Kembali

Pemulihan Bitcoin Menghadapi Tembok: Bagaimana US$ yang Menguat Bisa Menghentikan Reli

Pilih kami di Google
author avatar

Ditulis oleh
Nhat Hoang

editor avatar

Diedit oleh
Harsh Notariya

06 Maret 2026 15.06 WIB
  • Kekuatan dolar meningkat seiring konflik Timur Tengah mendorong permintaan safe haven secara global.
  • Dolar AS yang kuat dan ekspektasi suku bunga mengancam arus modal masuk ke Bitcoin dan altcoin.
  • Analis memperingatkan reli Bitcoin mungkin mengulangi skenario breakout palsu awal 2026.
Promo

Pada minggu pertama bulan Maret, konflik militer yang meningkat telah menjadikan dolar AS sebagai salah satu aset yang nilainya naik di tengah volatilitas pasar. Sementara itu, saham di banyak negara dan logam mulia justru tertekan ke bawah.

Analis memperingatkan bahwa jika situasi ini berlanjut, hal ini bisa menghambat aliran modal ke aset berisiko seperti Bitcoin dan altcoin.

Disponsori
Disponsori

US Dollar Menguat seiring Permintaan Safe-haven Meningkat

Dolar AS (USD) mengalami pelemahan signifikan sepanjang 2025 hingga awal 2026. Indeks DXY turun tajam, mencapai level terendah empat tahun sekitar 96 pada Januari 2026.

Analis menilai penurunan ini terjadi karena ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed, ketidakpastian kebijakan di bawah Presiden Trump—termasuk tantangan terhadap independensi The Fed dan kebijakan dagang—serta tren global melakukan diversifikasi dari dolar AS.

Namun, USD baru-baru ini menunjukkan tanda-tanda mulai menguat lagi pada awal Maret 2026 di tengah ketegangan yang meningkat di Timur Tengah. Data TradingView mencatat indeks DXY naik dari 97,8 poin menjadi di atas 99 hanya dalam satu pekan ini.

Indeks Dolar AS (DXY). Sumber: TradingView
Indeks Dolar AS (DXY) | Sumber: TradingView

Reuters melaporkan bahwa konflik geopolitik yang semakin panas membuat permintaan terhadap dolar AS semakin kuat. Karena itu, jika konflik terus berlanjut, indeks DXY bisa tetap naik dalam waktu dekat.

Disponsori
Disponsori

“Jika konflik di Timur Tengah berlanjut dengan intensitas seperti saat ini, kemungkinan besar akan membawa inflasi yang terus tinggi, penguatan dolar AS, dan peluang penurunan suku bunga oleh The Fed yang jauh lebih kecil,” prediksi analis pasar IG Tony Sycamore.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi Bitcoin (BTC), yang sering kali memiliki korelasi berlawanan dengan kekuatan dolar AS. Saat USD menguat, aset berisiko tinggi seperti aset kripto biasanya mendapat tekanan jual.

Bitcoin sempat berhasil melakukan pemulihan yang mengesankan di tengah meningkatnya ketegangan. Tapi, reli ini kini menghadapi beberapa sinyal peringatan.

Penguatan dolar AS biasanya erat kaitannya dengan ekspektasi bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga. Menurut FedWatch, The Fed hampir pasti akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Maret 2026.

Peluang untuk tetap mempertahankan kisaran suku bunga saat ini (350–375 bps) mencapai hampir 97,4%. Ekspektasi “tanpa pemangkasan suku bunga” semakin memperkuat posisi USD dan mengurangi aliran modal ke aset berisiko.

“Peluang The Fed yang berubah-ubah menunjukkan kehati-hatian nyata yang sedang berlangsung,” komentar Lucky, salah satu OG Bitcoin.

Selain itu, tekanan jual dari institusi besar masih terus ada. Galaxy Digital, perusahaan investasi kripto besar, menjual lebih dari 3.100 BTC dalam beberapa hari terakhir. Perusahaan ini mungkin memanfaatkan rebound belakangan ini untuk ambil untung.

Langkah ini menunjukkan bahwa beberapa investor institusi tetap memilih waspada dan belum sepenuhnya yakin dengan kekuatan reli saat ini.

Berdasarkan laporan CryptoQuant, Indeks Bull Score Bitcoin masih bertengger di level sangat rendah, yaitu 10/100. Angka ini mengindikasikan bahwa kondisi pasar masih sangat bearish.

Indeks Bull Score Bitcoin. Sumber: CryptoQuant.
Indeks Bull Score Bitcoin | Sumber: CryptoQuant.

Faktor-faktor ini membuat banyak analis khawatir Bitcoin bisa saja mengulang skenario breakout palsu seperti awal tahun 2026, ketika harga sempat naik tajam tapi kemudian berbalik turun dengan cepat.

Secara keseluruhan, penguatan dolar AS yang kembali bisa lebih mendominasi dibandingkan faktor internal di pasar Bitcoin. Jika tensi geopolitik di Timur Tengah terus meningkat, hal tersebut bisa memicu breakdown mendadak pada pergerakan harga Bitcoin.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori