Indeks Dolar AS (DXY) turun ke level terendah dalam empat bulan di tengah spekulasi yang berkembang soal “intervensi yen” oleh AS dan Jepang.
Para analis mengingatkan bahwa DXY mungkin masih akan menghadapi tekanan turun lebih lanjut. Saat ini, perhatian pasar mulai bergeser untuk melihat apa dampak kebijakan selanjutnya terhadap aset digital.
SponsoredMengapa Indeks Dolar AS (DXY) Turun?
Indeks Dolar AS (DXY), yang menunjukkan nilai dolar AS terhadap kumpulan enam mata uang utama dunia, semakin tertekan di pasar global. Setelah mencatat kinerja tahunan terburuk sejak 2017, dolar memulai tahun ini dengan posisi yang lemah, menurut The Kobeissi Letter.
Hingga bulan ini, DXY telah turun sekitar 1,5%. Pada waktu publikasi, indeks berada di 97,1, yang merupakan level terendah sejak September. Pada saat yang sama, aset safe haven tradisional seperti emas dan perak turut reli ke rekor tertinggi baru.
“Jika Dolar AS menutup tahun ini di zona merah, maka ini akan menjadi kerugian tahunan dua tahun berturut-turut pertama sejak 2006-2007. Jika Anda lihat lebih luas, ‘misteri’ di balik apa yang terjadi pada emas dan perak menjadi jelas. Penyebut dari SEMUA aset (fiat) sedang memburuk,” terang Adam Kobeissi .
Pelemahan terbaru ini terjadi di tengah spekulasi tentang potensi intervensi yen. Reuters melaporkan bahwa Federal Reserve New York melakukan pengecekan suku bunga pada Jumat lalu, yang dipahami pasar sebagai sinyal bahwa AS bisa saja mendukung Jepang dalam melakukan intervensi pasar valuta asing.
Ekspektasi aksi bersama mendorong yen ke level tertinggi dalam dua bulan dan menekan dolar. Sementara itu, investor bersikap hati-hati menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve yang akan datang serta kemungkinan pengumuman pemerintahan Trump terkait pengganti Jerome Powell.
Meski Presiden Trump sudah berulang kali menyerukan pemangkasan suku bunga secara agresif, ekspektasi pasar terhadap perubahan kebijakan dalam waktu dekat masih rendah. Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas pemotongan suku bunga sebesar 25 bps hanya berada di 2,8%.
Sponsored SponsoredAnalis Soroti Prospek Bearish untuk Indeks Dolar AS
Di tengah kondisi ini, para analis memperingatkan bahwa risiko penurunan lebih lanjut masih membayangi Indeks Dolar AS. Analis pasar Rashad Hajiyev menuturkan bahwa pertemuan FOMC yang sudah dijadwalkan bisa menjadi katalis terjadinya breakdown di bawah level support 18 tahun DXY.
“Saya percaya, Federal Reserve Open Market Committee pekan depan bisa menjadi pemicu breakdown besar sehingga DX awalnya menuju US$85 lalu ke US$75. Potensi penjualan dolar berikutnya bisa menjadi katalis lanjutan reli pada emas dan perak,” tulisnya.
Analis lainnya, Ted Pillows, menyoroti pola descending triangle pada grafik DXY. Pola teknikal ini sering dihubungkan dengan pergerakan bearish lanjutan.
SponsoredStruktur ini mengindikasikan tekanan turun yang semakin besar dan menambah kekhawatiran bahwa indeks dapat mengalami penurunan lebih dalam lagi.
Akankah Kekuatan Yen dan Kelemahan US$ Mengubah Arah Bitcoin?
Pergerakan DXY berikutnya dapat memberikan dampak penting bagi pasar kripto. Secara historis, Bitcoin, aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar, menunjukkan korelasi terbalik dengan Indeks Dolar AS. Karena itu, jika DXY terus melemah, ini bisa mendukung momentum kenaikan BTC.
Di saat yang sama, dolar yang melemah biasanya menurunkan biaya pinjaman, meningkatkan likuiditas global, dan mendorong aksi spekulatif, yang merupakan kondisi ideal bagi aset digital.
Sponsored SponsoredMenariknya, salah satu analis menyoroti bahwa korelasi Bitcoin dengan yen Jepang kini mendekati rekor tertinggi. Ini mengindikasikan bahwa jika intervensi yen berhasil menguatkan mata uang tersebut maka bisa juga mendukung BTC.
“Masih ada ratusan miliar dolar AS yang terikat dalam yen carry trade,” tulis posting-an tersebut. “Jadi, penguatan yen menciptakan risiko jangka pendek untuk aset kripto. Tapi pelemahan dolar AS memberi potensi kenaikan dalam jangka panjang. Karena Bitcoin masih jauh di bawah puncak 2025. Bitcoin adalah salah satu aset utama yang belum sepenuhnya menyesuaikan harga terhadap penurunan nilai mata uang. Jika terjadi intervensi terkoordinasi dan dolar AS melemah, modal akan mencari aset yang masih murah dibanding perubahan makro. Secara historis, aset kripto sangat diuntungkan dalam situasi seperti ini.”
Analis Donny menambahkan bahwa pergerakan DXY dapat berdampak langsung dan tertunda pada aset berisiko. Ia tutur bahwa jika DXY turun di bawah level kunci 96,2, efeknya akan terasa sekitar April atau Mei 2026.
“BTC bisa dan menurut saya masih akan bergerak naik dalam waktu dekat karena saya perkirakan akan terjadi pergerakan mean reversion bersamaan dengan MSTR. Tapi mengetahui bahwa DXY sedang jatuh di latar belakang membuat target all-time high naik cukup banyak. Jika pelemahan DXY berlanjut hingga ke bawah level 96,2, efeknya akan terasa sekitar April/Mei. Banyak potensi kenaikan bertumpuk di paruh pertama 2026. Konfirmasi di atas 107,4K BTC dan 231 MSTR, di bawah 96,2 DXY,” jelas dia dalam keterangannya.
Beberapa minggu ke depan mungkin akan menentukan arah dolar AS dan juga jalur pasar aset kripto.