ketat bakal bertahan lama.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya
Pernyataan Powell tentang dot plot dan Summary of Economic Projections akan lebih berdampak dibanding keputusan suku bunganya sendiri.
Perubahan median dot dari satu kali pemangkasan menjadi nol di 2026 bisa membuat harga aset berisiko bergerak tajam.
Dengan harga minyak mendekati US$100 lagi, inflasi masih sulit turun, dan tidak ada acuan sejarah untuk keputusan suku bunga saat perang, langkah berikutnya dari The Fed tetap jadi faktor utama yang menggerakkan pasar kripto menuju kuartal kedua tahun ini.