Investor ritel Korea Selatan bertaruh sebanyak US$19 miliar pada dana AI chip berleverage. Beberapa bulan kemudian, perdagangan ini anjlok. Kejatuhan KOSPI menghapus sepertiga nilai indeks sejak Juni, dan ini menjadi penurunan terdalam sejak krisis keuangan global 2008.
Sekitar US$1,59 triliun nilai pasar lenyap. Samsung Electronics dan SK Hynix, dua saham terbesar dalam indeks, menyebabkan 76% dari kerugian tersebut. Sekarang Bank of Korea (BOK) memberi sinyal akan menaikkan suku bunga lagi.
Bagaimana Kejatuhan KOSPI Menghapuskan Taruhan Leverage US$19 Miliar
Exchange-traded fund (ETF) saham tunggal berleverage akan melipatgandakan pergerakan harian satu saham. Keuntungan bisa diraih dua kali lebih cepat. Tapi kerugian juga demikian.
Sejak pertengahan 2025, investor mengalirkan lebih dari US$19 miliar ke dana yang melacak produsen chip memori tersebut. Data Bloomberg menunjukkan produk SK Hynix saja menarik US$10,8 miliar. Angka ini lebih dari dua kali lipat total dana Samsung.
Waktunya sangat tidak menguntungkan. Enam belas ETF yang terhubung dengan Samsung dan SK Hynix tercatat di Seoul pada 27 Mei. Tak lama setelahnya, reli chip memori AI berbalik arah, sehingga memicu penjualan besar-besaran chip memori.
Sebuah dana di Hong Kong yang menawarkan dua kali return harian SK Hynix anjlok 86% dari puncak pada bulan Juni.
Penjualan Paksa, Pengetatan Terlambat, dan Permintaan Maaf
Kejatuhan ini memaksa broker menjual paksa kepemilikan nasabah. Sekitar US$1,4 miliar posisi investor ritel dijual paksa selama Juni dan Juli, menurut data exchange.
Dua bulan tersebut menjadi puncak likuidasi terbesar tahun ini. Pinjaman margin anjlok ke 27,4 triliun won (US$19,3 miliar), yang terendah sepanjang 2026. Kondisi ini menjadi peringatan terkait utang margin tertinggi di pasar global.
Regulator menaikkan tiga kali lipat setoran minimum agar bisa trading produk tersebut, jadi 30 juta won (US$21.700) mulai 31 Juli. Mereka juga menangguhkan listing baru dan melarang iklan.
Volume harian di tujuh ETF berleverage SK Hynix kemudian anjlok 90% menjadi kurang dari 100 juta saham. Pengetatan ETF berleverage ini baru terjadi setelah regulator menyetujui produk tersebut tepat saat pasar mencapai puncaknya.
Menkeu Koo Yun-cheol meminta maaf di parlemen pada 29 Juli karena menyetujui produk itu tanpa cukup pertimbangan.
Morgan Stanley, yang baru saja menaikkan rating ekuitas Korea Selatan, memperkirakan pelepasan leverage sudah lebih dari setengah jalan. Tapi investor asing masih pesimis. Mereka menjual rekor US$30 miliar pada bulan Juni dan lebih dari US$10 miliar sejak itu.
Dana Ritel Lari ke Wall Street Saat BOK Kian Agresif
Trader kecil Korea, dijuluki “semut”, memilih untuk mengalihkan dananya. Mereka memborong saham AS senilai US$4,6 miliar pada Juli, lima kali lipat dari bulan Juni, Reuters melaporkan. Untuk pertama kalinya sejak Februari, pembelian saham luar negeri melampaui pembelian domestik.
Insentif pajak pemerintah awalnya agar dana tersebut tetap di dalam negeri. Tapi, justru terjadi arus keluar bulanan pertama kali pada Juli.
Kebijakan suku bunga bisa memperparah luka. Deputi Senior Gubernur BOK Ryoo Sang-dai menyatakan pada Selasa bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan masih akan berlanjut. Kenaikan seperempat poin di Juli menjadi 2,75% adalah yang pertama sejak Januari 2023.
“Pertumbuhan diperkirakan tetap kuat karena adanya pertumbuhan pendapatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara tekanan inflasi inti masih bertahan dan risiko stabilitas keuangan bisa meningkat,” ujar Ryoo dalam jumpa pers di Seoul, dengan menyebutkan bahwa harga konsumen bulan Juli naik 2,8%, melebihi target 2% bank sentral.
Leverage sudah berkurang. Tapi kepercayaan belum pulih. Dengan KOSPI mencatat rasio harga terhadap laba ke depan terendah sepanjang sejarah yaitu 5,1 kali, para pemburu diskon mungkin akan kembali. Untuk saat ini, keputusan suku bunga BOK pada 27 Agustus menjadi ujian berikutnya bagi pasar.









