Nikkei 225 Jepang hampir tidak bergerak pada hari Selasa meski ada intervensi bersejarah bersama antara AS dan Jepang untuk menopang yen. Tetapi kegagalan Kioxia Holdings dalam capaian laba menandakan tekanan besar belum benar-benar muncul.
Tokyo dan Washington turun tangan untuk menghentikan pelemahan yen yang sudah berlangsung berbulan-bulan dan, beberapa hari setelah itu, Kioxia menyampaikan panduan laba yang mengecewakan. Sampai saat ini, pasar masih menanggapi kedua peristiwa tersebut dengan tenang. Namun, risiko utama, yaitu kemungkinan kenaikan suku bunga BOJ dan penguatan nilai tukar yen yang masih berpotensi terjadi, tetap belum terpecahkan.
Reaksi yang Masih Datar sejauh Ini
Nikkei 225 turun tipis, sebesar 0,6% ke sekitar 63.300 pada hari Selasa. Penurunan ini memanjang setelah koreksi 1,4% pada hari Senin.
Kedua pergerakan ini nampak ringan jika dibandingkan dengan aksi jual yang dikhawatirkan oleh para trader. Tokyo dan Washington baru saja mengonfirmasi intervensi pembelian yen secara terkoordinasi pertama dalam beberapa dekade.
Saham Kioxia Holdings justru sedikit menguat pada hari Selasa. Namun, saham-saham lain di Jepang, seperti SoftBank Group dan Advantest, mengalami penurunan karena saham chip memimpin koreksi.
Pergerakan ini terjadi setelah harga saham Kioxia anjlok 65% dari puncaknya di bulan Juni. Penurunan besar ini sebelumnya sudah memicu spekulasi mengenai pembayaran dividen kepada pemegang saham sebelum laporan laba yang rilis hari Jumat.
Yen sempat stabil di kisaran 155 sampai 157 per US dollar. Mata uang ini sempat menguat hingga 3,8% dalam dua sesi pekan lalu, ketika Menteri Keuangan Satsuki Katayama dan Treasury Secretary Scott Bessent mengonfirmasi aksi bersama tersebut.
Mengapa Kioxia Masih Mengalami Tekanan
Panduan laba operasi Kioxia untuk paruh pertama tahun fiskal meleset dari estimasi analis pada 31 Juli. Di hari yang sama, perusahaan mengumumkan pemecahan saham tiga banding satu dan pembelian kembali saham, namun langkah ini belum menjawab masalah kekurangan laba itu sendiri.
Penguatan yen justru memperparah situasi. Kioxia sebagai produsen chip memori yang banyak mengekspor tentu akan kehilangan nilai dalam penjualan luar negeri ketika mata uang menguat. Hal ini menambah tekanan kurs ke prospek bisnis yang memang sudah dikoreksi turun.
Situasi semakin rumit karena waktunya kurang tepat. Harga chip memori global masih naik turun, dan perdagangan chip AI secara umum juga melemah sepanjang Juli. Para pesaing dari Korea Selatan seperti SK Hynix dan Samsung Electronics juga mengalami fluktuasi tajam selama periode tersebut.
Risiko yang lebih besar justru datang dari Bank of Japan (BOJ). Bank sentral mempertahankan suku bunga di 1% minggu lalu namun tetap membuka peluang kenaikan. Bessent juga berulang kali mendesak Gubernur Kazuo Ueda agar memperketat kebijakan lebih lanjut.
Pertemuan kebijakan BOJ berikutnya pada September adalah momen penting yang sangat diperhatikan trader. Kenaikan suku bunga bisa membuat ruang penguatan yen semakin lebar. Para pejabat pemerintah juga sudah memberi sinyal siap melakukan intervensi lagi jika yen kembali melemah ke level terendahnya.
Kombinasi faktor ini menempatkan Kioxia dalam posisi sulit. Perusahaan sudah gagal memenuhi panduan laba sendiri, sementara nilai tukar yang menjadi andalan Kioxia justru berpotensi lanjut naik.
Pergerakan penurunan lebih lanjut pada saham Kioxia bisa jadi bukan sepenuhnya akibat angka keuangan perusahaan. Bahkan, nasib harga saham Kioxia bisa sangat bergantung pada keputusan BOJ enam minggu lagi.









