Pasar kripto mengalami volatilitas di tahun 2026, dengan meningkatnya ketegangan geopolitik yang semakin memicu sentimen risk-off. Namun, ada satu sektor yang justru menunjukkan pertumbuhan pesat.
Pada Maret 2026, pasar stablecoin melonjak ke level tertinggi sepanjang masa. Tren ini menegaskan bahwa stablecoin digunakan untuk jauh lebih banyak hal daripada hanya trading aset kripto.
Stablecoin Catat Rekor Kapitalisasi Pasar saat Use Case Baru Muncul
Berdasarkan data dari DefiLlama, total kapitalisasi pasar stablecoin menembus US$313 miliar pada 8 Maret, mencetak rekor baru. Pada saat publikasi artikel ini, nilainya berada di US$312,99 miliar. Pencapaian ini mencerminkan peningkatan penerbitan dan likuiditas stablecoin.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara real-time
Selain itu, sejauh tahun 2026, kapitalisasi pasar stablecoin telah naik sekitar 1,8%. Analis sering menggambarkan stablecoin sebagai “dry powder” untuk pasar aset kripto. Banyak investor memakai stablecoin sebagai mata uang dasar untuk trading.
Saat jumlah stablecoin bertambah, analis biasanya menafsirkan hal itu sebagai masuknya likuiditas baru ke dalam ekosistem, sebagai modal yang siap untuk dialirkan ke aset kripto oleh investor.
Tapi, narasi “dry powder” ini tidak selalu berlaku. Menurut analis Darkfost, arus bersih stablecoin ke exchange kripto masih negatif sejak awal tahun 2026.
Di antara platform utama, arus keluar bulanan dari Binance sekitar US$2 miliar, diikuti Bitfinex yang sekitar US$336 juta. Meski demikian, laju arus keluar ini nampaknya mulai melambat. Pada 15 Februari, angkanya masih berada di kisaran US$6,7 miliar dan sekitar US$443 juta.
Meski terjadi arus keluar signifikan, likuiditas jelas berpindah ke tempat lain. Bertambahnya pasokan stablecoin tidak selalu mencerminkan permintaan hanya dari para trader kripto. Hal ini juga menandakan semakin luasnya adopsi stablecoin di ekosistem keuangan secara umum.
Sebuah laporan dari International Monetary Fund menyoroti semakin besarnya peran stablecoin dalam pengiriman uang lintas negara. Survei oleh BVNK terhadap 4.658 responden di 15 negara menunjukkan stablecoin telah membuka berbagai peluang baru, terutama di wilayah yang infrastruktur pembayaran konvensionalnya penuh hambatan.
Hasil survei itu memperlihatkan bahwa bagi mereka yang menerima pembayaran dalam stablecoin, sekitar sepertiga dari pendapatan tahunan mereka berasal dari aset ini. Selain itu, manfaat stablecoin secara bisnis-ke-bisnis (B2B) juga makin berkembang.
“Awalnya stablecoin hanya dipakai untuk trading kripto, namun sekarang sudah berkembang sebagai solusi menghadapi mata uang berinflasi tinggi, trading saham yang ditokenisasi, bahkan untuk berinvestasi GPU demi mendorong revolusi AI,” terang laporan tersebut.
Selain itu, Circle Internet Group dan Stripe sedang mengembangkan sistem pembayaran masa depan, di mana agen AI otonom dapat bertransaksi memakai stablecoin. Inisiatif ini memperlihatkan adanya peluang penggunaan stablecoin yang terus muncul.
“Selama 30 hari terakhir, volume x402 baru mencapai US$24 juta; ada 40.000 agen on-chain (yang cukup baik); dan total aktivitas pembayaran agen sebesar US$50 juta. Bandingkan dengan volume penyelesaian stablecoin tahunan sebesar US$46 triliun. Memang, penggantian tidak terjadi dalam waktu dekat, namun semua raksasa pembayaran global tidak akan mempertimbangkannya jika peluangnya tidak nyata!,” komentar seorang analis di sini.
Semua perkembangan ini menandakan bahwa penggunaan stablecoin jauh melampaui aktivitas trading kripto. Menurut Darkfost, tren pasar positif bisa terjadi jika likuiditas yang sekarang keluar atau dialihkan kembali ke pasar aset digital.