Bitcoin (BTC) menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap peristiwa ekonomi makro besar, mulai dari pengumuman tarif hingga hasil pemilihan presiden AS.
Dengan tahun 2026 menjadi tahun pemilu sela di AS, perhatian kini tertuju pada apa arti siklus politik tersebut untuk aset kripto terbesar di dunia.
Tahun Pemilu Paruh Waktu Tekan Pasar dan Lalu Menghadiahi Kesabaran
Dalam laporan terbaru, Binance Research menjelaskan bagaimana tahun pemilu sela mempengaruhi aset berisiko. Menurut laporan tersebut, tahun pemilu sela menjadi masa terlemah dalam siklus pemilihan presiden empat tahunan untuk S&P 500, akibat ketidakpastian politik yang meningkat.
Secara historis, S&P 500 mengalami koreksi rata-rata dari puncak ke dasar sekitar 16%, dengan koreksi lebih dari 10% terjadi pada tujuh dari 10 siklus pemilu sela terakhir.
Bitcoin, yang memiliki korelasi kuat dengan pasar saham, rata-rata turun 56% selama tahun pemilu sela di AS.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara real-time
Data dari penelitian yang sama menunjukkan pemulihan setelah pemilu yang cukup jelas. Dalam 12 bulan setelah pemilu sela, S&P 500 rata-rata naik sekitar 19%. Sementara Bitcoin pulih lebih drastis lagi dengan kenaikan sekitar 54% di periode yang sama.
Polanya mencerminkan dinamika yang lebih luas. Ketidakpastian politik menurunkan minat terhadap aset berisiko, dan saat ketidakpastian itu berakhir, investor kembali mengalokasikan dana ke aset dengan volatilitas tinggi seperti BTC.
“Setelah hasil pemilu diketahui dan ketidakpastian terjawab, pasar secara historis selalu mengalami reli yang kuat,” terang laporan tersebut.
Analis Sepakat pada Titik Terendah Bitcoin di Akhir 2026
Sementara itu, seorang analis kripto mengamati bahwa tiga tahun pemilu sela terakhir (2014, 2018, dan 2022) secara kebetulan juga merupakan “tahun bear market bagi Bitcoin.” Ia menambahkan bahwa secara historis, Bitcoin selalu mencapai titik terendah sekitar atau tak lama setelah pemilu November.
“Pemilu sela 2026 berlangsung pada bulan November. Pola ini tidak menjamin akan terjadi crash, tapi artinya jangan berharap pasar langsung menyentuh dasar sebelum periode itu,” ujar analis tersebut.
Perkiraan waktu ini juga sejalan dengan sejumlah prediksi lain. Baru-baru ini, analis on-chain Willy Woo memperkirakan tren bearish akan berakhir pada kuartal empat 2026. Satu analis bahkan memproyeksikan Bitcoin bisa turun sampai US$30.000 di akhir 2026, sebelum kembali reli selama beberapa tahun selanjutnya.
Analisis dari CryptoQuant mempersempit perkiraan waktu, memperkirakan pasar akan mencapai dasarnya antara Juni hingga Desember 2026, dengan periode paling memungkinkan terjadi antara September sampai November.
Secara keseluruhan, hasil data historis dari Binance Research, data on-chain CryptoQuant, serta prediksi waktu dari analis, semua mengarah ke satu arah yang sama. Jika pola tersebut berlanjut, paruh kedua tahun 2026, khususnya di sekitar bulan November saat pemilu sela, bisa menjadi titik balik penting untuk Bitcoin.
Meski demikian, tidak ada jaminan bahwa pola ini akan berlaku juga tahun ini. Pasar selalu merespons kombinasi kebijakan moneter, peristiwa risiko global, dan pemicu khusus kripto yang bisa saja berbeda setiap siklusnya.
Berlangganan channel YouTube kami untuk menyaksikan pemimpin industri dan jurnalis berbagi wawasan ahli