Kembali

Ancaman Kuantum Terhadap Valuasi Bitcoin

Pilih kami di Google
author avatar

Ditulis oleh
Kamina Bashir

editor avatar

Diedit oleh
Bey

16 Februari 2026 17.58 WIB
  • Willy Woo mengatakan ketakutan terhadap komputasi kuantum telah memutus tren kinerja Bitcoin yang mengungguli emas selama 12 tahun.
  • pasar mungkin sedang menghargai risiko dari BTC “hilang” yang diaktifkan kembali di tengah ancaman kuantum di masa depan.
  • Charles Edwards mengatakan ketakutan terhadap kuantum mungkin telah berkontribusi pada lemahnya harga Bitcoin baru-baru ini.
Promo

Risiko komputasi kuantum mulai membebani valuasi relatif Bitcoin (BTC) terhadap emas, menurut analis Willy Woo.

Perkembangan komputasi kuantum telah menimbulkan kekhawatiran di sektor teknologi dan keuangan, karena kemajuan di masa depan berpotensi merusak standar enkripsi saat ini. Walaupun kemampuan tersebut belum dianggap akan terjadi dalam waktu dekat, ancaman jangka panjang itu menimbulkan pertanyaan tentang model keamanan Bitcoin dan bagaimana pasar menilai ketidakpastian itu.

Sponsored
Sponsored

Apakah Quantum Computing Sudah Masuk ke Dalam Persamaan Valuasi Bitcoin?

Woo berpendapat bahwa selama 12 tahun terakhir, keunggulan Bitcoin terhadap emas telah runtuh, menandakan pergeseran struktural yang signifikan. Ia menunjuk pada meningkatnya kesadaran pasar terhadap risiko komputasi kuantum sebagai alasan perubahan ini.

“12 TAHUN TREN RUSAK. BTC seharusnya dihargai JAUH LEBIH TINGGI dibandingkan emas. Harusnya. TAPI TIDAK. Tren valuasi ini rusak setelah ancaman KUANTUM mulai disadari,” ujar Woo.

Valuasi Bitcoin Terhadap Emas Mematahkan Tren 12 Tahun seiring Meningkatnya Kesadaran Komputasi Kuantum
Valuasi Bitcoin Terhadap Emas Mematahkan Tren 12 Tahun seiring Meningkatnya Kesadaran Komputasi Kuantum | Sumber: X/Willy Woo

Keamanan Bitcoin mengandalkan elliptic curve cryptography (ECDSA di atas secp256k1). Sebuah komputer kuantum yang cukup canggih dan tahan kesalahan dengan algoritma Shor berpotensi mengambil private key dari public key yang terekspos dan membahayakan aset di address on-chain terkait.

Teknologi seperti itu belum mampu menembus enkripsi Bitcoin. Meski begitu, Woo menyoroti, kekhawatiran utama adalah potensi aktifnya kembali sekitar 4 juta BTC yang disebut “hilang”. Jika terobosan kuantum membuat koin-koin itu bisa diakses, supply Bitcoin bisa bertambah karena koin-koin itu masuk kembali ke pasar.

Untuk menggambarkan skalanya, Woo menjelaskan bahwa korporasi yang mengikuti strategi MicroStrategy tahun 2020 dan ETF Bitcoin spot telah mengumpulkan sekitar 2,8 juta BTC. Jika 4 juta koin hilang kembali ke peredaran, jumlah itu melebihi akumulasi perusahaan-perusahaan tersebut, setara dengan sekitar delapan tahun akumulasi skala korporasi dengan kecepatan saat ini.

Sponsored
Sponsored

Menakar Risiko “Q-Day” dalam Jangka Panjang

“Pasar sudah mulai memasukkan kemungkinan kembalinya koin-koin yang hilang ke harga sebelumnya. Proses ini selesai begitu risiko Q-Day benar-benar hilang. Sebelum itu, BTCUSD akan terus memperhitungkan risiko ini. Q-Day masih 5 sampai 15 tahun lagi… itu waktu lama untuk harga yang selalu diliputi keraguan,” tegasnya.

Ia menyadari kemungkinan besar Bitcoin akan mengadopsi tanda tangan yang tahan kuantum sebelum ada serangan yang benar-benar bisa terjadi. Tapi, upgrade kriptografi tidak serta-merta mengubah status koin-koin tadi.

“Menurut saya, kemungkinan 75% koin hilang tidak akan dibekukan lewat hard fork protokol,” terang sang analis. “Sayangnya, 10 tahun mendatang adalah masa ketika BTC paling dibutuhkan. Itulah akhir siklus utang jangka panjang, saat investor makro dan pihak berdaulat lari ke aset keras seperti emas untuk berlindung dari deleveraging utang global. Jadi, emas terbang tanpa BTC.”

Analisis Woo tidak bermaksud mengatakan serangan kuantum akan terjadi dalam waktu dekat. Ia justru menempatkan komputasi kuantum sebagai faktor jangka panjang yang kini diperhitungkan dalam valuasi relatif Bitcoin, apalagi dibandingkan emas.

Sementara itu, Charles Edwards, founder Capriole Investments, memberikan perspektif tambahan soal bagaimana risiko kuantum dapat memengaruhi perilaku pasar. Menurut Edwards, kekhawatiran terhadap ancaman kuantum kemungkinan menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga Bitcoin turun.

Ancaman kuantum juga memengaruhi aksi portofolio nyata. Strategis Jefferies, Christopher Wood, menurunkan alokasi Bitcoin sebesar 10% demi menambah porsi emas dan saham pertambangan, dengan alasan kewaspadaan terhadap risiko kuantum. Hal ini menunjukkan bahwa investor institusi memandang komputasi kuantum sebagai risiko besar, bukan sekadar kemungkinan jauh.

Bagaimana pendapat Anda tentang risiko komputasi kuantum terhadap masa depan Bitcoin di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori