Harga yang menjadi acuan transaksi kargo minyak di dunia nyata melonjak ke level tertinggi sejak 2008. Dated Brent mencapai US$141,37 per barel, menyentuh rekor tertinggi dalam 18 tahun terakhir.
Sementara itu, Brent crude futures diperdagangkan di kisaran US$107, masih di bawah level tahun 2022. Jadi, terlihat jelas bahwa patokan untuk kargo crude nyata sekarang diperdagangkan lebih dari US$34 di atas Brent futures.
“Terakhir kali Dated Brent menyentuh level setinggi ini terjadi 18 tahun yang lalu, ketika krisis keuangan global yang telah berkembang selama berbulan-bulan hampir menjatuhkan reli crude yang bersejarah,” tulis Bloomberg . “Lonjakan ini adalah tanda semakin besarnya perbedaan antara kontrak futures dengan berbagai bagian pasar fisik yang kini mematok harga pasokan yang makin langka.”
Ini bukan hanya sekadar perbedaan harga. Ini adalah sinyal tekanan. Pasar minyak fisik sedang mengalami tekanan akut, di mana permintaan langsung jauh melampaui pasokan yang tersedia.
Ikuti kami di X untuk dapatkan berita terbaru secara real-time
Baru-baru ini, CEO Chevron Mike Wirth mengingatkan bahwa futures tidak mencerminkan skala gangguan pasokan minyak yang sebenarnya. Ia menyampaikan bahwa pasar kini memperdagangkan pada “informasi yang sangat minim” dan “persepsi.” Menurutnya,
“Ada dampak nyata dan fisik dari penutupan Selat Hormuz yang saat ini sedang mengalir ke seluruh dunia dan masuk ke dalam sistem, dan menurut saya belum semuanya tercermin di garis kurva futures minyak.”
Pendiri Energy Aspects Amrita Sen juga mengutarakan ke CNBC bahwa pasar futures justru menutupi tekanan nyata yang sedang terjadi.
“Kalian sebenarnya sudah melihatnya, tetapi pasar finansial seolah menutupi keketatan sesungguhnya yang muncul di mana-mana,” papar Sen .
Sikap Trump yang Berubah-Ubah Meningkatkan Ketidakpastian
Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar seperlima lalu lintas crude global, sudah ditutup lebih dari sebulan. Produsen di Teluk telah memangkas produksi setidaknya 10 juta barel per hari, karena lalu lintas kapal tanker turun hingga 95%.
Presiden Trump telah mengirimkan beragam pesan seputar Selat tersebut. Dalam pidato utama pada 2 April, ia menyatakan Iran “hampir sepenuhnya hancur” dan mengatakan jalur air itu akan terbuka “secara alami” setelah konflik berakhir.
Sementara itu, ia juga menyarankan negara lain agar “mengambil dan menghargainya.” Tetapi pernyataan dan proyeksi waktunya yang berubah-ubah justru menambah ketidakpastian di tengah kondisi pasokan yang sudah retak.
Langganan channel YouTube kami untuk menyaksikan pemimpin dan jurnalis berbagi wawasan ahli