Penghubung komunitas Chainlink (LINK), Zach Rynes, memperuncing perseteruan lama dengan pendukung XRP, mempertanyakan apakah strategi perusahaan Ripple benar-benar menguntungkan para holder token.
Pertikaian ini memuncak pada pertengahan Maret 2026, beberapa hari setelah Ripple meluncurkan program buyback saham senilai US$750 juta yang menilai perusahaan itu pada angka US$50 miliar.
Tokenomics Picu Api Persaingan Chainlink vs XRP
Rynes berargumen bahwa Ripple menjual XRP untuk mendanai produk-produk yang keuntungannya justru mengalir ke pemegang saham, bukan kepada para holder token. Ia menyoroti buyback senilai US$750 juta itu sebagai bukti bahwa holder XRP mensubsidi keuntungan korporasi tanpa memperoleh manfaat langsung.
“Jadi Ripple menggunakan hasil penjualan XRP untuk membiayai buyback saham Ripple Labs itu bagus untuk para holder XRP karena itu membuat harga XRP turun… itu argumenmu?” ujar Rynes .
Ia juga mempertanyakan tesis “standar XRP”, dengan menegaskan bahwa stablecoin yang didukung oleh USD kini menjadi aset jembatan utama untuk trading aset kripto dan pembayaran.
XRP Ledger, lanjutnya, hanya menguasai kurang dari 1% pasar aset dunia nyata dan di bawah 0,01% dari total pasokan stablecoin.
Secara terpisah, Rynes juga mengecam seorang influencer XRP dengan lebih dari 400.000 pengikut karena mengganti logo Chainlink dengan logo XRP pada grafik yang menunjukkan kemitraan institusional bersama Swift, DTCC, dan Coinbase.
Komunitas XRP Melawan Balik
Validator XRP, Vet, menggambarkan pertukaran argumen ini sebagai bentuk pelampiasan dari pendukung Chainlink terhadap XRP.
Beberapa pendukung XRP lainnya mengangkat kenaikan harga sepanjang masa token tersebut dan menganggap kritik Rynes hanyalah luapan persaingan semata.
Bersaing untuk Narasi Institusi
Persaingan ini mencerminkan perebutan peran yang lebih luas soal posisi aset kripto dalam keuangan bertokenisasi. Chainlink menunjuk pada integrasi terverifikasi dengan Swift, DTCC, dan JPMorgan.
Pendukung XRP membalas dengan menyoroti transaksi Ripple yang sudah memproses US$100 miliar dan aliran masuk ETF yang bertumbuh hingga mencapai US$1,44 miliar pada awal Maret.
Pengamat netral menilai bahwa kedua proyek ini memang memiliki fungsi yang berbeda. Chainlink menyediakan infrastruktur oracle dan interoperabilitas, sedangkan XRP berfokus pada solusi settlement lintas negara.
“Saat ini, Chainlink punya bukti yang lebih kuat dan insentif yang sejalan. Ripple punya skala dan status mapan di pembayaran. Pilih racunmu sendiri, tapi jangan minum Kool-Aid tribal,” terang Juxa Meta .
Kedua komunitas ini terus bersaing untuk mendominasi narasi adopsi institusi, sehingga perdebatan teknis pun berubah menjadi tontonan di media sosial.
Pada waktu publikasi, XRP diperdagangkan di harga US$1,4838, naik lebih dari 5% dalam 24 jam terakhir. Di sisi lain, LINK diperdagangkan pada level US$9,70, juga naik di atas 5% dalam sehari terakhir.