Bitcoin berfungsi seperti “cheat code” nyata untuk pensiun tanpa harus menjual kepemilikan, menurut analis sekaligus pengusaha Mark Moss, yang memaparkan gagasannya ini dalam wawancara podcast Coin Stories baru-baru ini.
Inti dari gagasannya bertentangan dengan pemahaman umum. Menurutnya, tujuan utama bukanlah menjual Bitcoin untuk membiayai gaya hidup, melainkan tetap berada di kolom pemilik daripada menjadi konsumen.
Bitcoin: Kolom Pemilik vs. Kolom Konsumen
Berdasarkan sistem moneter berbasis utang yang berlaku sejak tahun 1971, uang beredar melalui kredit dan kredit membutuhkan jaminan. Memiliki bahkan hanya US$1 dalam bentuk Bitcoin menempatkan seseorang sebagai pemilik yang dapat meminjam dengan jaminan aset tersebut.
Sebaliknya, jika menjual Bitcoin, justru akan memicu pajak, menghilangkan jaminan itu, serta mengubah aset jangka panjang menjadi pengeluaran jangka pendek. Ia juga menantang pola pikir pensiun tradisional.
Ia menegaskan bahwa tujuan sebenarnya bukanlah kebebasan dari pekerjaan, melainkan kebebasan untuk memilih pekerjaan sesuai kemauan sendiri.
“…Jadi, jalur pensiun adalah ketika Bitcoin terus naik nilainya dan semoga masih naik 30% per tahun. Kita sudah membahas itu, dan pada akhirnya, nilainya bisa menjadi US$1 juta, lalu US$5, US$10 juta, bahkan US$20 juta. Tapi kalau saya menjualnya untuk mendapat uang, saya langsung berpindah dari kolom pemilik kembali ke kolom konsumen…,” ujar Moss .
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara real-time.
Moss menyoroti para miliarder dan kreator yang tetap aktif hingga usia tua, dan mengatakan mereka termasuk dalam kelas builder, bukan konsumen yang hanya bermimpi santai di tepi kolam renang. Ia pun mengabaikan konsep passive income serta gerakan FIRE, dan justru mengusulkan konsep “pensiun dari aset”.
Strategi konkretnya adalah meminjam dengan jaminan Bitcoin secara disiplin: rasio pinjaman terhadap nilai yang rendah, banyak lapisan likuiditas termasuk rekening giro, setara kas, dan pendapatan, dengan penjualan aset sebagai langkah terakhir.
Memahami siklus pasar sangat penting dalam proses tersebut, agar dapat memanen kenaikan nilai tanpa kehilangan kepemilikan atau terkena pajak yang tak perlu.
Mengapa Moss dan Schiff Sepenuhnya Tidak Sepakat
Moss menggambarkan bahaya menjadi “forced seller” lewat pengalamannya sendiri. Pada tahun 2008, ia membangun properti senilai US$12 juta, menolak tawaran US$11 juta, lalu menyaksikan pihak bank menjual properti itu hanya seharga US$4 juta setelah krisis. Sekarang, nilai properti itu sekitar US$20 juta.
Ia menjelaskan bahwa volatilitas sebenarnya bukan masalah utama. Masalah sesungguhnya adalah terpaksa menjual di waktu yang salah:
“…Semua orang menginginkan kebebasan finansial, kemampuan untuk hidup tanpa dipaksa bekerja demi pendapatan, hal-hal seperti itu. Jadi yang ingin saya bicarakan adalah bagaimana orang bisa mendapatkan kebebasan aset. Ada juga gerakan seperti mentor saya Robert Kiyosaki yang bicara soal membangun passive income…,” papar analis tersebut.
Ekonom sekaligus kritikus Bitcoin sejak lama, Peter Schiff, menawarkan pandangan yang benar-benar berbeda. Dalam tulisannya di X, ia menegaskan bahwa pensiun dengan Bitcoin hanya mungkin jika seseorang sudah membelinya sejak lama dan berhasil menjual sebelum harganya jatuh.
Moss memandang Bitcoin sebagai infrastruktur yang bisa menghasilkan likuiditas tanpa kehilangan kepemilikan, bahkan di tengah penurunan tahunan sekitar 26% saat ini. Sedangkan Schiff bersikeras satu-satunya cara realistis adalah menjual di waktu yang tepat sebelum volatilitas menggerus modal yang sudah terkumpul.
Pertanyaan besar pun terbuka untuk para holder. Apakah Bitcoin adalah aset untuk dipertahankan dan dimanfaatkan terus-menerus, ataukah aset yang sebaiknya dijual sebelum situasi memburuk?
Langganan YouTube kami untuk menyimak wawancara dan analisis para pemimpin serta jurnalis ahli.









