Pendiri Telegram, Pavel Durov, menuduh otoritas Uni Eropa dan Inggris menawarkan kesepakatan rahasia kepada para CEO media sosial untuk menekan perbedaan pendapat, mengklaim kalau “perlindungan anak” hanyalah dalih untuk sensor. Pemilik X (dulu Twitter), Elon Musk, secara terbuka mendukungnya.
Pernyataan Durov ini muncul di hari yang sama ketika jaksa Prancis memanggil Musk untuk wawancara sukarela terkait tuduhan bahwa X memfasilitasi materi pelecehan anak dan deepfake.
Durov Klaim Regulator Gunakan Anak-anak Sebagai Tamu PR
Dalam serangkaian unggahan, Durov memaparkan apa yang ia sebut sebagai pola yang terjadi di berbagai pemerintahan Eropa. Ia menuduh bahwa otoritas awalnya mendekati para CEO platform dengan tawaran kesepakatan informal untuk membatasi konten.
Bagi yang menolak, mereka akan menghadapi proses pidana yang dibenarkan dengan hukum perlindungan anak.
“Saat orang menolak, mereka bilang ini ‘demi anak-anak’. ‘Melindungi anak-anak’ jadi tameng hukum dan PR yang umum dipakai,” papar Durov .
Selain itu, Durov menilai retorika tentang keselamatan anak-anak ini memanfaatkan naluri orang tua untuk menyingkirkan pola pikir kritis soal pengawasan dan hak digital.
Durov sendiri pernah ditangkap di bandara Paris pada Agustus 2024 dan didakwa dalam 12 kasus, termasuk dugaan keterlibatan menyebarkan materi eksploitasi anak.
Larangan bepergiannya dicabut pada November 2025, meski penyelidikan masih berlanjut. Ia baru-baru ini juga mengungkapkan kalau ia menghadapi lebih dari selusin tuduhan, di mana masing-masing tuduhan bisa berujung hukuman hingga 10 tahun penjara.
Musk menanggapi dengan menyetujui kritik Durov tersebut. Ia juga secara terpisah menyebut investigasi Prancis terhadap X sebagai “serangan politik.”
Departemen Kehakiman AS menolak permintaan bantuan dari Prancis dan menyebut permintaan itu sebagai upaya untuk “menjerat Amerika Serikat ke dalam proses pidana bermuatan politik.”
Peristiwa ini terjadi setelah Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menggelar pertemuan pada 16 April di Downing Street, di mana ia memperingatkan pejabat eksekutif dari X, Meta, Snap, YouTube, dan TikTok bahwa melarang anak-anak dari platform mereka akan “lebih baik daripada dunia di mana risiko menjadi harga” atas penggunaan media sosial.
“Saya tahu para orang tua khawatir soal media sosial dan dampaknya untuk keselamatan anak-anak mereka. Mereka memang berhak menuntut tindakan cepat. Hari ini, saya meminta para pimpinan X, Meta, Snap, YouTube, dan TikTok untuk mengambil langkah tegas. Saya akan melakukan apa pun demi menjaga anak-anak tetap aman di dunia maya,” ucap Starmer .
Apakah regulator Eropa benar-benar melindungi anak-anak atau justru memperbesar kontrol atas platform digital sepertinya akan tetap menjadi perdebatan, sementara penyelidikan Prancis terhadap X dan kasus Durov terus berjalan dalam beberapa bulan ke depan.





