Sebuah penurunan 80% biasanya akan menandai akhir dari sebuah perdagangan spekulatif. Tapi di ekosistem kripto Korea Selatan yang didominasi oleh ritel, justru terjadi sebaliknya.
BitMine Immersion Technologies, perusahaan asal AS yang terdaftar di bursa dan didukung oleh Tom Lee, yang bertransformasi jadi wadah penyimpanan Ether, sekarang menempati posisi kedua setelah Alphabet sebagai saham luar negeri paling banyak dibeli investor Korea Selatan pada 2025.
SponsoredInvestor Ritel Korea Terus Beli BitMine Tom Lee, meski Sahamnya Ambruk
Posisi itu tetap bertahan meskipun saham BitMine anjlok sekitar 82% dari puncaknya di bulan Juli, menghapus sebagian besar keuntungan dari reli yang sangat besar pada awal tahun ini.
Menurut analis on-chain AB Kuai Dong, walaupun BitMine dan Circle (penerbit USDC) sama-sama turun lebih dari 70% dari titik tertingginya, keduanya tetap masuk sepuluh besar sekuritas luar negeri paling banyak dibeli warga Korea tahun ini. BitMine hanya terpaut satu posisi di bawah Alphabet Inc., yang merupakan induk Google.
“Kawan-kawan Korea justru makin banyak membeli setiap kali rugi,” tulisnya lewat X.
Pusat dari aksi ini adalah pergeseran radikal BitMine. Dulu hanya sekadar Bitcoin miner kecil, kini perusahaan ini berubah haluan menjadi tempat penyimpanan Ether, meniru strategi populer milik Michael Saylor namun menggunakan ETH alih-alih BTC.
Transformasi ini sempat menjadikan BitMine fenomena pasar, membuat sahamnya melonjak lebih dari 3.000% hingga puncaknya di bulan Juli. Lonjakan itu terjadi karena trader ritel beramai-ramai ingin mendapatkan eksposur terhadap akumulasi Ethereum melalui pasar saham.
Sponsored SponsoredTapi efek baliknya cepat terasa. Harga saham BitMine ambruk, volatilitas melonjak, dan produk leverage yang terkait saham tersebut ikut anjlok. Meski begitu, trader Korea masih tetap membeli.
Data dari Korea Securities Depository yang dikutip Bloomberg mencatat investor ritel Korea Selatan menggelontorkan dana bersih sebesar US$1,4 miliar ke saham BitMine di 2025. Bahkan mereka juga menanamkan US$566 juta ke dalam ETF leverage 2x yang terhubung dengan saham tersebut, meski kerugian semakin membesar.
Faith Capital, logika menimbun, dan keinginan Korea membeli rasa sakit
Bagi pihak luar, perilaku ini terlihat tidak rasional. Tetapi di kalangan komunitas kripto, hal ini punya logika tersendiri. Anggota komunitas Korea menyebut fenomena ini sebagai “logika menimbun aset,” dan meyakini bahwa arus modal yang didorong oleh keyakinan tidak selalu mengikuti grafik harga.
Sponsored“Arus modal berbasis keyakinan ≠ grafik harga, gelombang ini di Korea sama persis dengan logika penimbunan di on-chain,” ujar mereka melalui X.
Intinya, infrastruktur dipandang lebih penting dibandingkan penurunan harga. Jika Ether diyakini sebagai layer settlement jangka panjang, maka wadah treasury berbasis ETH justru makin menarik saat harga turun, bukan sebaliknya. Sentimen sosial pun cenderung mendukung pandangan ini.
“Soal loyalitas di dunia kripto, Korea nomor satu di dunia,” ucap pengguna lain di X, menegaskan kepercayaan lama bahwa pasar Korea seringkali diwarnai keyakinan investor ritel yang jauh lebih besar dari manajemen risiko itu sendiri.
Circle jadi taruhan paralel saat ritel Korea memilih infrastruktur aset kripto daripada harga
Bukan hanya BitMine yang mendapat manfaat dari pola pikir seperti ini. Circle Internet Financial, penerbit USDC, juga menyedot banyak dana dari investor Korea.
Investor Korea menyalurkan hampir US$1 miliar ke saham Circle, menjadikannya salah satu saham luar negeri terkait kripto terfavorit, meski mengalami volatilitas tajam setelah IPO.
Sponsored SponsoredPermintaan besar ini sepertinya berasal dari sikap optimistis terhadap regulasi stablecoin, baik di AS maupun di bawah pemerintahan baru Korea Selatan yang mendorong akses pasar kripto domestik dan membuka peluang penerbitan stablecoin lokal.
BeInCrypto melaporkan pada Oktober bahwa Circle mencatat US$2,4 triliun aktivitas stablecoin di Asia-Pasifik sepanjang tahun keuangan Juni 2024-2025.
Di Jepang, FSA (Financial Services Agency) mengesahkan JPYC sebagai stablecoin pertama yang menggunakan yen untuk diluncurkan akhir tahun ini. Circle ikut berinvestasi pada JPYC lewat pendanaan Seri A, dan berhasil menggalang sekitar 500 juta yen secara total.
Bersama-sama, BitMine dan Circle menunjukkan sebuah tesis yang lebih luas sedang bekerja. Investor ritel Korea tidak hanya memperdagangkan token, tapi mereka juga mendahului infrastruktur kripto lewat ekuitas, meskipun saat harga aset kripto anjlok dengan tajam.
Lebih dari US$10 miliar arus masuk ekuitas luar negeri dari Korea Selatan terjadi pada 2025. Sebagian besar menyasar tema berisiko tinggi, termasuk aset kripto, AI, dan semikonduktor.
Apakah ini sebuah visi ke depan atau sudah jadi normalisasi rasa sakit? Dengan semakin banyak institusi yang bullish terhadap Bitcoin dan aset digital menuju 2026, mungkin investor ritel Korea sudah mulai mempersiapkan diri lebih awal untuk siklus berikutnya. Di sisi lain, tahun 2026 juga bisa saja membawa pemahaman baru bahwa penurunan tajam adalah harga yang wajar demi sebuah keyakinan.