Institusi besar kini menggunakan kripto dengan akses yang dikontrol. Banyak perusahaan finansial besar memakai sistem on-chain untuk repo, aktivitas treasury, dan manajemen kas di lingkungan yang dibangun khusus agar patuh aturan serta berbasis perizinan. Sementara itu, public DeFi masih menawarkan likuiditas, pasar non-stop, dan keuangan yang bisa diprogram. Pada tahun 2026, dua sistem ini mulai saling terhubung.
Pengaturan ini menciptakan pasar on-chain dengan pengguna, alat, dan prioritas yang berbeda-beda. Jaringan berbasis izin memberi institusi kendali dan pengawasan, sedangkan public chain menawarkan likuiditas dan aplikasi yang tetap ingin dijangkau institusi.
Tokenisasi treasury juga semakin populer sebagai aset berisiko rendah untuk modal yang patuh aturan, namun penyelesaian lintas negara tetap bergantung pada kemampuan sistem hukum dan kepatuhan untuk bekerja di berbagai yurisdiksi. Pengguna ritel masuk lewat aplikasi fintech untuk mengakumulasi aset, sementara holder kripto sebelumnya kini lebih fokus menjaga nilai aset mereka.
Untuk menelusuri ke mana arah perkembangan ini, BeInCrypto berbincang eksklusif dengan Federico Variola, CEO Phemex, Fernando Lillo Aranda, Direktur Marketing di Zoomex, dan Pauline Shangett, CSO di ChangeNOW.
Permissioned Chain Tetap Butuh Likuiditas Publik
Koneksi TradFi ke public DeFi terbentuk lewat gerbang yang terkontrol. Institusi ingin akses ke likuiditas on-chain dan settlement, namun mereka juga membutuhkan pemeriksaan identitas, izin, serta kendali kepatuhan. Akibatnya, pasar kini membangun sistem tempat peserta yang teregulasi bisa beroperasi di lingkungan terbatas tapi masih terhubung ke public chain.
Shangett menyampaikan bahwa jurang antara jaringan institusi privat dan open DeFi saat ini mulai berubah ke model yang lebih terhubung. Ia berpendapat:
“Selama bertahun-tahun, banyak orang mengira chain institusi berbasis izin dan public DeFi itu seperti minyak dan air. Satunya untuk kepatuhan, satunya lagi untuk likuiditas nyata. Namun kenyataannya, mereka sedang membangun jalur penghubung, bukan sekadar mencampurkan.”
Avalanche jadi salah satu contoh. Upaya Evergreen lewat Spruce telah mereka gunakan dalam pengujian tokenisasi, sementara Avalanche Warp Messaging memungkinkan komunikasi antar lingkungan berbasis Avalanche. ZKsync juga mengusung ide serupa lewat sistem enterprise yang terhubung ke Ethereum.
Hasilnya, pasar memunculkan skema di mana institusi bisa terhubung dengan aset kripto publik tanpa harus kehilangan kontrol atas akses, pihak lawan transaksi, dan tata kelola.
Tokenized Treasuries Menjadi Tolak Ukur, tapi Bukan untuk Semua Orang
T-bills ter-tokenisasi dan obligasi pemerintah kini menjadi aset acuan untuk modal on-chain yang patuh aturan. Pada akhir Maret 2026, pasar US Treasury ter-tokenisasi sudah mencapai sekitar US$12,31 miliar, sehingga kategori ini punya bobot nyata di pasar aset digital.
Variola melihat hal ini sebagai tanda kuat perkembangan DeFi:
“Benar, tokenisasi T-bills dan obligasi pemerintah mungkin menjadi salah satu tanda paling jelas kalau ekosistem DeFi sudah makin matang. Semakin besar pasar ini, semakin matang pula saya menilai ruang DeFi. Ini juga jadi pertanda kalau pelaku di ekosistem DeFi mulai berpindah dari perdagangan yang penuh risiko ke strategi pelestarian modal yang lebih menghindari risiko.”
“Dalam konteks itu, bisa jadi ini adalah masa transisi di mana ekonomi on-chain mulai bergerak dari murni spekulasi menuju sesuatu yang lebih mirip keuangan tradisional, namun dengan keunggulan seperti settlement lintas negara yang lebih mudah dan transfer uang internasional yang lebih efisien.”
Bagi dana investasi, treasury, serta investor patuh regulasi lainnya, utang pemerintah ter-tokenisasi menawarkan aset berisiko rendah yang familiar, tetapi bisa memberikan imbalan dan mudah ditransfer.
Shangett pun setuju, namun ia menjelaskan bahwa tolok ukur ini melayani segmen pasar tertentu:
“Lihat saja, datanya tidak bisa dibantah. T-bills ter-tokenisasi dan obligasi pemerintah saat ini sudah menjadi pasar lebih dari US$10 miliar, naik drastis dari hampir nol 18 bulan lalu. BUIDL milik BlackRock saja sudah menampung US$2,5 miliar, dananya mereka pindahkan ke Solana, Arbitrum, BNB Chain, pada dasarnya di mana pun institusi ingin menaruh dana kas. Ondo dengan OUSG dan USDY melakukan hal serupa dengan aturan kepatuhan yang sedikit berbeda.”
“Jadi, memang treasury on-chain itu nyata, dan bagi pengguna yang sudah KYC, terakreditasi, dan punya tim kepatuhan, mereka jelas jadi acuan tanpa risiko.”
Menurutnya, treasury ter-tokenisasi menjadi acuan modal yang sudah teregulasi, sedangkan pengguna DeFi ritel lebih mengandalkan tingkat imbalan pinjaman stablecoin dan pasar uang yang permissionless.
Masalah Besar adalah Kepastian Hukum
Penyelesaian lintas negara tetap menghadapi tantangan yang sama setiap kali dana berpindah yurisdiksi. Token bisa berpindah seketika, tetapi kondisi hukum dan operasional tidak bisa. Setiap negara punya aturan berbeda terkait kustodi, pengungkapan, pembatasan transfer, dan kepatuhan. Akibatnya, settlement secara teknis dan keabsahan hukum tak selalu terjadi bersamaan.
Lillo Aranda menegaskan tantangan utama datang dari luar kecepatan blockchain:
“Hambatan terbesar bukan pada tokenisasinya itu sendiri – tetapi pada interoperabilitas sistem hukum, teknis, dan operasional yang pada dasarnya tidak pernah dirancang untuk bergerak dengan kecepatan yang sama.”
“Secara teknis, settlement 24/7 membutuhkan standar yang sinkron terkait identitas, pesan, pengakuan jaminan, keabsahan transaksi akhir, dan otomatisasi kepatuhan. Token memang bisa berpindah seketika, namun tidak berarti seluruh kewajiban hukum di sekitarnya juga langsung terselesaikan.”
“Setiap yurisdiksi juga akan menentukan klasifikasi aset, kustodian, pengungkapan, dan pembatasan transfer yang berbeda-beda. Jadi, hambatan sebenarnya bukanlah throughput blockchain – tapi fragmentasi logika regulasi lintas negara.”
“Dengan kata lain, kita sebenarnya sudah tahu cara memindahkan nilai secara global secara real time. Tantangannya adalah bagaimana pergerakan tersebut bisa berjalan secara legal, dapat diaudit, dan diterima di berbagai rezim secara bersamaan.”
Pernyataan tersebut menyoroti inti masalah. Teknologinya sudah siap untuk settlement secara terus-menerus, namun lingkungan operasionalnya masih bergantung pada aturan nasional dan standar yang terfragmentasi.
Shangett juga mengemukakan hal yang serupa. Menurutnya, tantangan terberat adalah membuat negara dan sistem keuangan bersedia menerapkan aturan yang kompatibel di waktu yang sama.
Bagi keuangan on-chain, hal ini membuat settlement lintas negara berada di posisi sulit. Transfer terus-menerus memang mungkin dilakukan, tapi settlement yang teregulasi secara terus-menerus di banyak yurisdiksi masih jauh lebih sulit untuk dijalankan.
Retail Sedang Akumulasi Sementara OG Sedang Menjaga Aset
Pengguna aset kripto ritel sekarang masuk pasar dengan pola pikir yang berbeda dari generasi holder pertama. Siklus sebelumnya menghadiahi mereka yang percaya dan tahan volatilitas, sedangkan siklus saat ini mendorong pembangunan portofolio secara konsisten lewat aplikasi fintech, pembelian berkala, dan produk imbal hasil yang mudah diakses.
Shangett menuturkan bahwa perbedaan ini muncul karena insentif yang berubah
“Menurut saya, perbedaannya bukan usia atau kekayaan. Ini tentang kapan kamu masuk dan apa yang ingin kamu capai. Ada dua kelompok yang bergerak di realitas paralel… satu dalam mode akumulasi, satu lagi dalam mode menjaga kekayaan.”
“Akumulasi kekayaan (kelompok Robinhood/Revolut). Ini adalah fase kerja keras. Mereka tidak menunggu sekali moonshot 100x. Mereka rutin membeli ke lebih dari 10 aset, mengejar imbal hasil staking 5-15%, serta menggunakan aplikasi yang sekarang juga memberi akses ke investasi private teknologi seperti Databricks bersama kripto mereka. Polanya sistematis, peka terhadap yield, dan sengaja dibuat membosankan. Tujuannya adalah menumpuk aset secara konsisten, bukan berharap menang undian.”
“Preservasi kekayaan (para early adopter). Mereka yang membeli BTC di harga US$500 atau farming airdrop ARB. Mereka tidak berambisi lagi untuk 10x, melainkan berusaha agar apa yang mereka miliki tidak hilang. Itu artinya mereka beralih dari aset spekulatif ke aset produktif seperti staking, tokenisasi obligasi negara, dan lending di Morpho. Mereka juga mundur dari pasar lebih cepat karena pasokan token per pengguna meningkat 24x sejak 2021. Cold wallet mereka memuat inti portofolio; exchange hanya digunakan untuk yield dan efisiensi pajak.”
“Jadi satu kelompok sedang membangun kerajaan lewat kerja keras dan diversifikasi. Yang lain sudah memiliki kerajaan dan hanya berusaha mempertahankan temboknya agar tidak runtuh.”
Satu kelompok membangun posisi secara bertahap lewat aplikasi arus utama. Yang lain lebih fokus menjaga kekayaan dan mengurangi volatilitas. Pada 2026, aset kripto ritel terbagi antara akumulasi dan preservasi.
Kesimpulan Akhir
Lembaga keuangan ingin punya akses terkendali ke likuiditas publik. Tokenisasi obligasi negara kini mulai jadi acuan bagi modal yang patuh aturan, sedangkan settlement lintas negara masih ditentukan oleh apakah sistem hukum dan operasi bisa berjalan bersama di banyak yurisdiksi secara berkesinambungan.
Para ahli dalam artikel ini menyimpulkan hal yang sama dari sudut pandang berbeda.
- Federico Variola melihat obligasi pemerintah yang ditokenisasi sebagai bukti bahwa pasar DeFi kini sudah lebih matang dan fokus pada preservasi serta imbal hasil.
- Fernando Lillo Aranda menilai tantangan utama di keuangan lintas negara adalah interoperabilitas hukum dan operasional, bukan kecepatan blockchain.
- Pauline Shangett menggambarkan pasar di mana jaringan permissioned dan DeFi publik saling terhubung lewat akses terkendali, sedangkan pengguna institusional dan ritel tetap menempuh jalur masing-masing.
Pada 2026, sistem keuangan on-chain yang terbentuk melayani beragam modal dengan cara berbeda-beda.
Kripto publik menawarkan likuiditas dan kemampuan komposisi. Keuangan teregulasi membawa tata kelola, kepatuhan, dan aset berisiko rendah yang sudah akrab. Titik temu di antara keduanya bertumpu pada koneksi yang menghubungkan sistem satu dan lainnya.