Bitcoin (BTC) mulai menunjukkan tanda-tanda awal rotasi likuiditas, karena metrik on-chain dan posisi futures sama-sama mengindikasikan pergeseran perilaku investor secara bertahap.
Pergerakan ini terjadi saat harga BTC mengalami pemulihan meski ada konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Aliran Stablecoin ke Bitcoin Kembali Terbuka
Pada sebuah unggahan di X (sebelumnya Twitter), analis Darkfost mengungkapkan bahwa di akhir Februari, realized cap Bitcoin mencapai titik terendah ekstrim sebesar -US$28,7 miliar. Sementara itu, kapitalisasi pasar stablecoin tumbuh hingga lebih dari US$6 miliar.
Situasi ini mencerminkan posisi bertahan para investor yang ingin menjaga modal mereka tanpa benar-benar keluar dari pasar. Menurut analis tersebut,
“Ini menandai pertama kalinya rotasi seperti ini terjadi sejak bear market sebelumnya. Pada tahap tersebut, konfigurasi ini menandakan adanya niat jelas dari para investor untuk melindungi modal mereka,” tutur Darkfost.
Ikuti kami di X agar selalu mendapatkan berita terbaru
Meski begitu, gambaran ini kini telah berubah. Realized cap Bitcoin sudah pulih ke -US$3 miliar. Sementara kapitalisasi stablecoin turun ke -US$1 miliar. Modal yang sebelumnya menunggu di luar pasar, nampaknya mulai mengalir kembali ke aset kripto terbesar ini.
Posisi Futures Mirip Kondisi Pra-Breakout 2023
Data derivatif juga mendukung sentimen optimistis. Analis Michaël van de Poppe mengamati bahwa kini para spekulan berada di posisi net long pada Bitcoin.
“Sangat mirip dengan kasus sebelumnya di mana kita melihat pola yang sama sebelum breakout besar di tahun 2023. Posisi Net Commercial di pasar saat ini net short, yang berkebalikan dengan spekulan,” papar Poppe.
Van de Poppe memperkirakan BTC bisa mencapai US$80.000 – US$85.000. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa data saat ini menunjukkan volatilitas tinggi dan bukan pergerakan arah tertentu yang terjamin.
“Situasi ini tidak menjamin kita akan mengalami breakout besar ke atas. Tapi ini menunjukkan ada peluang besar untuk volatilitas, apalagi kita sudah berkonsolidasi di area ini selama dua bulan dan pasar menolak turun,” tulisnya.
Langganan channel YouTube kami untuk mendapatkan insight ahli dari para pemimpin dan jurnalis
Waktu terjadinya perubahan ini perlu dicermati. Darkfost menuturkan bahwa rotasi ini mulai saat ketidakpastian terkait konflik Iran mencapai puncaknya.
“Seolah-olah beberapa investor mulai melihat Bitcoin sebagai keunggulan dalam menghadapi risiko inflasi dan ekonomi akibat situasi tersebut,” ucapnya.
Bitcoin menguat lebih dari 10% sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu. Untuk saat ini, pemulihan memang masih relatif ringan. tapi, Darkfost menilai jika rotasi modal berlanjut maka pemulihan harga aset ini bisa terus berlanjut.
Data BeInCrypto Markets menunjukkan bahwa BTC naik lebih dari 1% dalam sehari terakhir di tengah proses negosiasi gencatan senjata yang masih berjalan di Pakistan. Pada waktu publikasi, aset kripto ini diperdagangkan di level US$72.900.





