Native token Hyperliquid, HYPE, diam-diam menjadi salah satu performa terkuat di pasar aset kripto minggu ini. Token ini naik sekitar 3% hari ini, lebih dari 20% dalam tujuh hari terakhir. Harga HYPE naik hampir 50% sejak awal tahun, mengungguli banyak aset kripto utama lainnya yang kebanyakan bergerak sideways.
Reli ini makin cepat setelah HYPE berhasil breakout dari pola grafik bullish di awal bulan ini. Tapi, jika kita perhatikan lebih dalam pada indikator momentum, arus di exchange, dan posisi derivatif, sepertinya kekuatan yang mendorong reli ini bisa mulai bergerak berlawanan arah.
HYPE Breakout Pola Bullish, tapi Momentum Menunjukkan Tanda Kelemahan Awal
Reli terbaru HYPE berawal setelah token ini menembus bagian neckline dari pola inverse head-and-shoulders pada 9 Maret.
Berdasarkan tinggi pola tersebut, breakout ini menunjuk ke target kenaikan teoritis di sekitar US$44, atau sekitar 30% lebih tinggi dari level neckline jika reli berlanjut.
Ingin insight token seperti ini? Daftarkan diri Anda untuk menerima Daily Crypto Newsletter dari Editor Harsh Notariya secara gratis di sini.
Namun, sinyal jangka pendek menunjukkan momentum mulai melemah.
Pada grafik 12 jam, ada divergensi antara harga dan Relative Strength Index (RSI), yaitu indikator momentum. Antara 28 Januari sampai 12 Maret, harga HYPE mencetak high yang lebih tinggi, sedangkan RSI justru membentuk high yang lebih rendah. Pola ini disebut bearish divergence, yang sering muncul saat daya beli melemah walau harga masih naik. Dalam satu timeframe tertentu, pelemahan ini bisa memicu pembalikan harga.
Tapi momentum harga saja belum cukup menjelaskan langkah berikutnya. Untuk memahami apa yang benar-benar mendorong pergerakan ini dan kenapa sekarang justru menjadi risiko, kita perlu melihat aktivitas di exchange.
Arus Exchange Tunjukkan Reli HYPE Punya Permintaan Spot yang Lemah
Data arus exchange mengungkap pola tidak biasa di balik pergerakan harga terbaru ini. Dalam satu minggu yang berakhir pada 2 Maret, HYPE mencatat arus keluar bersih dari exchange sekitar US$13,82 juta. Arus keluar biasanya berarti investor menarik token untuk disimpan, sehingga tekanan jual bisa berkurang. Tapi, situasi berubah saat reli harga semakin cepat.
Dalam minggu yang berakhir pada 9 Maret, exchange mencatat arus masuk bersih sekitar US$9,62 juta, artinya lebih banyak HYPE yang masuk ke platform trading. Arus masuk seringkali berkaitan dengan potensi tekanan jual karena token lebih mudah diperdagangkan.
Hal ini menandakan reli harga tidak didukung akumulasi spot yang kuat. Sebaliknya, pergerakan ini nampaknya terutama digerakkan oleh aktivitas di pasar derivatif.
Dan data derivatif membuat dinamika tersebut makin jelas.
Data Likuidasi Soroti Pemicu Short Squeeze dan Risiko Baru
Data likuidasi dari pasar perpetual Binance HYPE/USDT menunjukkan reli baru-baru ini didorong oleh likuidasi posisi short. Posisi derivatif saat ini sangat menonjolkan betapa ekstrem pergeseran ini terjadi.
Dalam timeframe tujuh hari, data Binance memperlihatkan ada lebih dari US$26 juta posisi leverage long dibandingkan hanya sekitar US$7 juta posisi short, sehingga terjadi ketimpangan sekitar 3,5 banding 1 yang menguntungkan posisi long.
Di kondisi pasar normal tanpa pemicu fundamental yang kuat, pergeseran tajam ke leverage long biasanya berarti banyak posisi short terlikuidasi saat reli. Penutupan paksa itu kemungkinan besar ikut mendorong lonjakan harga tajam yang terlihat selama seminggu terakhir.
Sekarang, dengan leverage terkonsentrasi di sisi long, penurunan harga sedikit saja bisa memicu likuidasi di arah sebaliknya. Ini bisa memperkuat peringatan kemungkinan reversal.
Kemungkinan tersebut makin jelas jika melihat indikator arus modal pada grafik harian.
Pelemahan Money Flow Menyoroti Level Harga Kunci HYPE
Sinyal lain yang mendukung risiko koreksi datang dari indikator Chaikin Money Flow (CMF). CMF adalah indikator berbobot volume yang melacak apakah dana sedang mengalir masuk atau keluar dari suatu aset. Para trader sering menggunakan indikator ini sebagai pengganti untuk memantau aktivitas modal besar.
Antara 1 Maret sampai 11 Maret, harga HYPE terus mencetak level tertinggi baru, namun indikator CMF justru membentuk level tertinggi yang lebih rendah. Divergensi ini mengindikasikan bahwa meskipun harga naik, jumlah modal yang mendukung reli secara bertahap mulai melemah.
Indikator ini tetap berada di atas nol, artinya tekanan beli memang belum benar-benar hilang. Namun tren yang melemah ini menunjukan arus masuk dana mungkin sudah tidak cukup kuat untuk menjaga laju kenaikan harga yang sama. Karena itu, ada beberapa level harga penting yang kini menentukan arah selanjutnya.
Resistance kunci pertama berada di kisaran US$37.
Jika HYPE berhasil menutup di atas level ini dengan meyakinkan, reli bisa berlanjut ke sekitar US$42, dengan area US$44 menjadi target breakout penuh dari pola inverse head-and-shoulders. Namun, jika penjual berhasil menekan harga kembali di bawah zona resistance ini, kemungkinan terjadinya koreksi semakin kuat.
Level support pertama muncul di area US$35, di mana saat ini terdapat klaster besar posisi leverage. Jika terjadi break di bawah level ini, likuidasi bisa mendorong harga turun ke kisaran US$33, yang berarti penurunan sekitar 11% dari level saat ini.
Pelemahan lebih dalam ke bawah US$29 akan membatalkan pola breakout bullish sepenuhnya dan bisa memicu pembalikan harga.