Kembali

The Binance Playbook: Kenapa Crypto Twitter Membenci Exchange Terbesar?

author avatar

Ditulis oleh
Kamina Bashir

editor avatar

Diedit oleh
Mohammad Shahid

31 Januari 2026 03.41 WIB
  • Crypto Twitter telah menghidupkan kembali klaim penipuan dan manipulasi terhadap Binance, mengaitkan gangguan platform dan likuidasi pada 10 Oktober dengan dugaan kegagalan struktural, bukan semata-mata karena koreksi yang dipicu oleh faktor ekonomi makro.
  • Binance membantah melakukan kesalahan, dengan menyoroti stabilitas sistem, tinjauan internal, dan lebih dari US$600 juta dalam bentuk kompensasi serta langkah dukungan, sementara beberapa tuduhan awal kemudian dicabut.
  • Kritik tersebut muncul kembali pada Januari 2026 karena pasar tetap lemah, dengan sejumlah tokoh industri berpendapat bahwa deleveraging pada Oktober telah menyebabkan kerusakan jangka panjang meskipun tidak ada bukti manipulasi yang meyakinkan.
Promo

Crypto Twitter kembali marah. Kali ini, targetnya adalah pihak yang sudah dikenal: Binance, exchange aset kripto terbesar di dunia, serta co-founder-nya, Changpeng Zhao (CZ).

Dalam beberapa hari terakhir, tuduhan-tuduhan besar memenuhi linimasa Twitter (atau X), dengan beberapa pengguna menyebut CZ “penipu” dan menuntut agar ia “dikirim kembali ke penjara.” Lantas, sebenarnya apa yang mendasari tuduhan terbaru ini, dan sejauh mana hal itu didukung bukti yang bisa diverifikasi?

Crash Pasar Oktober: Apa yang Terjadi?

Salah satu tuduhan paling serius yang menghadang Binance berawal dari Oktober, pada saat yang kini dikenal dengan sebutan “Crypto Black Friday.”

Pada 10 Oktober, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif 100% dan kontrol ekspor yang menyasar Cina. Pengumuman ini langsung mengguncang pasar global, hingga aset-aset berisiko anjlok tajam.

Dunia kripto pun ikut terdampak. BeInCrypto melaporkan Bitcoin turun sekitar 10%. Altcoin utama seperti Ethereum (ETH), XRP (XRP), dan BNB (BNB) juga jatuh lebih dari 15%.

Kecelakaan Pasar Kripto pada 10 Oktober.
Kecelakaan Pasar Kripto pada 10 Oktober | Sumber: TradingView

Dalam waktu 24 jam, lebih dari US$19 miliar posisi leverage terlikuidasi, menandai peristiwa likuidasi terbesar yang pernah tercatat oleh firma analisis data kripto, CoinGlass.

Pada awalnya, kejatuhan ini dipandang sebagai kepanikan pasar secara luas yang dipicu oleh berita ekonomi makro. tapi, para pelaku pasar segera mempertanyakan apakah kejatuhan tersebut murni organik.

Sponsored
Sponsored

Di media sosial, para trader menduga bahwa besarnya dan cepatnya likuidasi menunjukkan sesuatu yang lebih terkoordinasi dibanding aksi jual biasa. Fokus pun cepat mengarah ke Binance.

Mengapa Binance Menjadi Fokus Utama

Saat fase terburuk kejatuhan terjadi, para pengguna Binance melaporkan akun yang dibekukan dan perintah stop-loss yang gagal, serta sulitnya mengakses platform. Bahkan, beberapa trader mengamati adanya flash crash singkat yang membuat aset seperti Enjin (ENJ) dan Cosmos (ATOM) hampir menyentuh nol.

BeInCrypto melaporkan bahwa tiga aset yang listing di Binance, termasuk USDe, wBETH, dan BNSOL, sempat kehilangan peg-nya secara sementara di tengah kekacauan tersebut.

