Ancaman Terbesar Bitcoin Nampaknya Bukan Datang dari Penjualan Mendadak, Tapi dari Fase Stagnasi Berkepanjangan, Ujar CEO CryptoQuant, Ki Young Ju.
Peringatan ini muncul ketika adopsi institusi makin meluas namun antusiasme investor kian sulit bertahan.
Apa Itu Risiko Kebosanan pada Bitcoin?
Risiko kebosanan pada Bitcoin adalah periode harga datar yang berkepanjangan dan perlahan-lahan melemahkan keyakinan investor hingga partisipasi pasar pun turun. Tidak seperti koreksi tajam, stagnasi secara diam-diam dapat mengikis narasi, menahan permintaan, dan membatasi terbentuknya modal baru.
Ki Young Ju menilai bahwa volatilitas jarang menjadi kekuatan paling berbahaya bagi Bitcoin. Secara historis, penurunan signifikan sering justru diikuti gelombang optimisme dan arus dana baru. Ketika pasar bergerak sideways dalam waktu lama, kondisi ini menciptakan dinamika berbeda karena mengurangi keterlibatan emosional dan membuat peluang kenaikan terasa kurang mendesak.
“Dulu, Bitcoin seharusnya menjadi emas digital, namun saat perlu berperan layaknya emas, seringkali malah diperdagangkan seperti saham teknologi. Bitcoin seharusnya menjadi uang kemerdekaan yang dibangun oleh cypherpunk, namun kini banyak Bitcoin OG justru mempromosikan koin lain. Di saat AI berkembang, kekhawatiran terkait quantum computing pun makin sulit diabaikan. Saya tetap percaya bahwa potensi dana yang dapat masuk ke Bitcoin sangat besar. Saya juga yakin semakin banyak institusi keuangan akan masuk, dan Bitcoin akan terus naik dalam jangka panjang,” ujar CEO CryptoQuant di X.
Harga Bitcoin saat ini kurang dari US$62.500 setelah anjlok dari puncak di atas US$126.000, menurut data dari CoinGecko. Meski stabilitas harga terkesan positif di permukaan, Ju percaya periode panjang tanpa pergerakan signifikan justru dapat menimbulkan tekanan struktural.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Kekhawatiran ini lebih dari sekadar sentimen. Strategi institusi makin mengandalkan keyakinan yang berkelanjutan serta akses ke modal. Strategy, yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, membangun model ekspansi Bitcoin dengan mengumpulkan dana lewat produk finansial canggih yang terkait optimisme pasar.
Tekanan terakhir terhadap saham preferen STRC memicu pertanyaan baru, apakah akumulasi institusi akan tetap menarik jika Bitcoin masuk fase jenuh berkepanjangan dan minim gairah.
Menurut Ju, pasar yang stagnan membuat premi turun, partisipasi menipis, dan secara perlahan menghilangkan urgensi yang selama ini menopang adopsi.
“Struktur STRC Saylor menjadi sangat berisiko bukan saat Bitcoin anjlok, tapi justru ketika Bitcoin bergerak sideways selama bertahun-tahun dan bear market berkepanjangan. Penurunan tajam masih bisa dilewati bila pasar masih percaya akan ada reli berikutnya. Namun stagnasi yang lama menghancurkan narasi. Permintaan melemah, premi MSTR tertekan, dan mesin penggalangan modal Saylor jadi makin sulit dipertahankan,” sorot Ki Young Ju.
Mengapa Bitcoin Mungkin Butuh Narasi Baru
Pertumbuhan Bitcoin selama ini didukung oleh berbagai narasi yang berhasil menarik perhatian luas. Gagasan “emas digital” membuat investor memburu kelangkaan dan perlindungan dari inflasi.
Visi cypherpunk memikat mereka yang mengejar kemandirian finansial dan desentralisasi. Akhir-akhir ini, kehadiran exchange-traded fund (ETF) spot dan pembicaraan seputar cadangan strategis menambah kepercayaan institusi.
Ju menilai sebagian besar narasi tersebut sudah matang. Kini, kerangka kerja institusi terus berkembang. Konsep seperti perbankan Bitcoin dan kredit digital menambah argumen investasi yang kompleks. Namun, narasi ini belum tentu bisa sekuat gagasan awal dalam menjangkau investor ritel.
“…Jadi, narasi apa yang siap dibawa Bitcoin untuk gelombang likuiditas selanjutnya? Apakah orang benar-benar yakin dengan narasi kredit digital dari Saylor? Meskipun institusi finansial percaya dan Bitcoin naik karenanya, sulit rasanya mengatakan Bitcoin masih tumbuh karena nilai-nilai cypherpunk. Bitcoin bukan hanya butuh katalis baru. Bitcoin butuh pusat gravitasi baru yang bisa mengumpulkan para pendukung lagi,” ucap CEO CryptoQuant.
Kesenjangan ini penting karena pasar tidak hanya bergerak karena modal semata. Pasar juga tumbuh dari keyakinan, partisipasi, dan relevansi budaya.
Belakangan, diskusi di komunitas aset kripto makin mencerminkan kecemasan bahwa permintaan institusi tidak bisa sepenuhnya menggantikan antusiasme pasar secara luas. Jika partisipasi ritel terus lesu, bahkan pembelian korporasi besar sekalipun bisa jadi kesulitan mendongkrak reli yang berkelanjutan.
“BTC mulai kehilangan kekuatan. Channel naik yang mendukung harga selama dua minggu terakhir sedang mengalami breakdown. Jika breakdown ini berlanjut, BTC bisa bergerak menuju zona support US$53.000. Untuk saat ini, bear masih menguasai pasar. Bull perlu segera merebut kembali channel tersebut, jika tidak penurunan lanjutan mungkin akan terjadi,” peringatan analis Master of Crypto Master of Crypto.
Pada saat yang sama, Ju tetap memegang pandangan jangka panjang yang konstruktif. Dana besar masih berada dalam posisi kurang terekspos ke Bitcoin, dan adopsi institusional pun terus berkembang. Tantangannya adalah membangun narasi yang bisa menghubungkan investor profesional dan peserta sehari-hari secara bersamaan.
Fase berikutnya untuk Bitcoin mungkin tidak lagi soal bertahan dalam volatilitas, melainkan soal menemukan kembali relevansi.
Berlangganan ke channel YouTube kami untuk menonton para pemimpin dan jurnalis memberikan wawasan ahli









