Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membagikan apa yang bisa disebut sebagai saran trading di X (Twitter), menyebut pengumuman Trump di pre-market adalah “indikator terbalik” dan mendesak pengikutnya untuk mengambil posisi berlawanan dari setiap pergerakan energi.
Unggahan ini menambah nuansa surreal dalam minggu yang menyaksikan strategi populer Wall Street membeli saat harga turun ambruk akibat risiko geopolitik yang nyata.
Perdagangan TACO Menghadapi Hambatan
Strategi The Trump Always Chickens Out (TACO) mendefinisikan perilaku pasar sepanjang sebagian besar tahun 2025. Para trader selalu membeli di setiap penurunan harga yang dipicu oleh Trump, dengan asumsi akan terjadi pembalikan dalam beberapa hari. Skenario ini terbukti berhasil selama perseteruan tarif dengan Cina, Kanada, dan Uni Eropa.
Tapi, strategi ini gagal minggu lalu. Trump memperpanjang batas waktunya untuk menyerang infrastruktur energi Iran, dari 27 Maret menjadi 6 April. Reli pemulihan yang diharapkan akhirnya tidak pernah datang.
Emmanuel Cau, seorang strategi dari Barclays, menerangkan bahwa perubahan sikap yang berulang kali merusak kepercayaan pasar. Investor berhenti menganggap penundaan sebagai jalan menuju perdamaian. Mereka mulai melihatnya sebagai jeda taktis sebelum eskalasi lebih lanjut.
Tracker GDPNow dari The Fed Atlanta memotong perkiraan pertumbuhan Q1 menjadi 2%, turun dari 3,1% hanya sebulan sebelumnya.
Sementara itu, data CME FedWatch menunjukkan pasar memperkirakan suku bunga tetap stabil hingga akhir 2026, dengan kemungkinan perubahan yang kecil saja.
Ini sangat berbeda dari ekspektasi pemotongan suku bunga berkali-kali yang diharapkan investor di awal tahun.
Ghalibaf dan Peringatan Pasar Obligasi
Ghalibaf, mantan komandan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang kini menjadi figur politik Iran paling menonjol dalam masa perang, tidak hanya membantah adanya pembicaraan dengan AS.
Ia mengatakan pada pengikutnya bahwa postingan Trump sebelum pasar buka justru menjadi sinyal untuk ambil untung.
“Pre-market so-called ‘news’ or ‘Truth’ is often just a setup for profit-taking. Basically, it’s a reverse indicator. Do the opposite,” tulis Ghalibaf.
Di sisi lain, ekonom Johns Hopkins Steve Hanke menyatakan bahwa pelaku pasar obligasi telah berbalik melawan Trump karena tekanan gabungan antara perang tarif dan konflik Iran.
Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun kini naik ke 4,46%, mendekati ambang 4,5% yang sempat memaksa Trump menghentikan tarif balasan pada April 2025.
Ghalibaf juga memperingatkan di awal minggu bahwa lembaga keuangan yang membeli obligasi Treasury AS bisa menjadi target militer yang sah.
Pernyataan tersebut langsung menambah risiko geopolitik terhadap kekhawatiran fiskal yang telah ada di pasar obligasi.
Mengapa Playbook Lama Tidak Lagi Berlaku
Strategi TACO berhasil karena pihak lawan dagang Trump adalah pelaku ekonomi yang rasional. Cina, Uni Eropa, dan Kanada sama-sama menginginkan stabilitas dan bersedia menerima kompromi demi menjaga kehormatan.
Tapi, Iran tidak punya sikap yang sama. Pemimpin tertinggi mereka tewas dalam serangan awal.
Infrastruktur militernya sudah berkali-kali jadi sasaran serangan. Namun, Teheran tetap tidak bergerak ke arah negosiasi. Ghalibaf sendiri pada hari Minggu menuduh Washington sedang merencanakan invasi darat sambil secara terbuka menyampaikan bahwa pembicaraan sedang berlangsung.
Dengan harga Brent crude sudah di atas US$110 per barel dan Selat Hormuz masih tertutup efektif, kerugian ekonomi akibat perang sudah tercermin dalam harga saat ini.
Para pembeli di harga turun yang selama ini mengandalkan logika TACO kini menghadapi pasar di mana premi geopolitik bukan lagi lonjakan sementara, namun menjadi bagian struktural.
Pertanyaannya untuk pekan depan adalah apakah imbal hasil obligasi 10 tahun melewati 4,5% akan memaksa Gedung Putih mengambil tindakan, seperti dalam krisis tarif tahun lalu, atau akankah perang sungguhan ternyata lebih sulit diralat daripada sengketa perdagangan.