Binance secara terbuka mengakui adanya gangguan saat peristiwa itu terjadi. Exchange tersebut menyebutkan “aktivitas pasar yang sangat padat” sebagai penyebab keterlambatan sistem, juga masalah tampilan, sambil menegaskan dana pengguna tetap SAFU.

Meskipun demikian, penjelasan ini tidak bisa menenangkan seluruh kritikus. Beberapa pengguna menuduh Binance diuntungkan oleh pembekuan perdagangan, dan menyangka gangguan tersebut memberi exchange keuntungan saat volatilitas pasar sedang tinggi-tingginya.

Apakah Strategi Kompensasi Binance Berhasil?

Pada 12 Oktober, Binance merilis pernyataan setelah melakukan tinjauan internal terhadap insiden tersebut. Menurut exchange ini, mesin pencocokan perdagangan spot inti dan Futures, serta perdagangan API, tetap berjalan normal. 

“Berdasarkan data, volume likuidasi paksa yang diproses oleh platform Binance hanya mencakup proporsi yang relatif rendah dari total volume perdagangan, menandakan bahwa volatilitas ini terutama didorong oleh kondisi pasar secara keseluruhan,” terang exchange tersebut dalam laporannya.

Meski begitu, Binance mengakui bahwa beberapa modul di platformnya sempat mengalami kendala teknis singkat setelah pukul 21:18 UTC tanggal 10 Oktober, serta beberapa aset mengalami de-pegging akibat gejolak pasar ekstrem.

Binance menyebutkan bahwa mereka telah menyelesaikan kompensasi kepada pengguna yang terdampak dalam waktu 24 jam, dengan mendistribusikan sekitar US$283 juta dalam dua tahap.

Dua hari kemudian, pada 14 Oktober, Binance meluncurkan inisiatif dukungan senilai US$400 juta. Paket ini berisi voucher penggantian US$300 juta untuk trader yang memenuhi syarat, dan dana sisanya diberikan untuk pinjaman institusi dengan bunga rendah.

Walaupun Binance menjadi pusat protes dari komunitas, exchange ini bukanlah satu-satunya platform yang terdampak di tengah kejatuhan tersebut. Exchange besar lain seperti Coinbase dan Robinhood juga melaporkan adanya gangguan layanan. 

Aktivitas perdagangan Bitcoin di Coinbase juga diawasi publik, meski belum ada bukti yang mengaitkannya dengan manipulasi pasar maupun sebagai pemicu kejatuhan.

Patut dicatat bahwa pengawasan publik berlanjut di beberapa minggu setelah crash; beberapa klaim sebelumnya kemudian ditinjau ulang. Salah satu trader yang pernah menuduh Binance secara terbuka akhirnya mencabut pernyataan tersebut. 

Setelah meninjau data teknis yang diberikan oleh exchange, trader itu mengatakan log Binance menunjukkan tidak ada kesalahan sistem. Ia kemudian menghapus postingan aslinya, dan menyampaikan ia tidak ingin menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

“Argumen utama saya adalah bahwa ‘order API gagal, dan order reduce-only mengembalikan error 503.’ Namun, tim teknis Binance memberikan log lengkap saat pertemuan kami, yang menunjukkan bahwa order reduce-only sebenarnya tidak pernah mengalami error 503. Sebuah perusahaan investasi yang terhubung dengan teman saya juga ikut dalam investigasi. Tim pengelola akun utama dan staf yang bertanggung jawab meninjau log global dan memastikan tidak ada error 503 untuk order reduce-only,” terang unggahan tersebut.

Mengapa Backlash Terhadap Binance Muncul Lagi di Januari 2026

Untuk sementara waktu, masalah ini sepertinya sudah mereda. Tapi ketika 2026 tiba, isu ini kembali mencuat. Hal ini sangat berkaitan dengan kinerja pasar aset kripto dalam beberapa bulan setelah Oktober.

