Pemerintah G7 sedang mempertimbangkan pelepasan terkoordinasi hingga 400 juta barel dari cadangan minyak strategis.
Ini menjadi intervensi terbesar yang pernah terjadi dan muncul setelah harga minyak melonjak mendekati US$120 per barel di tengah ancaman terhadap Selat Hormuz.
G7 Rencanakan Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah saat Krisis Hormuz Dorong Harga ke US$120
Menurut laporan dari Financial Times, usulan ini akan dikoordinasikan lewat International Energy Agency (IEA).
Tiga anggota G7, termasuk AS, telah menyatakan dukungannya. Jepang, yang memiliki cadangan minyak terbesar ketiga di dunia, awalnya membantah sudah ada keputusan final, tapi mengonfirmasi bahwa mereka memantau situasi ini dengan cermat.
Usulan ini langsung membuat harga minyak anjlok hingga ke posisi terendah di angka US$100,139, turun hampir 17% dari level tertinggi lokal. Pada waktu publikasi, harga minyak berada di level US$103,682.
Mengapa Pasar Minyak Sedang Mengalami Fraktur
Selat Hormuz berada di pusat krisis ini. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melintas di jalur air tunggal ini, dan ancaman yang terus berlangsung dari Iran telah meningkatkan bayang-bayang blokade jangka panjang.
Jepang menjadi salah satu negara yang paling terdampak, karena lebih dari 90% impor minyak mentahnya melewati selat tersebut.
Harga minyak AS telah naik lebih dari US$55 per barel dalam tiga bulan terakhir, atau hampir dua kali lipat. Model memperkirakan bila harga bertahan di level saat ini, pertumbuhan PDB AS bisa terkontraksi 0,5%, sehingga kehilangan sekitar US$160 miliar dari output ekonomi.
HFI Research menggarisbawahi bahwa pelepasan cadangan ini kemungkinan hanya menjadi solusi sementara. Estimasinya menunjukkan gangguan arus kapal tanker hingga akhir Maret bisa menguras sekitar 450 juta barel dari persediaan global, sedikit lebih banyak dari rencana pelepasan cadangan ini.
Irak dan Kuwait juga telah mulai menutup produksi, dengan UEA diperkirakan akan segera menyusul.
Pasar Bereaksi dan Trader Membayar Harganya
Pergerakan harga minyak pada hari Senin sangat ekstrem, seperti yang terlihat pada grafik di atas. Volatilitas ini menyebabkan kerugian nyata bagi sebagian pihak.
Firma analitik on-chain Arkham mengidentifikasi sebuah wallet yang terkait trader meme coin terkenal, CBB0FE, tercatat mengalami kerugian hingga US$3,5 juta pada posisi short minyak mentah senilai US$12 juta, yang dibuka saat harga naik lebih dari 50% sejak pekan sebelumnya.
Di sisi lain, seorang trader lain mengambil posisi sebaliknya di waktu yang tepat. Menurut pengamat pasar legen.eth, sebuah akun membuka short minyak mentah dengan leverage 5x sekitar dua jam sebelum laporan cadangan G7 muncul. Trader ini mendapatkan keuntungan lebih dari US$1 juta ketika harga minyak turun.
Debat Kebijakan The Fed
Melebihi pergerakan harga sesaat, investor Anthony Pompliano menyampaikan bahwa lonjakan minyak seharusnya tidak mengacaukan pemikiran kebijakan moneter secara lebih luas.
“Jika harga minyak terus naik, Anda akan mendengar banyak orang mengatakan The Fed sebaiknya tidak menurunkan suku bunga karena khawatir inflasi bisa naik. Ini adalah kesalahan yang sama seperti saat ada tarif perdagangan… The Fed seharusnya agresif memangkas suku bunga pada paruh pertama tahun ini,” tulis Pompliano.
Pendapat Pompliano didasarkan pada argumen bahwa AS sedang berada dalam lingkungan struktural deflasi, sehingga komoditas tunggal, meski sepenting minyak, tidak cukup menjadi alasan untuk menahan suku bunga tetap tinggi.
Sementara itu, Presiden Trump mengatakan kepada wartawan bahwa harga minyak akan “turun dengan cepat” setelah ancaman nuklir Iran terselesaikan, dan menyebutnya sebagai “harga yang sangat kecil untuk dibayar”.
Cadangan minyak strategis umumnya hanya digunakan ketika terjadi gangguan global besar, seperti saat Perang Teluk pertama pada 1990 dan bencana Fukushima 2011.
Besar kecilnya skala proposal kali ini menandakan bahwa para pembuat kebijakan melihat ancaman Hormuz sepenting peristiwa besar sebelumnya.
namun, HFI Research mengingatkan bahwa setiap pelepasan cadangan akan menambah permintaan di masa depan: stok harus diisi kembali, sehingga menambah tekanan pasar minyak nantinya.
Intervensi ini bisa saja menstabilkan harga, atau justru hanya menunda persoalan suplai yang lebih besar di kemudian hari. Semua tergantung secepat dan apakah jalur pelayaran di Hormuz bisa kembali normal.
Ikuti kami di X untuk dapatkan berita terbaru secara langsung
Langganan channel YouTube kami untuk menonton pemimpin dan jurnalis berbagi insight ahli