Kepala Riset Investasi Coinbase, David Duong, mengungkap bahwa kemajuan di bidang komputasi kuantum membawa risiko yang tidak hanya sebatas pada keamanan private key Bitcoin, namun juga berpotensi menghadirkan tantangan jangka panjang terhadap model ekonomi dan keamanan jaringan Bitcoin.
Tapi, ia menegaskan bahwa teknologi kuantum saat ini masih sangat jauh dari mampu membobol pertahanan kriptografi Bitcoin. Karena itu, kekhawatiran ini merupakan pertimbangan jangka panjang dan bukan risiko yang harus dihadapi secepatnya.
SponsoredDua Ancaman Berbeda untuk Fondasi Bitcoin
Pada sebuah postingan lengkap, Duong menjelaskan bahwa ancaman utama akan terjadi pada momen yang sering disebut sebagai “Quantum day” (Q-day). Intinya, Q-day menggambarkan kondisi hipotetis di masa depan di mana komputer kuantum sudah cukup kuat untuk mengalahkan kriptografi Bitcoin dengan menjalankan algoritma seperti Shor dan Grover.
Ia menambahkan bahwa keamanan Bitcoin bergantung pada dua fondasi kriptografi: ECDSA yang menjaga tanda tangan transaksi dan kepemilikan, serta SHA-256 yang menjadi dasar mining proof-of-work dan menjaga integritas blockchain. Menurutnya,
“Itu berarti komputer kuantum sebenarnya membawa dua ancaman yang terpisah.”
Duong menggarisbawahi bahwa sistem yang mampu memanfaatkan komputasi kuantum bisa melemahkan pertahanan kriptografi private key. Akibatnya, risiko pengeluaran dana secara ilegal dari alamat Bitcoin yang rentan pun meningkat. Ia menyoroti bahwa risiko terkait tanda tangan ini terdiri dari dua aspek.
“Serangan jarak jauh pada output yang public key-nya sudah terungkap di onchain, dan serangan jarak pendek yang bisa mendahului pengeluaran dana seiring public key muncul di mempool,” ia tambah.
Menurut Duong, sekitar 6,51 juta Bitcoin atau kira-kira 32,7% dari total suplai dapat terekspos pada serangan kuantum jarak jauh pada block 900.000. Kerentanan ini terutama berkaitan dengan penggunaan alamat berulang dan format script tertentu yang memunculkan public key langsung di on-chain.
Sponsored SponsoredHal ini mencakup Pay-to-Public-Key (P2PK), bare multisignature (P2MS), dan Taproot (P2TR). Kepemilikan Bitcoin zaman awal, yang kerap dikaitkan dengan era Satoshi, juga merupakan bagian signifikan dari output P2PK yang lebih tua.
“Setiap output rentan terhadap serangan jarak pendek saat momen pengeluaran, sehingga kebutuhan migrasi besar-besaran ke tanda tangan yang anti-kuantum menjadi semakin mendesak, walau kemungkinan serangan yang berhasil dalam waktu dekat masih rendah,” terang eksekutif ini.
Selain isu keamanan kunci, Duong juga mengungkap bahwa mining berbasis kuantum berpotensi membawa efisiensi yang dapat mengganggu ekonomi konsensus dan keamanan jaringan Bitcoin yang ada saat ini.
Sponsored Sponsored“Kami menilai mining berbasis kuantum masih menjadi kekhawatiran prioritas rendah untuk saat ini, karena keterbatasan scaling, sehingga migrasi tanda tangan menjadi isu utama,” ujar dia.
Bagaimana Bitcoin Bisa Bersiap untuk Risiko Kuantum
Pada analisis bagian kedua, Duong membahas beberapa cara untuk mengurangi risiko terkait kuantum. Salah satu yang utama adalah integrasi jangka panjang kriptografi anti-kuantum ke dalam jaringan, dengan mengandalkan algoritma yang dirancang agar tahan terhadap serangan kuantum.
Ia merujuk pada daftar standar kriptografi anti-kuantum yang dipersingkat oleh US National Institute of Standards and Technology (NIST), yakni CRYSTALS-Dilithium, SPHINCS+, dan FALCON.
Duong juga mengutip penelitian dari Chaincode Labs yang menawarkan dua skenario jalur. Kalau terobosan kuantum berlangsung secara cepat, maka butuh rencana migrasi darurat yang bisa diterapkan dalam dua tahun.
Jika perkembangan berlangsung bertahap, strategi jangka panjang akan memungkinkan Bitcoin mengadopsi tanda tangan anti-kuantum melalui soft fork. Jalan ini, ia paparkan, bisa memakan waktu sampai tujuh tahun.
SponsoredSituasi ini menggambarkan tantangan praktis soal ukuran tanda tangan yang lebih besar, verifikasi lebih lambat, serta perlunya menyesuaikan wallet, node, dan pasar fee. Selain itu, beberapa proposal teknis seperti BIP-360, BIP-347, dan Hourglass juga berupaya menangani ancaman dari komputasi kuantum.
“Praktik terbaik mencakup menghindari penggunaan alamat yang sama berulang kali, memindahkan UTXO rentan ke tujuan unik, serta menyusun materi untuk user yang memperkuat operasional siap-kuantum. Pendekatan ini didukung oleh pemahaman sekarang bahwa script rentan belum digunakan secara produksi, dan batas dana per alamat ikut menurunkan risiko konsentrasi,” ia papar.
Terakhir, eksekutif tersebut menekankan bahwa komputasi kuantum tidak dianggap sebagai “ancaman yang akan segera datang”. Penilaian ini juga sejalan dengan pendapat dari banyak tokoh di industri kripto. Para ahli, seperti Jameson Lopp, co-founder Casa, Adam Back, CEO Blockstream, dan Charles Hoskinson, pendiri Cardano, berpendapat bahwa risiko kuantum masih jauh dan tidak mendesak.
Namun, masih ada pihak yang tetap waspada. David Carvalho dari Naoris Protocol memperingatkan bahwa potensi pembobolan bisa saja terjadi dalam 2–3 tahun. Proyek Quantum Doomsday Clock bahkan memperkirakan kemungkinan kriptografi Bitcoin bisa dijebol pada 8 Maret 2028.