Sponsored
Sponsored

Setelah peristiwa deleveraging besar-besaran itu, pasar tetap tertekan. Bitcoin dan Ethereum menyerahkan seluruh kenaikan yang mereka dapatkan di 2025, dan menutup tahun dalam zona merah. Para ahli pasar semakin sering menunjuk ke kejatuhan bulan Oktober sebagai faktor utama di balik performa sektor kripto yang lesu.

“Telah terjadi deleveraging besar-besaran…beberapa exchange dan market maker…jadi industri ini seolah berjalan pincang, tapi fundamentalnya sudah banyak membaik,” komentar Chairman BitMine Tom Lee.

Diskusi makin ramai setelah CEO Ark Invest, Cathie Wood, memberikan komentar terbaru. Dalam wawancara bersama Fox Business, ia mengatakan:

“Apa yang kita alami dalam 2-3 bulan terakhir adalah getaran setelah 10/10…10 Oktober….merupakan flash crash yang berkaitan dengan glitch software di Binance yang menyebabkan sistem deleverage, dan jumlahnya mencapai US$28 miliar, banyak orang yang terdampak,” ucapnya.

Tak lama kemudian, sejumlah tokoh industri juga mulai angkat suara. Star Xu, pendiri OKX, berpendapat bahwa masyarakat “meremehkan dampak 10/10,” di mana ia menegaskan bahwa crash tersebut membawa “kerusakan nyata dan berkepanjangan” bagi industri kripto.

Menurut dia, sebuah perusahaan terdepan di industri harus mengutamakan infrastruktur inti, kepercayaan dengan pengguna dan regulator, serta kesehatan jangka panjang ekosistem. Tanpa menyebut nama perusahaan tertentu, Xu membandingkan ideal tersebut dengan apa yang ia gambarkan sebagai semakin besarnya fokus pada keuntungan jangka pendek.

“Sebaliknya, ada pihak yang memilih mengejar keuntungan jangka pendek—berulang kali meluncurkan skema mirip ponzi, memperbesar narasi ‘cepat kaya’, dan secara langsung atau tidak langsung memanipulasi harga token berkualitas rendah, menarik jutaan pengguna ke aset yang berhubungan erat dengan mereka. Cara ini digunakan sebagai jalan pintas untuk mendatangkan trafik dan perhatian pengguna. Kritik yang sah akhirnya terkubur—bukan karena fakta atau pertanggungjawaban, melainkan lewat kontrol narasi yang agresif dan kampanye terkoordinasi dari influencer,” tambah eksekutif itu dalam unggahannya.

Binance Hadapi Tuduhan dari Trader

Para pengamat pasar mulai membagikan apa yang mereka sebut sebagai bukti dugaan kesalahan Binance.

Pada sebuah unggahan di X (dulu Twitter), Star Platinum menyoroti pengumuman Binance tanggal 6 Oktober bahwa mereka akan melakukan update sumber harga untuk BNSOL dan wBETH, yang dijadwalkan pada 14 Oktober.

StarPlatinum juga mengklaim bahwa lebih dari US$10 miliar berpindah dalam 24 sampai 48 jam sebelum peristiwa tersebut, termasuk arus masuk besar USDT dan USDC ke hot wallet exchange.

Analis tersebut juga menyoroti arus USDe yang terhubung dengan wallet yang mereka label sebagai milik Binance. Ia membandingkan situasi Binance dengan Coinbase, dan menyatakan:

“Coinbase tidak melakukan listing pada mata rantai lemah (USDe / wBETH / BNSOL) tapi melakukan dua hal: memindahkan 1.066 BTC dari cold ke hot wallet beberapa menit sebelum cascade (US$130 juta di harga sebelum crash). Saat harga anjlok, arus besar yang tak bisa terisi di Coinbase nampaknya dialihkan keluar lewat market maker (diversi gaya Prime). Nilai tukar cbETH di Coinbase tetap stabil; wBETH di Binance ambruk,” paparnya.

StarPlatinum juga menyebut kalau perusahaan market-making besar seperti Wintermute dan Jump nampaknya membatasi aktivitas pada USDe, wBETH, dan BNSOL selama masa gejolak ekstrem tersebut.

Sponsored
Sponsored

“Menarik bid dari buku-buku order tersebut saat Binance menandai aset jaminan dari buku itu, dan mesin likuidasi justru menghancurkan dirinya sendiri,” ujar sang analis.

Mereka juga menuduh adanya akun baru yang berhasil membangun posisi short BTC dan ETH secara notional hingga sekitar US$1,1 miliar dalam dua jam terakhir sebelum crash terjadi, dengan satu posisi ETH meningkat sekitar satu menit sebelum unggahan kunci, dan menghasilkan perkiraan keuntungan sekitar US$160 juta hingga US$200 juta.

Pengguna lain menuduh Binance telah memanipulasi waktu likuidasi. Menurutnya, Binance mengumumkan setelah crash bahwa mereka akan memberi kompensasi untuk likuidasi yang memenuhi syarat jika terjadi setelah pukul 05.18 (UTC+8).

Namun, trader tersebut mengungkapkan bahwa likuidasinya tercatat di platform pada pukul 05.17:06, sehingga tidak memenuhi syarat kompensasi.

Trader itu berargumen bahwa waktu ini bertentangan dengan email sistem otomatis yang menampilkan waktu pemicu likuidasi pada 05.20:08 (UTC+8), beda sekitar tiga menit.

“Email otomatis, tidak bisa dimanipulasi ini adalah bukti yang paling kuat. Inilah inti kripto: Kode adalah Hukum,” papar unggahan tersebut.

Pengguna Tuduh Binance Manipulasi Timestamp
Pengguna Tuduh Binance Manipulasi Timestamp | Sumber: X/Mr_CryptoWhale

Sementara itu, pernyataan resmi dari Binance menyebutkan rentang waktu yang berbeda:

“Semua pengguna Futures, Margin, dan Loan yang memegang USDE, BNSOL, serta WBETH sebagai jaminan dan terdampak oleh depeg antara 2025-10-10 pukul 21:36 dan 22:16 (UTC) akan menerima kompensasi, beserta biaya likuidasi yang timbul,” terang exchange tersebut dalam pengumuman resminya.

Crypto Twitter Ramai dengan Tuduhan “Scammer” terhadap CZ

Ketika tuduhan ini mulai beredar, suasana di media sosial pun dengan cepat memanas. Pengguna mulai membagikan unggahan-unggahan panjang yang menyebut CZ sebagai “penipu” serta menuduh dirinya dan Binance menyalahgunakan dominasi pasar mereka secara sistematis hingga merugikan kompetitor dan trader ritel.

Beberapa unggahan semakin ramai, bahkan menjadi viral seiring anggota komunitas yang memperkuat tuduhan dan menunjukkan dukungan. Semakin banyak keterlibatan, tuduhan tersebut kian sering muncul di linimasa Crypto Twitter.

Dalam wawancara bersama BeInCrypto, Ray Youssef, CEO NoOnes, menggambarkan Binance sebagai alat yang berpihak ke AS demi agenda yang ia sebut sebagai “kontrol penghancuran pasar” aset kripto.

Youssef berpendapat bahwa Zhao sekarang sudah berpihak pada kekuatan besar di AS, yang menurutnya menjadi pengendali utama yang memengaruhi arah Binance.

Bagi Youssef, kedekatan Binance dengan Amerika Serikat menjadi hal yang patut diwaspadai. Ia mengklaim exchange tersebut kini telah menjadi aset yang dikendalikan dan bisa digunakan untuk memicu atau mempercepat gejolak pasar yang lebih luas.

“Binance sekarang menjadi FTX berikutnya atau justru seperti apa yang FTX seharusnya lakukan…Saat CZ meledakkan gelembung FTX, dampaknya hanya sekitar 1% dari apa yang negara rencanakan. Sekarang, mereka akan menggunakan Binance dan membuat ‘bangkai’ itu meledak di depan wajah kita,” papar Youssef kepada BeInCrypto.

Sponsored
Sponsored

Kritik juga mengarah pada pernyataan terbaru Zhao soal strategi beli dan tahan.

“Selama bertahun-tahun saya melihat banyak strategi trading berbeda, dan sangat sedikit yang bisa mengalahkan strategi sederhana ‘beli dan tahan’, yang juga saya lakukan. Bukan saran finansial,” tulis CZ dalam unggahannya.

Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman. Para pengkritik menyoroti performa aset kripto yang listing di Binance, dan menyebut banyak token yang telah kehilangan nilai signifikan, sehingga mempertanyakan apakah strategi beli dan tahan realistis untuk pengguna ritel.

“Exchange penipu terbesar yang pernah ada, semua proyek seharusnya mengajukan delisting dari binance,” tegas seorang analis dalam unggahannya.

namun, laporan BeInCrypto menunjukkan bahwa kelemahan tersebut tidak bersifat khusus pada exchange tertentu. Token kripto yang listing di berbagai platform utama pada tahun 2025 memang mengalami kesulitan untuk mempertahankan performa harga positif.

Tren tersebut terjadi di semua exchange dan mencerminkan penurunan pasar secara luas, bukan karena adanya permasalahan di satu platform trading saja.

Tidak hanya itu. Pengguna juga menuduh Binance menjual Bitcoin hari ini di tengah koreksi pasar.

Binance dan CZ Beri Tanggapan di Tengah Kritik di Crypto Twitter

Meski demikian, di tengah besarnya protes, Binance segera mengambil langkah untuk menunjukkan kekuatan. Exchange ini mengumumkan rencana mengonversi seluruh cadangan SAFU senilai US$1 miliar dari stablecoin menjadi Bitcoin dalam 30 hari ke depan.

Dalam surat terbuka kepada komunitas, Binance menegaskan bahwa mereka “senantiasa memegang standar tinggi” dan “terus berbenah berdasarkan masukan” dari pengguna maupun publik yang lebih luas.

Exchange tersebut mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, mereka terus berinvestasi dalam kontrol risiko, kepatuhan, dan pengembangan ekosistem, dengan menyoroti beberapa hal berikut:

  • Binance mengungkapkan telah membantu memulihkan dana sebesar US$48 juta dari 38.648 deposit pengguna yang salah.
  • Mereka juga menambahkan bahwa telah membantu 5,4 juta pengguna dan mencegah potensi kerugian akibat penipuan sekitar US$6,69 miliar.
  • Binance menuturkan bahwa kerja sama dengan penegak hukum telah berkontribusi pada penyitaan dana ilegal sebesar US$131 juta.
  • Mereka menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025, listing spot mencakup 21 blockchain, dipimpin oleh Ethereum, BNB Smart Chain, dan Solana.
  • Mereka juga melaporkan Proof of Reserves dengan total US$162,8 miliar di 45 aset kripto.

Respon pribadi juga muncul. CZ menanggapi secara terbuka, mengesampingkan tuduhan terbaru sebagai siklus yang sudah biasa.

“Bukan pertama kali, juga bukan yang terakhir. Sejak hari pertama sudah menerima serangan FUD. Akan saya bahas di AMA malam ini, coba lihat di balik permukaannya mengapa dan bagaimana,” ujar CZ.

Peninjauan ulang terhadap Binance ini mencerminkan lebih dari sekadar satu peristiwa atau serangkaian klaim. Situasi ini menyoroti betapa kepercayaan terhadap aset kripto masih sangat rapuh setelah bertahun-tahun volatilitas, keruntuhan akibat leverage, dan kegagalan besar di industri.

Di pasar yang masih berjuang untuk pulih, pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab cenderung muncul kembali.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori