Kembali

Emas dan Perak jadi Alternatif Obligasi; Simak Peringatan IMF

Pilih kami di Google
author avatar

Ditulis oleh
Lockridge Okoth

editor avatar

Diedit oleh
Bey

19 Februari 2026 23.29 WIB
  • IMF memperingatkan diversifikasi saham-obligasi sedang melemah.
  • Saham dan obligasi makin sering mengalami penjualan bersama.
  • Emas dan perak muncul sebagai penstabil alternatif.
Promo

Pondasi investasi modern—portofolio saham-obligasi klasik 60/40—mungkin tidak lagi menjadi tempat aman, sehingga kini emas dan perak jadi alternatif saat obligasi melemah. Laporan terbaru menunjukkan bahwa korelasi aset tradisional yang memburuk membuat investor harus kembali menyimak peringatan IMF terkait strategi diversifikasi portofolio mereka.

Sejak pandemi mulai, pergerakan saham dan obligasi semakin sejalan saat terjadi gejolak pasar. Hal ini telah mengikis diversifikasi konvensional selama puluhan tahun dan menciptakan medan risiko baru, baik untuk investor institusi maupun ritel.

Disponsori
Disponsori

Mengapa Saham dan Obligasi Tidak Lagi Menjadi Penyangga Portofolio: Kenaikan Emas dan Perak

International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa keretakan strategi lindung nilai tradisional ini sedang mengubah pasar keuangan.

“Diversifikasi menjadi semakin sulit dalam beberapa tahun terakhir. Saham dan obligasi kini semakin sering mengalami penurunan bersamaan, sehingga melemahkan lindung nilai utama yang andalkan investor selama puluhan tahun. Perubahan ini menghadirkan risiko baru untuk investor dan stabilitas keuangan,” ujar IMF di sebuah postingan yang memaparkan analisisnya.

Secara historis, obligasi berfungsi sebagai penyangga saat harga saham turun. Ketika pasar saham melemah, investor akan beralih ke Treasury, sehingga portofolio tetap stabil dan kerugian berkurang.

Hubungan terbalik ini memungkinkan dana pensiun, perusahaan asuransi, dan strategi risk-parity beroperasi dengan asumsi volatilitas yang dapat di prediksi. Namun, hubungan tersebut mulai goyah di akhir 2019 dan makin cepat saat pandemi di mulai. Kini, saat terjadi penjualan besar di pasar, saham dan obligasi sama-sama turun, sehingga kerugian bertambah dan volatilitas semakin tinggi.

Performa S&P500 dan Obligasi US Treasury 10 Tahun
Performa S&P500 dan Obligasi US Treasury 10 Tahun | Sumber: TradingView
Disponsori
Disponsori

Dampaknya sangat besar. Hedge fund dan strategi risk parity yang mengandalkan korelasi historis, sekarang bisa saja terpaksa mengurangi leverage saat krisis.

Bahkan institusi konservatif seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi juga semakin rentan terhadap pergerakan tidak terduga, sehingga risiko sistemik pun meningkat.

Risk parity, hedge fund, dan US Treasuries
Risk parity, hedge fund, dan US Treasuries | Sumber: Studi IMF

Emas, Perak, dan Aset Alternatif Muncul sebagai Penyelamat Baru Portofolio

Karena lindung nilai konvensional melemah, investor mulai beralih ke aset non-pemerintah. Harga emas sudah naik lebih dari dua kali lipat sejak awal 2024, sedangkan perak, platinum, dan paladium juga melonjak dalam beberapa kuartal terakhir. Mata uang seperti franc Swiss pun semakin jadi incaran sebagai alternatif aset aman.

“IMF mengakui manfaat diversifikasi obligasi sudah hilang! Investor harus menyesuaikan diri! Beli aset langka!” ucap Jeroen Blokland, seorang analis pasar, menegaskan.

Perubahan ini di picu oleh jalinan tekanan ekonomi yang rumit. Peningkatan suplai obligasi untuk membiayai defisit fiskal yang melebar, premi jangka waktu yang tinggi, dan pelambatan pengurangan neraca bank sentral, semuanya mengikis “pelindung” dari surat utang negara.

Tingkat inflasi yang masih di atas target di banyak negara maju juga semakin melemahkan daya tarik obligasi sebagai alat lindung nilai.

IMF menekankan, solusi masalah ini bukan sekadar membeli alternatif aset. Pembuat kebijakan harus mengembalikan kepercayaan pada kerangka kebijakan fiskal dan moneter.

Bank sentral memang bisa intervensi untuk menstabilkan pasar obligasi ketika krisis. Namun, langkah darurat seperti ini tetap memiliki batasan.

Tanpa disiplin fiskal yang kredibel dan stabilitas harga yang berkelanjutan, obligasi negara tak bisa lagi di andalkan sebagai penopang portofolio di masa gejolak.

Artinya, investor harus benar-benar meninjau kembali manajemen risiko. Strategi diversifikasi sekarang harus mempertimbangkan korelasi yang kian tinggi antar aset tradisional, dan portofolio juga perlu memiliki porsi komoditas serta aset privat—meski tentu saja punya risikonya sendiri.

Era lindung nilai otomatis telah berakhir. Emas, perak, dan aset penyimpan nilai non-pemerintah lainnya kini bukan sekadar pelengkap diversifikasi. Aset-aset ini muncul sebagai penyeimbang sangat penting di pasar yang semakin sulit diprediksi.

Bagaimana pendapat Anda tentang emas dan perak sebagai alternatif saat obligasi melemah? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori