Li Lu, murid Charlie Munger sekaligus pendiri Himalaya Capital, menyebut aset kripto sebagai sesuatu yang secara fundamental palsu dan yakin aset tersebut akan menghilang. Ia mengatakan kepada para tamu jamuan makan siang value investing di New York bahwa masyarakat akan lebih baik jika melarang kripto.
Li Lu, pendiri dan ketua Himalaya Capital, sebuah perusahaan investasi, dikenal sebagai investor awal di produsen mobil Cina, BYD. Meski demikian, dia menganggap mengoleksi aset kripto sebagai preferensi pribadi, layaknya seseorang yang menyukai karya seorang seniman tertentu.
Mengapa Li Lu Menyebut Kripto Gagal Sebagai Uang?
Li Lu berbicara pada 5 Oktober di acara Graham & Dodd Luncheon ke-36 di New York. Dosen Columbia Business School, Tano Santos, memandu sesi diskusi informal tersebut.
Salah satu peserta bertanya tentang aset kripto dalam konteks kondisi keuangan global.
“Saya sama sekali tidak mempedulikannya. Saya pikir pada akhirnya kripto akan lenyap dengan sendirinya, dan itu tidak masalah, karena pada dasarnya itu tidak berarti apa-apa.”
Li Lu
Ia berpendapat, agar bisa berfungsi sebagai alat penyelesaian transaksi atau penyimpan kekayaan, sebuah mata uang membutuhkan mekanisme penegakan aturan. Ia menyebutkan bahwa proyek yang berasal dari sekelompok kecil orang tidak bisa menghadirkan hal tersebut.
Sebelumnya dalam pembicaraan itu, Li Lu mendefinisikan kekayaan sebagai bagian dari daya beli global, bukan emas, berlian, atau mata uang. Ia tidak mengaitkan penjelasan itu secara langsung dengan kripto.
Li Lu juga menyebut kripto mendukung penjahat dan memfasilitasi transaksi ilegal. Terkait regulasi, ia melangkah lebih jauh.
“Saya pikir kita semua akan lebih baik jika kripto dilarang, tapi itu tidak masalah.”
Li Lu,
Apakah Pandangan Munger Masih Menjadi Acuan di Wall Street?
Secara historis, Munger dan Warren Buffett merupakan pengkritik Bitcoin (BTC). Sikap anti-Bitcoin Berkshire Hathaway nampaknya tetap bertahan di bawah CEO baru Greg Abel, yang sejauh ini tidak berkomentar secara publik tentang kripto.
Namun, kepala riset aset digital VanEck, Matthew Sigel, berpendapat pada 2025 bahwa para pengkritik terus meremehkan Bitcoin. Dalam peringkat Bitcoin Hall of Shame miliknya, Sigel memasukkan Munger dan Buffett sebagai salah satu di antaranya.
Saat ini, perdebatan berlangsung di ranah keuangan itu sendiri. Li Lu menolak kripto sebagai penyimpan kekayaan, sementara Sigel menilai para pengkritik justru terus kalah dalam argumen.
Di sisi lain, exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot telah menarik miliaran US$ dalam arus masuk sejak 2024.











