Kembali

Bitcoin atau Tembaga? Investor Menilai Ulang karena Logam Ungguli Aset Kripto di 2025

author avatar

Ditulis oleh
Kamina Bashir

editor avatar

Diedit oleh
Harsh Notariya

26 Desember 2025 16.58 WIB
Tepercaya
  • Logam mulia dan logam dasar ungguli aset kripto di 2025.
  • Harga tembaga capai rekor tertinggi karena pasokan makin ketat dan permintaan meningkat secara global.
  • Analis melihat momentum logam berlanjut hingga 2026, dan menantang daya tarik aset kripto.
Promo

Ketika komunitas kripto masih fokus pada kemungkinan altcoin season dan rekor tertinggi baru Bitcoin, sebuah narasi berbeda justru muncul. Menjelang akhir 2025, apa yang kini banyak analis sebut sebagai “musim logam” mulai terbentuk.

Logam mulia dan bahkan logam dasar telah mengungguli aset kripto sepanjang tahun ini. Seiring para analis memperkirakan momentum ini akan berlanjut hingga tahun depan, sebuah pertanyaan penting pun muncul: mungkinkah tembaga menawarkan peluang yang lebih menjanjikan daripada kripto?

Sponsored
Sponsored

The Great Rotation: Logam Kuasai Imbal Hasil Tahun 2025

BeInCrypto sebelumnya melaporkan bahwa logam mulia terus mengalami tren naik, menarik minat investor di tengah kekhawatiran berkelanjutan soal inflasi, penurunan nilai dolar, dan kerentanan ekonomi makro yang lebih luas. Emas, perak, dan platinum semuanya menyentuh rekor tertinggi.

“Gold is now up +72% YTD, adding +$13.2 TRILLION in market cap this year. Silver has become the 3rd largest asset in the world, up +155% YTD, worth $4.2 trillion. The only other year that comes close to what we are seeing now is 1979, when CPI inflation was running at 11%+. Platinum? Up +159% and set for its biggest annual percentage gain ever recorded. 2025 will be a year that is referenced for decades to come,” tulis The Kobeissi Letter .

Logam dasar juga tidak ketinggalan dalam reli ini. Awal pekan ini, harga tembaga menembus US$12.000 per ton untuk pertama kalinya. Hari ini, Bloomberg melaporkan bahwa tembaga menyentuh rekor tertinggi di Cina serta melanjutkan kenaikan di Amerika Serikat.

Logam ini bahkan telah mengungguli Bitcoin dalam kenaikan sepanjang tahun, naik lebih dari 40%. Sementara itu, Bitcoin justru turun sekitar 6%. Banyak analis menyebut tren ini sebagai “musim logam” dan memperkirakan momentum ini masih akan berlangsung sampai tahun depan.

“Reli pada komoditas kemungkinan akan berlanjut dan meluas pada 2026 dengan Bloomberg Commodities Index masuk tren naik baru. Pada dasarnya, Hard Assets menurunkan nilai mata uang karena seluruh dunia paham satu-satunya pilihan negara-negara Barat dengan utang tinggi adalah menggerusnya lewat inflasi. Harapkan reli komoditas terus berlanjut sampai 2026,” papar Zafar Shaikh, investor dan trader, .

Di tengah situasi ini, tembaga muncul sebagai primadona berkat ketidakseimbangan suplai dan permintaan yang semakin besar, sehingga banyak pihak memperkirakan peluang kenaikan harga masih terbuka lebar.

Analis Otavio Costa menuturkan bahwa, meski harga tembaga mendekati rekor tertinggi, produksi belum juga naik. Ia mengungkapkan produksi di negara penghasil tembaga terbesar saat ini berada di level terlemah dalam lebih dari satu dekade.

Sponsored
Sponsored

“Copper is one of the most critical macro assets for 2026 as we are likely to enter a true price discovery phase, in my view. This setup points to the potential for a highly explosive move from here,” prediksi Costa .

Bitcoin ke Nikel: Transaksi yang Tidak Biasa

Sementara itu, prospek industri terhadap Bitcoin masih terpecah. Sejumlah indikator utama menunjukkan periode sulit mungkin menanti BTC di awal 2026. Kondisi makin tidak pasti setelah Jim Cramer menjadi bearish terhadap Bitcoin.

Kepala Riset di Galaxy Digital, Alex Thorn, menggambarkan 2026 sebagai tahun yang “terlalu kacau untuk diprediksi.” Walaupun begitu, ada juga yang percaya kripto terbesar di dunia masih bisa reli tahun depan dan mencetak rekor baru.

Di tengah sinyal yang saling bertolak belakang ini, preferensi investor mulai berubah. Misalnya, ada satu trader yang menjual seluruh Bitcoinnya untuk membeli koin nikel fisik, mencerminkan semakin meningkatnya daya tarik arbitrase berbasis logam.

“I sold all my Bitcoin. I am putting it all into physical nickels. A nickel is worth 5 cents forever (legal tender). But the metal inside (copper/nickel) is worth 6.2 cents right now,” terang BarkMeta .

Pada Oktober lalu, Jesse Colombo juga menyebut tembaga sebagai peluang “penebusan” bagi investor yang melewatkan fase awal bull market emas dan perak. Dengan begitu, seiring perpindahan modal dan naiknya risiko makro, tembaga kini makin dipandang bukan sekadar bahan industri, tapi juga aset makro strategis.

Apakah “musim logam” ini nantinya benar-benar akan mengalahkan daya tarik kripto masih perlu dibuktikan. Tapi, minat yang meningkat pada tembaga menunjukkan bahwa, setidaknya untuk saat ini, sebagian pelaku pasar mencari keyakinan bukan dari narasi digital, melainkan dari kelangkaan fisik.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori