Beberapa anggota komunitas aset kripto menuduh Nikita Bier, Head of Product X sekaligus penasihat Solana, sengaja menekan konten terkait kripto di X (sebelumnya Twitter).
Tuduhan ini muncul setelah banyak pengguna melaporkan penurunan signifikan jumlah postingan terkait aset kripto di linimasa mereka.
SponsoredVisibilitas Aset Kripto di X: Mengapa Pengguna Mengangkat Kekhawatiran
X sejak lama menjadi sumber utama bagi komunitas aset kripto untuk mendapatkan kabar terbaru industri, memantau perkembangan pasar, menemukan peluang baru, dan mengenali proyek baru serta tren. Tapi, baru-baru ini, para pengguna semakin khawatir tentang perubahan pada linimasa mereka dan melaporkan semakin banyaknya postingan yang tidak berhubungan dengan aset kripto.
“Algoritmanya sekarang paling buruk sepanjang sejarah. Di linimasa saya cuma muncul politik, bait kemarahan, bait engagement, dan hanya sekitar 10% konten kripto. Komunitas sekarat dan aplikasi ini berubah seperti Instagram 2.0, padahal fitur terbaiknya adalah karena komunitas terbentuk berdasarkan topik dan kamu bisa tetap berada di komunitas itu di linimasa,” ujar Ethan, seorang pengamat pasar, lewat postingannya.
Merespons keluhan pengguna, Bier mencoba menjelaskan bagaimana sistem rekomendasi di X bekerja. Dalam sebuah postingan yang kini telah dihapus, eksekutif tersebut menanggapi apa yang ia sebut sebagai kesalahpahaman yang semakin berkembang di kalangan Crypto Twitter.
Dia menyampaikan bahwa sejak Oktober, ada “mitos” yang beredar bahwa akun harus membalas ratusan kali per hari agar jangkauannya meningkat. Menurut Bier, cara ini justru bisa menjadi bumerang.
“Setiap kali Anda posting, itu memakan sebagian jangkauan Anda hari itu. (Kami tidak bisa menayangkan semua postingan Anda ke semua pengikut karena pengguna rata-rata hanya melihat 20-30 postingan per hari).”
Oleh karena itu, terlalu sering membalas dengan balasan bernilai rendah, seperti berkali-kali hanya menulis “gm”, bisa menghabiskan jangkauan suatu akun. Ketika pengguna akhirnya mengunggah konten yang lebih bermakna, konten tersebut mungkin hanya tampil ke audiens terbatas.
Sponsored Sponsored“CT sedang sekarat karena bunuh diri, bukan gara-gara algoritma,” tutur dia.
Ia juga menambahkan bahwa melakukan kutipan pada postingan tertentu bisa memengaruhi rekomendasi linimasa selama berbulan-bulan. Ia menyebut, mengutip sebuah postingan dapat menyebabkan konten serupa muncul di laman For You pengguna selama tiga sampai enam bulan.
Komentar tersebut menimbulkan reaksi keras dari komunitas kripto, bahkan sebagian pengguna menuduh Bier sengaja menekan konten aset kripto di platform ini.
Sponsored Sponsored“Pernyataan yang gila dari head of product X. Nikita harus pergi. Bukannya mendukung pertumbuhan dan pengguna yang selalu online, dia akhirnya mengakui secara terbuka telah sengaja menghancurkan jangkauan kami dan berupaya membunuh komunitas kami di platform ini. Dia benar-benar mendorong orang agar lebih sedikit memposting dan berkarya. CT bukan sekarat karena bunuh diri, melainkan karena X,” komentar Crypto Kaleo lewat postingannya.
Pihak lain menyoroti pula peran Bier sebagai penasihat Solana. Para pengkritik berpendapat bahwa posisi ganda seperti itu berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
“Saat X membangun infrastruktur kripto-nya, bagaimana mungkin itu bukan jadi konflik kepentingan besar? Semoga semua network bisa berdampingan di X, tapi jika satu chain jadi prioritas utama sementara penasehatnya punya andil dalam pengembangan produk, sangat sulit diabaikan, ” papar anggota komunitas lain dalam komentarnya.
Debat Makin Panas soal Perlakuan X terhadap Konten Aset Kripto
Meski kritik terhadap Bier masih terus terdengar, sebagian orang ada juga yang membantah tuduhan tersebut. Tokoh media sosial Finance Freeman menilai bahwa prioritas X jauh lebih luas.
Sponsored“CT Algorithm Hack. Ungkap para scammer dan tukang cari untung yang merusak ruang ini, dan algoritma akan menilai positif. Video saya mendapat 72.000 penayangan saat membongkar penipuan mereka. Jadi jangan salahkan @nikitabier untuk SEMUANYA! Ingat juga, prioritas X jauh lebih besar dari sekadar CT. Kira-kira berapa persen penggunaan X yang sebenarnya tentang crypto ya?,” tulis Freeman dalam postingannya.
Ki Young Ju, founder CryptoQuant, menduga menurunnya visibilitas konten kripto di X bisa berhubungan dengan lonjakan aktivitas bot. Dalam postingannya di platform tersebut, ia mengungkapkan bot menghasilkan lebih dari 7,7 juta postingan berlabel kripto dalam sehari, melonjak 1.224%.
“Seiring AI berkembang, bot pasti akan ada. Kaito memang punya andil, tapi kegagalan X membedakan bot dan manusia adalah masalah utamanya. Sistem verifikasi berbayar tidak berhasil, dan sekarang bot malah membayar untuk spam. Sangat aneh X lebih memilih melarang aset kripto daripada memperbaiki deteksi botnya,” terang Ju .
Selain itu, Benjamin Cowen, CEO sekaligus Pendiri Into The Cryptoverse, menyoroti penurunan minat yang lebih luas terhadap konten terkait aset kripto di seluruh platform media sosial, sehingga menandakan masalahnya lebih dari sekadar di X saja. Menurut dia,
“Bukan cuma X dan perubahan algoritma. Jumlah penonton aset kripto memang turun di berbagai platform.”
Perdebatan ini mencerminkan kegelisahan yang makin besar di komunitas aset kripto mengenai makin berkurangnya eksistensi mereka di X, sementara para pengguna masih bertanya-tanya apakah perubahan algoritma, moderasi platform, atau penurunan minatlah yang harus disalahkan.