Konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak, meningkatkan risiko inflasi di AS, serta menempatkan Bitcoin (BTC) pada uji stres ekonomi makro.
Pertanyaan utamanya adalah: bagaimana aset kripto terbesar ini akan bertahan di tengah ketegangan perang dan kemungkinan resesi?
Bloomberg Peta Tiga Skenario Harga Minyak
Sekitar seperlima dari minyak dan gas alam di dunia mengalir melalui Selat Hormuz. Penutupan efektif selat tersebut setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari telah mendorong lonjakan harga minyak.
Menurut WSJ, kontrak berjangka minyak Brent ditutup pada level US$100,46 per barel di hari Kamis. Ini merupakan pertama kalinya patokan harga tersebut menetap di atas ambang US$100 pada jam perdagangan reguler sejak Agustus 2022.
Di tengah situasi ini, Bloomberg membuat beberapa skenario berdasarkan lamanya penutupan jalur air tersebut. Menurut proyeksi itu, penutupan selama sebulan bisa mendorong harga minyak menuju sekitar US$105 per barel.
Jika gangguan berlangsung dua bulan, harganya bisa naik ke sekitar US$140. Terakhir, penutupan selama tiga bulan diperkirakan akan membuat harga minyak naik hingga sekitar US$165.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terkini secara langsung
Analis Milk Road Macro menguraikan dampak harga tinggi yang bertahan lama bagi ekonomi global. Dalam unggahan terbaru, Brent di kisaran US$80 hingga US$90 per barel masih bisa dikelola. Namun, saat harga menembus US$90 ke US$100, area ini menjadi zona hambatan.
“Pertumbuhan mulai terganggu secara nyata jika harga bertahan di sini. Goldman Sachs mengatakan kenaikan sementara ke US$100 bisa memangkas sekitar 0,4 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi global,” bunyi dalam unggahan itu.
Kisaran US$100 hingga US$120 menandai zona stagflasi, menggabungkan pertumbuhan yang lambat dengan inflasi yang membandel. Sementara itu, rentang US$120 hingga US$150 adalah “zona bahaya”.
“Di level ini, komentar biasanya bergeser dari ‘hambatan makro’ menjadi ‘peningkatan risiko resesi.’ Ekonom pada umumnya percaya bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh kecuali harga minyak bertahan di US$125 atau lebih,” tulis Milk Road Macro.
Terakhir, apabila harga minyak melampaui US$150 per barel, mereka menyebutnya sebagai “rezim guncangan global.” Pada level ini, kenaikan biaya transportasi, manufaktur, makanan, dan energi berfungsi sebagai pajak luas untuk aktivitas ekonomi.
Pengeluaran rumah tangga menyusut dan margin keuntungan korporasi semakin menipis secara bersamaan. Menurut Milk Road Macro,
“Jika bertahan di level ini, pembicaraan akan beralih ke resesi global…Dan kondisi keuangan menjadi lebih ketat dan bank sentral kurang mau memangkas suku bunga, tepat saat pertumbuhan ekonomi melambat.”
Inflasi Nampaknya Ancam The Fed Tunda Pemangkasan Suku Bunga
Harga minyak tinggi yang terjadi dalam waktu lama memicu risiko inflasi, sehingga membuat keputusan bank sentral semakin kompleks. Adam Kobeissi, pendiri The Kobeissi Letter, merujuk pada riset The Fed, menuturkan bahwa setiap reli minyak sebesar US$10, inflasi naik sekitar 20 basis poin.
“Saat harga minyak AS naik di atas US$95 per barel, model kami menunjukkan bahwa jika harga bertahan selama 3 bulan, inflasi CPI AS bakal naik ke sekitar 3,2%. Ini akan membuat inflasi AS berada di level tertinggi sejak Mei 2024,” unggah The Kobeissi Letter .
Jika ekspektasi inflasi terus naik, The Federal Reserve mungkin harus menunda atau mengurangi rencana pemangkasan suku bunga yang telah diantisipasi. Saat ini, pasar memprediksi kemungkinan sebesar 99,1% bahwa suku bunga akan tetap tidak berubah pada pertemuan FOMC mendatang, menurut data CME FedWatch.
Kondisi keuangan yang makin ketat biasanya memberi dampak negatif pada aset yang lebih berisiko. Ketika imbal hasil Treasury naik, likuiditas pun menjadi kian ketat dan dukungan terhadap pasar spekulatif pun berkurang. Kombinasi dari inflasi yang terus membandel dan pemangkasan suku bunga yang lebih sedikit menciptakan situasi yang sulit untuk aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Bitcoin Ungguli Aset Utama di Tengah Ketegangan
Meski ekonomi tengah menghadapi banyak tantangan, data pasar terbaru menunjukkan Bitcoin cukup tangguh. Sejak akhir Februari ketika terjadi serangan ke Iran, harga Bitcoin sudah naik 7,3% dan mengungguli aset safe haven tradisional maupun pasar saham.
Berdasarkan analisis pasar, S&P 500 dan Nasdaq turun 1% hingga 2% dalam periode yang sama, sementara emas terkoreksi 3,7% dan harga perak anjlok lebih dari 10%.
Kekuatan Bitcoin belakangan di tengah ketidakpastian ini memang patut disorot. Namun, bila likuiditas mengering, rangkaian likuidasi bisa saja menghantam perdagangan derivatif kripto berleverage. Karena pasar kripto berjalan 24/7, baik kenaikan cepat maupun koreksi tajam dapat terjadi secara tiba-tiba saat ada guncangan global.
Ke depannya, kekuatan Bitcoin kemungkinan akan benar-benar diuji bila harga minyak tetap tinggi dan bank sentral tetap menjalankan kebijakan ketat. Jika ketegangan di Hormuz mereda, selera risiko bisa saja kembali. Tetapi bila gangguan terus berlanjut, kekuatan Bitcoin dalam menghadapi tekanan akan terus diuji.
Subscribe ke channel YouTube kami untuk menonton wawancara mendalam dari para pemimpin dan jurnalis berpengalaman