Komputer kuantum di masa depan bisa membobol private key yang melindungi wallet aset kripto, menurut laporan Europol yang terbit pada hari Rabu. Untuk wallet Bitcoin dengan public key yang sudah terlihat, lembaga kepolisian Uni Eropa ini menyatakan tidak ada solusi kriptografi yang bisa melindungi.
Europol membantah klaim bahwa komputasi kuantum akan menghancurkan ekosistem kripto. Peringatan mereka lebih spesifik dan diarahkan kepada para holder individu, bukan pada jaringannya.
Mengapa Europol Menyebut Wallet, Bukan Blockchain, Adalah Titik Lemah
Setiap wallet Bitcoin (BTC) berjalan dengan sepasang kode yang saling terkait. Siapa pun bisa melihat public key, sedangkan private key digunakan untuk mengotorisasi pengeluaran dana.
Komputer kuantum yang cukup kuat bisa melacak balik dari public key ke private key, sehingga penyerang bisa memindahkan dana, ujar unit sibercrime Europol dalam laporannya.
Matematika hashing yang menghubungkan blok-blok Bitcoin jauh lebih sulit untuk ditembus, papar laporan tersebut.
Untuk koin dengan public key yang sudah terbuka, laporan itu menawarkan satu solusi.
“Begitu public key terekspos, maka akan permanen rentan terhadap dekripsi kuantum di masa depan.”
Pemilik harus segera memindahkan dana tersebut ke wallet baru sebelum serangan terjadi, terang Europol.
Berapa Banyak Bitcoin yang Sudah Terekspos, dan Berapa Lama Proses Penyelamatan?
Perusahaan analitik Glassnode menyebutkan terdapat 6,04 juta BTC pada bulan Mei, atau 30,2% dari seluruh koin yang beredar. Pada harga Bitcoin saat ini sekitar US$83.050, jumlah tersebut bernilai sekitar US$502 miliar.
Kebanyakan terekspos karena penggunaan alamat ulang dan wallet di exchange, temuan Glassnode menunjukkan. Sisanya dimiliki dalam format script lama, termasuk koin awal milik Satoshi Nakamoto.
Apakah koin seorang holder ikut dalam kelompok tersebut tergantung pada cara penyimpanannya, menurut Glassnode.
Kebanyakan alamat Bitcoin standar hanya menunjukkan sidik jari acak dari public key, sehingga kuncinya tetap tersembunyi. Koin ini tidak termasuk yang terekspos.
Hal itu berubah ketika pemilik mengirim pembayaran dari alamat tersebut. Transaksi akan mengungkapkan key, dan setiap koin yang tersisa di alamat itu menjadi rentan, terang Glassnode.
Koin yang tersimpan di exchange sering kali masuk kelompok terekspos, karena platform biasanya menggunakan alamat yang berulang. Alamat Taproot, format yang muncul sejak 2021, dan alamat Bitcoin paling awal secara default langsung memperlihatkan key-nya.
Tanda tangan yang aman secara kuantum ukurannya 10 hingga 120 kali lebih besar dari standar saat ini, ucap Europol, sehingga bisa memperlambat blok dan meningkatkan biaya transaksi.
Sebuah studi yang dikutip dalam laporan itu memperkirakan bahwa migrasi penuh membutuhkan minimal 76 hari dengan seluruh kapasitas jaringan. Jika migrasi dilakukan hanya seperempat kapasitas per blok, waktunya membentang hingga sekitar 300 hari.
Laporan lain dari Europol memperingatkan bahwa penyerang bisa menyimpan data terenkripsi saat ini dan membukanya saat komputer kuantum sudah tersedia. Namun, laporan itu tidak menemukan bukti jelas ini terjadi secara luas.
Europol tidak menetapkan kapan teknologi itu akan ada. Mereka menuturkan upgrade di jaringan tanpa operator pusat membutuhkan waktu bertahun-tahun, dan beberapa pengembang kini sudah mendukung rencana untuk membekukan koin yang rentan.









