Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Desember, yang menunjukkan inflasi naik secara tahunan sebesar 2,7%. Namun, sorotan utama pada Selasa (13/1) ini tertuju pada core CPI, yang merupakan indikator inflasi favorit Federal Reserve (The Fed).
Bitcoin memang bereaksi, meski relatif ringan, sementara harga perak meroket ke puncak baru. Kendati begitu, sebagian analis mempertanyakan seberapa besar pengaruh data ekonomi makro terhadap pergerakan harga pasar saat ini.
SponsoredData CPI AS: Inflasi Naik 2,7% YoY di Desember,
Laporan CPI (Consumer Price Index) terbaru menunjukkan inflasi naik secara tahunan sebesar 2,7% di bulan Desember 2025, sesuai dengan ekspektasi pasar. Namu, core CPI, yang memberikan gambaran tren inflasi mendasar, justru di bawah ekspektasi yakni 2,6%.
Sesaat setelah laporan tersebut keluar, harga Bitcoin naik tipis untuk kembali melewati level US$92.000. Sementara itu, harga spot perak menembus US$87 per ons untuk pertama kalinya, naik lebih dari 21% sejak awal tahun. Walhasil, logam mulia ini semakin mendekati target US$100 yang para investor idamkan.
Kenaikan ini memang sudah diperkirakan sebab core inflation (inflasi inti) mengindikasikan tekanan inflasi mendasar mulai mereda. Hal itu membuat kekhawatiran akan kenaikan suku bunga agresif dari The Fed melandai, sehingga yield (imbal hasil) riil turun dan likuiditas meningkat, situasi yang biasanya mendorong investor untuk terjun ke aset berisiko seperti Bitcoin.
Pada saat yang sama, perak juga meraih sentimen positif dari kondisi serupa. Inflasi yang melemah dan kemungkinan penundaan pengetatan moneter membuat daya tarik perak sebagai lindung nilai semakin kuat, sehingga terjadi reli secara bersamaan di kedua pasar tersebut.
Peringatan Tarif Powell Melenceng, Manfaat Fiskal Lampaui Kekhawatiran Inflasi
Bisa jadi, inilah alasan mengapa sebelum laporan CPI keluar, CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa pelaku pasar menilai kemungkinan 95% The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50 hingga 3,75%. Setelah laporan terbit, probabilitas itu tetap sama, dan kemungkinan pemotongan suku bunga hanya sebesar 5%.
Laporan ini berpotensi berimbas ke keputusan suku bunga The Fed pada rapat berikutnya yang menurut jadwal bakal berlangsung 28 Januari 2026.
“Menurut saya, ini menunjukkan betapa kelirunya Ketua Powell… ketika ia mengatakan di Economic Club bahwa inflasi akibat tarif impor akan menjadi masalah besar bagi The Fed — ternyata, itu tidak terjadi. Dan di sisi lain, tarif-tarif itu justru memperbaiki situasi fiskal kita,” komentar ekonom moneter Judy Shelton.
Menjelang rilis CPI hari ini, analis Greeks.live menyoroti penurunan signifikan implied volatility (IV) aset kripto dibandingkan minggu lalu.
Ini mengindikasikan para trader dan investor pada umumnya percaya data ekonomi makro tidak lagi memberi dampak signifikan ke pasar.
SponsoredRebound yang terjadi awal bulan dan sempat mendorong pemullihan Skew juga disebut sudah berakhir, di mana Skew kembali turun seperti pada masa liburan.
“Sentimen pasar masih cenderung lemah, bahkan momentum bullish pun sangat rapuh. Sedikit saja masalah muncul, investor langsung hengkang dari pasar,” tulis analis Greeks.live.
Pandangan ini sejalan dengan pernyataan CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon. Ia menilai bahwa pasar tidak memberi perhatian cukup pada faktor ekonomi makro maupun iklim geopolitik yang sewajarnya.
Bagaimana pendapat Anda tentang core CPI AS yang lebih rendah dari ekspektasi ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!