Pemerintah Jepang sedang mendorong dana pensiun publik untuk membeli lebih banyak aset dalam negeri, meskipun Bank of Japan menaikkan suku bunga dan mengurangi kepemilikan obligasinya. Kini, kebijakan Jepang mempertemukan stimulus fiskal dengan pengetatan moneter.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama minggu ini menyampaikan bahwa Jepang ingin Dana Investasi Pensiun Pemerintah (Government Pension Investment Fund) dan dana publik lainnya menambah porsi kepemilikan di dalam negeri. Tujuannya yaitu agar obligasi dan yen tetap stabil saat BOJ menarik diri.
Pemisahan Kebijakan Jepang Dilakukan dengan Sengaja
Government Pension Investment Fund mengelola sekitar US$1,8 triliun, sehingga menjadi yang terbesar di dunia. Hampir setengah portofolio berada di saham dan obligasi luar negeri, jadi meski ada sedikit pergeseran saja ke dalam negeri, itu bisa menggerakkan pasar global. Langkah ini muncul setelah sebelumnya para anggota parlemen meminta untuk lebih banyak berinvestasi di dalam negeri.
Sinyal itu muncul di tengah inflasi yang panas. Harga produsen naik 7,1% pada Juni, meningkat dari 6,6% di Mei, menurut data resmi. Minyak, listrik, dan plastik mendorong kenaikan tersebut, dan biasanya inflasi yang naik akan menaikkan yield obligasi. Namun, yield 10-tahun justru turun 10 basis poin menjadi 2,775% setelah kabar tentang dana pensiun.
Sementara itu, BOJ menaikkan suku bunga acuannya ke 1%, tertinggi sejak 1995, dan terus mengurangi pembelian obligasi.
Pemerintah justru memilih langkah berlawanan. Perdana Menteri Sanae Takaichi berencana memotong pajak konsumsi dan memberikan bantuan tunai melalui utang baru. Jepang sudah merasakannya pada Januari lalu, ketika yield 40-tahunnya untuk pertama kali menembus 4% pada penjualan besar-besaran obligasi yang mencetak rekor.
“Jepang kini melakukan pengetatan kebijakan, mengurangi neraca, dan memperluas pengeluaran fiskal, semuanya bersamaan, hal ini belum pernah terjadi sebelumnya,” komentar analis Bull Theory .
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terkini secara langsung
Sejarah Mengingatkan Bagaimana Hal Ini Bisa Berakhir
Pemerintah lain juga pernah mencoba menggabungkan ekspansi fiskal dengan pengetatan moneter. Namun, hanya sedikit kasus yang berakhir tenang.
Pada September 2022, mini-budget senilai 45 miliar poundsterling Inggris menerpa pasar ketika Bank of England sedang menaikkan suku bunga. Yield obligasi pemerintah 30-tahun melonjak sekitar 120 basis poin hanya dalam beberapa hari karena dana pensiun dengan leverage harus menjual aset untuk memenuhi margin call.
Bank pusat terpaksa turun tangan dengan bantuan darurat, dan Perdana Menteri Liz Truss mundur setelah 49 hari berkuasa.
Turki menunjukkan versi yang lebih lambat. Presiden Recep Tayyip Erdogan mendesak penurunan suku bunga meski inflasi tinggi dan mengganti gubernur bank sentral yang menentang. Mata uang lira kehilangan sekitar 44% nilainya pada 2021, dan inflasi kemudian sempat melampaui 85%.
Ketegangan seperti ini sudah lama ada. Pada tahun 1951, Perjanjian Treasury-Fed di Amerika Serikat membebaskan The Fed dari dukungan utang murah yang berlangsung bertahun-tahun.
Sebelumnya, mereka menahan yield jangka panjang mendekati 2,5% untuk membiayai Perang Dunia II, yang menjadi contoh klasik fiscal dominance.
Mengapa Pasar Kripto Perlu Memperhatikan
Jepang penting bagi aset digital karena adanya yen carry trade. Investor meminjam yen murah untuk membeli aset dengan imbal hasil lebih tinggi di luar negeri. Estimasi nilainya mencapai beberapa triliun dolar AS.
Setelah BOJ menaikkan suku bunga pada Juli 2024, perdagangan itu pun cepat terurai. Pada awal Agustus, indeks Nikkei 225 anjlok 12,4% dalam satu sesi—terburuk sejak 1987. Bitcoin (BTC) juga anjlok di bawah US$50.000.
Kondisi ini terasa akrab. Posisi short yen baru-baru ini mencatat level tertinggi sejak 2024. Para analis pun mengingatkan bahwa pasar obligasi Jepang bisa mengganggu reli saham dan kripto berbasis uang murah. Jepang menanggung beban utang terberat di dunia maju, lebih dari dua kali lipat PDB-nya, sehingga ruang untuk melakukan kesalahan sangatlah kecil.
Apakah Jepang bisa menampung kenaikan utang tanpa kejutan bisa bergantung pada seberapa banyak dana pensiun benar-benar membeli, serta berapa lama BOJ terus mengetatkan kebijakan. Pasar yang dulunya mengabaikan Tokyo kini memperhatikan setiap sinyalnya.









