Terkait topik iniDewan Teknologi Masa Depan & AI

Bisakah Aplikasi Debat Mirip TikTok Ini Mengatasi Masalah Kepercayaan di Internet?

  • Geo Debates mencocokkan orang-orang dengan pandangan yang berlawanan untuk debat video berdurasi singkat dan terjadwal.
  • Penonton memilih siapa yang membuat argumen lebih kuat, sementara klaim dan sumber tetap terlampir.
  • Format ini bisa mendorong diskusi lintas ideologi, meski popularitas sepertinya masih bisa mengalahkan bukti.

7 dari 10 orang di seluruh dunia merasa waspada untuk mempercayai siapapun yang memiliki nilai atau sumber informasi berbeda dengan mereka. Sebagian besar orang juga menganggap ketidakpercayaan ini sangat dalam, sehingga orang-orang bisa saling berseberangan. Ini juga sangat terlihat di kolom komentar pada setiap tweet mengenai topik atau opini yang kontroversial.

Hasil tersebut berasal dari Barometer Edelman Trust 2026, yang mewawancarai hampir 34.000 orang di 28 negara. Sikap waspada ini terlihat pada semua kelompok usia, tingkat pendapatan, dan juga di negara maju maupun berkembang.

Ketidakpercayaan yang sama juga terlihat pada platform yang kini paling sering orang pakai untuk mendapatkan berita. Menurut data Reuters Institute , media sosial dan jaringan video saat ini menjadi cara paling umum untuk mengakses berita online. Tapi, hanya 22% orang yang mempercayai berita yang mereka temukan di media sosial.

Geo, jaringan pengetahuan yang didirikan co-founder The Graph Yaniv Tal, meluncurkan Geo Debates pada 22 September. Aplikasi ini mempertemukan dua orang yang saling tidak setuju dalam satu layar, dengan format vertikal singkat yang biasa digunakan di feed tersebut.

Geo Debates Memberikan Timer ke Tiap Sisi dan Mematikan Mic Lawan

Setiap debat berfokus pada satu klaim, dan pengguna harus menyatakan sikap mereka terlebih dahulu sebelum Geo mencarikan lawan. Aplikasi lalu hanya memasangkan seseorang dengan orang yang mengambil posisi berlawanan.

Kedua pihak akan berdebat lewat video secara bergantian dengan waktu yang terbatas. Saat satu orang berbicara, mikrofon lawan akan tetap mati, supaya tidak saling memotong pembicaraan.

Geo lalu menggabungkan kedua rekaman tersebut menjadi satu klip split screen yang diberi subtitle dan kemudian mempublikasikannya di feed vertikal. Penonton bisa memilih siapa yang argumennya paling kuat dan membuka setiap klaim untuk melihat dukungannya. Klaim akan diberi label fakta atau opini, tapi platform tidak memutuskan mana klaim yang benar.

Format video singkat ini cocok dengan cara audiens menerima informasi saat ini. Data dari Reuters Institute memperlihatkan bahwa 77% orang kini menonton video berita online setiap minggu. Di TikTok, penonton berita lebih memilih klip dengan durasi di bawah dua menit.

Debat-debat awal membahas aset kripto, pasar, AI, politik, dan budaya, termasuk soal apakah Bitcoin (BTC) mengalahkan emas sebagai penyimpan nilai. Tal mengaitkan format ini pada tradisi demokrasi dan sains dalam berdebat.

“Untuk bisa mendekati kebenaran, kita harus mampu melihat isu dari berbagai sudut pandang. Demokrasi memiliki tradisi debat yang kaya, begitu juga komunitas ilmiah. Setiap institusi yang ingin mencari kebenaran atau keselarasan membutuhkan debat sehat, dan menurut saya, kita perlu membawa tradisi ini ke era internet,” ujar Yaniv Tal.

Bagaimana Geo Debates Membiarkan Pengguna Berdebat Tentang Topik yang Berbeda
Bagaimana Geo Debates Membiarkan Pengguna Berdebat Tentang Topik yang Berbeda

Geo Menyimpan Setiap Klaim di Knowledge Graph Berbasis Web3

Setelah debat selesai, Geo mengekstrak setiap klaim dari pembicara dan mencatatnya atas nama orang tersebut. Pengguna lain kemudian dapat memilih klaim mana saja dan menantangnya lagi secara bergantian.

