Kembali

Institusi Tidak Membeli Aset Kripto, Mereka Membeli Infrastruktur

Pilih kami di Google
sameAuthor avatar

Ditulis & Diedit oleh
Mohammad Shahid

19 Februari 2026 05.38 WIB
  • institusi berinvestasi pada infrastruktur aset kripto dan tokenisasi, bukan pada token spekulatif.
  • Sebagian besar eksposur institusional berfokus pada Bitcoin, Ethereum, dan aset dunia nyata di chain.
  • Model valuasi yang lemah dan kurangnya pendapatan nyata membatasi adopsi institusional yang lebih luas.
Promo

Modal institusi mulai mengalir ke pasar digital. Tapi, mereka tidak memburu altcoin spekulatif, melainkan mengincar tokenisasi, kustodi, dan infrastruktur on-chain.

Inilah pesan utama dari panel BeInCrypto Digital Summit terbaru, di mana para eksekutif dari berbagai exchange, infrastruktur, dan platform tokenisasi berdiskusi tentang bagaimana keuangan tradisional mendekati aset kripto.

Diskusi ini menghadirkan Federico Variola, CEO Phemex; Maria Adamjee, Global Head of Investor Relations and Market Structure di Polygon; Jeremy Ng, Founder dan CEO OpenEden; serta Gideon Greaves, Head of Investment di Lisk. 

Sponsored
Sponsored

Eksposur Operasional, Bukan Spekulasi

Maria Adamjee, Global Head of Investor Relations and Market Structure di Polygon, mengatakan bahwa institusi kini tak lagi memperdebatkan apakah aset kripto layak masuk portofolio. Saat ini, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menentukan porsinya.

“Institusi tak lagi memperdebatkan apakah kripto layak dimiliki,” ujar Maria Adamjee dari Polygon. “Sekarang mereka mencari tahu bagaimana menentukan porsi kripto sebagai kelas aset baru.”

Namun, dia menegaskan bahwa sebagian besar manajer aset besar tidak langsung mengambil risiko saldo modal atas token yang volatil. Sebagai gantinya, mereka mencari “eksposur operasional” melalui tokenisasi, kustodi, dan penyelesaian on-chain.

Dengan kata lain, mereka membeli akses ke infrastruktur, bukan berspekulasi atas fluktuasi harga.

Keyakinan Masih Diuji

Federico Variola, CEO Phemex, menyuarakan nada yang lebih hati-hati. Ia mempertanyakan apakah institusi benar-benar telah berkomitmen untuk jangka panjang.

“Tidak banyak perusahaan yang benar-benar terjun penuh ke kripto,” ucap CEO Phemex. Banyak institusi, tambahnya, membentuk kemitraan dengan cara yang tidak mengganggu lini bisnis utama mereka.

Ia memperingatkan bahwa antusiasme saat ini bisa saja tidak bertahan jika terjadi penurunan berkepanjangan. “Jika kita memasuki periode bear yang lebih lama, mungkin minatnya tidak akan sebesar yang kita lihat sekarang,” tutur dia.

Sponsored
Sponsored

Hal itu menimbulkan pertanyaan krusial. Apakah institusi membangun alokasi strategis, atau mereka hanya sekadar berjaga dari disrupsi dengan membatasi risiko?

Tokenisasi Sebagai Jembatan

Jeremy Ng, founder sekaligus CEO OpenEden, berpendapat bahwa kasus paling kuat untuk institusi ada pada aset dunia nyata yang ditokenisasi.

Ia menyoroti semakin besarnya partisipasi hedge fund di kripto dan peningkatan rencana eksposur hingga 2026. Ia juga menekankan bahwa tokenisasi menjawab persoalan praktis: biaya.

“Ketika manajer aset besar menempatkan produk di on-chain, biaya menjadi turun,” terang Ng. Blockchain dapat menggantikan agen transfer dan administrator dana karena berperan sebagai lapisan pencatatan bukti.

Bagi institusi, ini lebih soal efisiensi, bukan ideologi.

Sponsored
Sponsored

Gap Struktur Pasar

Namun, hambatan struktural masih tetap ada.

Adamjee dari Polygon menjelaskan bahwa institusi kesulitan menilai harga sebagian besar token kripto. “Apakah harga token berdasarkan pendapatan, atau nilai jaringan?” tanyanya. “Tidak ada rasio P/E yang jelas untuk token ini.”

Akibatnya, alokasi institusi condong kuat ke Bitcoin, Ethereum, dan aset infrastruktur. Pasar altcoin secara umum masih kekurangan kerangka penilaian yang diandalkan keuangan tradisional.

Ng sependapat dengan hal ini. “90% token yang telah diluncurkan sebenarnya tidak punya bisnis nyata,” papar dia. “Token-token itu juga tidak menghasilkan biaya.”

Tanpa model pendapatan dan akumulasi nilai yang jelas, banyak token gagal lolos due diligence institusi.

Lebih Sedikit Token, Lebih Banyak Bisnis Nyata?

Variola mengakui bahwa industri sendiri turut bertanggung jawab. Menurut dia, exchange seringkali terlalu agresif dalam memasarkan listing baru.

Sponsored
Sponsored

“Sebagai industri, kita seharusnya melakukan pengawasan lebih baik,” ucap Ng, seraya menambahkan seharusnya jumlah token memang tidak sebanyak sekarang.

Adamjee dari Polygon juga setuju bahwa insentif saat ini justru mendorong penerbitan token secara massif. Exchange mendapatkan biaya dari setiap listing, sehingga ada ketegangan antara pertumbuhan dan kontrol kualitas.

Dinamika seperti itu menyulitkan adopsi institusi. Manajer aset besar butuh transparansi, pendapatan stabil, dan struktur pasar yang terduga.

Utamakan Infrastruktur

Secara keseluruhan, pesan panel ini cukup jelas. Institusi tidak serta-merta mengadopsi kultur kripto seluruhnya. Mereka justru mengintegrasikan blockchain demi meningkatkan efisiensi.

Mereka lebih memilih aset low-volatility, instrumen teregulasi, serta versi tokenisasi dari produk tradisional. Mereka membangun eksposur pada infrastruktur dasarnya.

Untuk saat ini, infrastruktur dan tokenisasi menjadi fokus utama, sedangkan token spekulatif masih tertinggal.

Fase berikutnya dari adopsi institusi mungkin tak lagi bergantung pada siklus harga, melainkan lebih pada apakah kripto bisa membangun bisnis yang familier bagi modal tradisional — lengkap dengan pendapatan, struktur, dan akuntabilitas yang memadai.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori