Sejak beberapa hari ke belakang, nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan. Pada perdagangan 26 Maret berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI), Rupiah berada pada level Rp16.588 per dolar AS dan sempat menyentuh Rp16.622 di 25 Maret. Sementara di awal Maret kemarin, nilai tukar Rupiah terpantau masih relatif lebih kuat di kisaran Rp16.336.
Pelemahan yang terjadi pada mata uang negara mendapatkan pengaruh dari berbagai sektor ekonomi. Termasuk inflasi, ketidakpastian pasar dan kenaikan harga barang juga jasa. Merespons hal itu, Chief Marketing Officer (CMO) Tokocrypto, Wan Iqbal mengatakan di tengah pelemahan Rupiah dan ketidakstabilan ekonomi, investasi yang tepat bisa menjadi cara untuk melindungi nilai aset. Bahkan mencari potensi keuntungan.
Meski demikian, ia mengingatkan penting untuk melakukan riset mendalam sebelum memilih instrumen investasi yang resilien terhadap fluktuasi mata uang.
Nah salah satu instrumen yang bisa dijadikan opsi adalah aset kripto. Dalam kacamatanya, mata uang kripto memiliki karakteristik tertentu yang membuatnya lebih tahan terhadap penurunan daya beli uang.
Salah satunya adalah stablecoin Tether USD (USDT). USDT merupakan aset stabil yang nilainya memiliki paritas dalam bentuk dolar AS.
“Dengan berinvestasi dalam USDT, investor dapat menjaga nilai aset mereka agar tidak tergerus inflasi, terutama di negara yang mengalami depresiasi mata uang lokal. Stablecoin ini memberikan stabilitas yang lebih tinggi ketimbang aset kripto lain yang lebih volatil, sehingga cocok bagi investor yang ingin mempertahankan daya beli tanpa harus menghadapi fluktuasi harga yang ekstrem,” jelas Iqbal.
Investasi Kripto Jangka Panjang, Bisa Pilih Bitcoin
Sementara bagi investor yang mencari keuntungan lebih tinggi, Bitcoin (BTC) bisa menjadi pilihan karena sifatnya yang memiliki suplai terbatas. Lebih jauh lanjut Iqbal, dengan meningkatnya permintaan dan adopsi, harga Bitcoin cenderung mengalami apresiasi dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, dalam beberapa tahun terakhir, Bitcoin telah menunjukkan kenaikan yang jauh melampaui tingkat inflasi. Pada tahun 2020, harga Bitcoin masih berada di kisaran US$10.000, namun pada 2021 melonjak hingga lebih dari UD$60.000.
Hal itu menunjukkan bahwa investasi Bitcoin tidak hanya dapat mengimbangi inflasi, tetapi juga berpotensi memberikan keuntungan yang signifikan bagi investor yang bersedia menghadapi volatilitasnya.
“Saat ini merupakan momen yang tepat untuk membeli aset kripto. Karena beberapa aset masih bergerak stabil dan belum mengalami lonjakan harga yang signifikan. Dengan strategi yang tepat, investor bisa memanfaatkan momentum ini untuk meraih keuntungan di masa depan,” pungkasnya.
Bagaimana pendapat Anda tentang opsi investasi kripto saat Rupiah melemah seperti sekarang? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Penyangkalan
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.
