Tiga meja trading Wall Street yang paling diperhatikan kini berada di posisi berlawanan dalam perdagangan minyak yang sama. Perbedaan di antara mereka mungkin akan menentukan arah pergerakan pasar selama beberapa minggu ke depan.
Perbedaan pendapat ini berpusat pada satu angka kunci: US$100 per barel minyak. Apakah harga West Texas Intermediate (WTI) akan tetap di atas angka tersebut, atau justru jatuh secepat saat melesat naik, sangat berpengaruh langsung pada pasar saham, inflasi, dan jalur suku bunga The Fed hingga 2026.
Skenario Bear: Minyak US$100 Mematahkan Pemulihan
Andrew Tyler dari JPMorgan mengungkapkan dampak negatifnya secara nyata. Ia memperingatkan bahwa S&P 500 bisa turun 10% dari puncaknya jika konflik Iran mendorong harga minyak menembus US$100 dan risiko terhadap pasokan energi terus meningkat.
Masalah utama saat ini, terang Tyler, adalah posisi investor. Mereka memasuki situasi ini dalam kondisi netral terhadap sektor energi, sebab sebelumnya banyak pelaku pasar sudah menjual saham minyak karena memperkirakan eskalasi akan mereda. Kondisi tersebut membuat portofolio rentan dan tidak punya bantalan jika situasi memburuk.
“Investor kurang siap… sinyal bearish secara taktis akan berakhir jika konfliknya selesai, karena fundamental makro masih mendukung,” tulis Deaton, mengutip Tyler.
Rekan Tyler, Mislav Matejka, memperkirakan akan ada tekanan jangka pendek sebelum pasar stabil. Ia menilai, kondisi ini hanya berlangsung selama beberapa minggu, bukan bear cycle berbulan-bulan.
Matejka melihat peluang terbentuknya titik dasar pasar dalam minggu ini atau berikutnya. Setelah itu, sektor yang kondisinya sudah oversold (seperti industrial, semikonduktor, consumer discretionary, emerging market, dan zona euro) bisa menjadi pintu masuk bagi investor.
“Risiko jangka pendek masih ada, terutama dari minyak dan obligasi. Harga minyak bisa saja melonjak lebih tinggi dalam waktu dekat, meski kenaikannya belum sebesar saat perang Rusia-Ukraina, sementara harga bensin di AS sudah naik 10–15%,” ucapnya.
Saham AI hyperscaler dan saham tertinggal yang sudah jatuh dalam juga kemungkinan bisa mengalami rebound jangka pendek begitu gelombang pengurangan risiko berlalu.
Sementara itu, suara ketiga dari JPMorgan menghadirkan peringatan lebih struktural. Phoebe White berpendapat ancaman minyak bergerak dalam dua fase.
- Dalam jangka pendek, kenaikan harga minyak meningkatkan ekspektasi inflasi.
- Jika harga bertahan di atas US$100 lebih lama, bisa menekan permintaan konsumen dan pada akhirnya justru membuat inflasi turun, bukan naik, sementara sentimen pemulihan bisnis yang sebelumnya sudah diperhitungkan pasar juga bisa goyah.
Inilah Variabel The Fed
Barclays memberikan sudut pandang terkait kebijakan. Jonathan Miller menyebut kenaikan harga minyak sebagai risiko tunggal terbesar bagi proyeksi inflasi saat ini.
Bank tersebut masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali sebesar 25 basis poin, masing-masing pada Juni dan Desember 2026. Meski begitu, mereka menyorot harga minyak sebagai faktor krusial yang bisa saja menggagalkan jadwal pemangkasan itu sepenuhnya.
namun, data dari CME FedWatch Tool menunjukkan para penjudi pasar bertaruh The Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga hingga pertengahan 2026.
Saat ini, pasar hanya memperkirakan pemangkasan suku bunga 1–2 kali sebesar 25 bps sampai akhir tahun, sehingga total pelonggaran hanya 25–50 bps untuk sisa 2026.
“Kenaikan harga minyak 10% bisa meningkatkan inflasi sekitar 0,2 poin persentase dalam beberapa bulan. Barclays kini memperkirakan CPI Desember 2026 berada di 2,7%, sementara data terbaru masih menunjukkan pasar tenaga kerja stabil dan belanja konsumen perlahan melambat,” tulis mereka.
Menariknya, proyeksi dasar itu hanya berlaku kalau harga energi tidak terus naik. Sementara itu, harga bensin AS sekarang sudah naik 10–15%, menurut Matejka, di mana efek ini biasanya langsung mengurangi kepercayaan konsumen sebelum akhirnya tercermin dalam data inflasi resmi.
Counter Trade: Harga Minyak Bisa Berbalik Sama Cepatnya
Meski begitu, tidak semua pihak yakin lonjakan harga minyak akan bertahan lama. Derek Podhaizer dari Piper Sandler justru mengambil pandangan berlawanan paling tajam.
Ia menyoroti bahwa saham layanan ladang minyak AS hampir tidak bergerak meskipun harga WTI melonjak sekitar 40% pada pekan sebelumnya. Halliburton hanya turun sekitar 5%, kurang lebih sejalan dengan VanEck Oil Services ETF (OIH).
Bagi Podhaizer, reaksi yang datar tersebut menceritakan sesuatu yang spesifik. Kenaikan sepanjang tahun ini sebenarnya sudah memperhitungkan ekspektasi energi yang tinggi. Karena itu, produsen sepertinya tidak akan langsung menambah pengeboran secara cepat karena mereka tetap disiplin dalam penggunaan modal.
“Jika konflik segera mereda, harga minyak bisa turun secepat kenaikannya, sehingga menciptakan risiko koreksi pada saham layanan minyak,” terang Podhaizer .
Dengan kata lain, pasar tidak percaya lonjakan ini akan bertahan lama.
Saham-saham yang terpapar di Timur Tengah sudah mencerminkan ketidakpastian tersebut. SLB dan National Energy Services Reunited sama-sama terdampak oleh risiko terkait potensi gangguan di Selat Hormuz.
Kedua pandangan ini menghasilkan strategi yang sangat berbeda.
- Jika tesis minyak sebagai guncangan ekonomi makro dari JPMorgan benar, maka pelemahan saham akan berlanjut, The Fed menahan suku bunga lebih lama dari perkiraan, dan posisi defensif menjadi langkah utama yang diambil.
- Jika skenario pembalikan ala Piper Sandler terjadi, aksi jual saat ini akan menjadi peluang beli seperti yang dijelaskan Matejka. Artinya, aksi ini hanya sesaat, dipicu penyesuaian posisi, dan pada akhirnya tidak bertahan lama.
Tyler sendiri mengakui hal ini. Ia menuturkan, pandangan bearish akan selesai begitu konflik terselesaikan, karena fundamental ekonomi makro dasarnya tetap mendukung.
Jadi, ceritanya bukan apakah pasar gagal atau tidak. Tapi, apakah geopolitik akan memberi alasan bagi pasar untuk pulih. Jawaban dari pertanyaan ini ada di antara Teheran dan harga US$100 per barel.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara real-time
Subscribe channel YouTube kami untuk menyaksikan para pemimpin dan jurnalis membagikan analisis ahli