Geo menjelaskan jaringannya sebagai pengetahuan untuk manusia dan AI, dengan sumber tetap terlihat. Sebagian besar sumber tersebut juga bergantung pada pengguna, karena situs Geo meminta pengunjung menambahkan sumber dan konteks sebagai kurator.

Knowledge graph ini juga menunjukkan akar kripto dari Geo. Blog The Graph menggambarkan Geo sebagai pengembang inti pada protokol tersebut. Aplikasi sebelumnya, Geo Genesis, memakai standar GRC-20 dari The Graph untuk berbagi pengetahuan dan menerbitkan data secara onchain. Geo belum menyebutkan apakah klaim debat juga ditulis onchain dengan cara yang sama.

Tal menelusuri ide proyek ini pada misinformasi seputar pemilu AS 2016 dan perdebatan publik tentang COVID.

Pemungutan Suara Publik Dapat Menentukan Siapa yang Lebih Meyakinkan

Pemungutan suara ini mencerminkan siapa yang menurut penonton berhasil menyampaikan argumen paling kuat. Artinya, orang yang percaya diri bisa saja menang walau buktinya lemah.

Data Reuters Institute menunjukkan bahwa audiens memang sudah membedakan antara sisi menarik dan sisi terpercaya saat menilai pembuat berita. Audiens menganggap pembuat berita modern lebih menghibur dan mudah didekati daripada media tradisional, namun kurang bisa dipercaya dan kurang netral. Jadi, memilih argumen terkuat bisa jadi lebih menghargai sisi menghibur bukan sisi kredibilitas.

Penelitian terbaru juga menunjukkan format itu penting. Sebuah studi di tahun 2024 mempertemukan 582 pemilih Labour dan Conservative di Inggris untuk mengobrol selama 10 menit tanpa moderator.

Rasa bersimpati pada lawan berdiskusi meningkat setelahnya, tapi terutama jika kedua pihak sepakat atau menemukan titik temu. Jika mereka hanya berdebat tanpa titik temu, empati tidak naik. Secara keseluruhan, diskusi ini tidak mengubah pendapat peserta.

Geo hanya memasangkan orang yang tidak sependapat, yaitu kondisi di mana efek empati tersebut paling lemah. Meski demikian, kemauan untuk berbicara melintasi garis partai ternyata naik, bahkan pada mereka yang tidak sepakat, dan efek ini bertahan 2 sampai 3 minggu.

Sementara itu, fitur Community Notes di X mengelola penilaian publik dengan cara berbeda. Sebuah catatan baru akan muncul ke publik setelah cukup banyak kontributor dari berbagai sudut pandang menilai catatan itu bermanfaat. Geo belum menyebutkan apakah suara audiens mempertimbangkan posisi awal penonton.

Setiap debat juga butuh dua orang yang mau berargumen di depan kamera, dan rekaman membutuhkan kurator untuk menambahkan sumber. Ini bertentangan dengan tren yang ditemukan Reuters Institute, di mana semakin sedikit orang mengunggah sesuatu di media sosial dan lebih banyak yang hanya melakukan scrolling.

Selain itu, klip split screen ini juga bisa saja dipotong sehingga hanya menampilkan satu sisi jika sudah tersebar di luar Geo. Tal membuat aplikasi ini supaya argumen tetap ada meski di luar feed. Tetapi, Geo masih perlu membuat cukup banyak orang berhenti melakukan scrolling dan mau tampil di depan kamera.

Penyangkalan

BeInCrypto melaporkan dan mengendalikan konten Fitur ini secara independen. Pandangan yang dikutip merupakan pandangan masing-masing pembicara. Konten ini bersifat umum dan tidak dipersonalisasi; konten ini tidak mempertimbangkan keadaan Anda dan bukan merupakan riset investasi, nasihat keuangan, investasi, hukum, atau pajak, maupun penawaran, dukungan, atau rekomendasi untuk bertransaksi dalam aset kripto, produk, atau layanan apa pun. Verifikasikan informasi material sebelum bertindak. Aset kripto bersifat fluktuatif dan dapat mengakibatkan kerugian total. BeInCrypto tidak memberikan jaminan apa pun atas kelengkapan, keakuratan, atau ketepatan waktu, kecuali sepanjang diwajibkan oleh hukum.

Disponsori
Disponsori