Michael Saylor Klaim Lightning Network Bitcoin Bisa Bersihkan Twitter

Bagikan Artikel
Ringkasan
  • Michael Saylor menyarankan agar Twitter "memonetisasi niat jahat" dengan memanfaatkan Lightning Network.

  • Saylor mengusulkan agar Twitter menerapkan biaya sebesar 20 USD untuk memverifikasi akun dan mendapatkan tanda centang oranye.

  • Usulan Saylor menuai pro dan kontra dari para pengguna Twitter.

Trust Project adalah konsorsium organisasi berita internasional berdasarkan standar transparansi.

CEO MicroStrategy, Michael Saylor, hadir dengan sebuah proposal untuk membersihkan Twitter menggunakan Lightning Network Bitcoin.

Dalam sebuah pebincangan di Twitter dengan CEO Tesla, Elon Musk, dan psikolog klinis, Jordan Peterson, Saylor mengusulkan jika Twitter dapat “memonetisasi niat jahat” dengan memperkenalkan tanda centang oranye berbayar pada cuitan.

Michael Saylor meyakini bahwa Lightning Network Bitcoin dapat dan perlu dimanfaatkan sebagai cara untuk membuat sebuah skema uang deposit untuk Twitter, sehingga penggunannya pun jadi lebih nyaman bagi sebagian pesar pengguna.

Lightning Network Bitcoin Bisa Verifikasi Penipu dan Spambot

“Twitter bisa memecahkan masalah scammer dan spambot jika mereka mengizinkan manusia asli untuk mengirimkan ~50.000 sats (20 USD) melalui Lightning [Network] & mendapatkan verifikasi dengan Centang Oranye. Lalu kita bisa membatasi komentar/DM untuk akun yang sudah terverifikasi. Oknum pelaku kejahatan akan kehilangan uang depositnya & Twitter memonetisasi niat jahat,” tulis Michael Saylor dalam cuitannya.

“Ada sekitar 360.000 centang biru di Twitter. Kita perlu mengizinkan ratusan juta centang oranye [sic] sehingga setiap orang bisa terverifikasi dalam 1 atau 2 menit. #Bitcoin adalah solusi untuk membersihkan media sosial dan membawa keamanan & peradaban di dunia maya,” imbuh Michael Saylor dalam cuitan lanjutannya.

Pro dan Kontra Pengguna Twitter atas Gagasan Michael Saylor

Meski sejumlah pengguna suka dengan gagasan dari Michael Saylor, namun ada beberapa pengguna Twitter lain yang kurang tertarik.

Seorang pengguna bertanya, “Bukankah para pelaku kejahatan siber akan bersedia untuk membayar lebih agar bisa terverifikasi, walau mereka kehilangan uang depositnya berulang kali dengan akun yang berbeda-beda, hanya untuk mengumumkan penipuannya? Begitu mereka terverifikasi, penipuan mereka bahkan bisa jadi lebih efektif…”

Ada pula pengguna lain yang memperdebatkan bahwa biaya sebesar 20 USD tersebut akan membuat batasan partisipasi yang bisa memberikan dampak negatif pada negara-negara miskin. Sementara itu, pengguna lainnya juga berargumen jika seseorang mampu membeli telepon genggam atau komputer untuk mengirimkan cuitan di Twitter, maka ia pun sanggup untuk menyediakan uang senilai 20 USD.

Salah satu dampak negatif dari segala bentuk skema uang deposit adalah mendorong oknum kejahatan untuk memberikan tanda palsu kepada pos yang sah. Kondisi seperti itu dikenal juga dengan nama false flagging. Praktik false flagging sendiri memang masalah yang sudah lazim di situs media sosial. Dengan mengetahui mereka akan merugikan korbannya secara finansial, maka mereka akan mendapatkan dorongan lain untuk perbuatan jahatnya.

Kekhawatiran lain yang muncul adalah apabila skema deposit bernilai miliaran dolar akan mendorong para eksekutif Twitter dan tim moderasinya untuk menafsirkan sebuah kiriman menjadi seburuk mungkin.

Adanya kumpulan dana besar dapat menimbulkan godaan bagi para tim Twitter untuk meningkatkan keuntungan dengan merekayasa penemuan menemukan pelanggaran kiriman.

Dalam situasi seperti itu, maka memiliki centang oranye ibaratnya seperti memasuki medan perang dengan target terpasang di belakang punggung kita.

Berawal dari “Perang Cuitan” di Twitter

Awal mula Michael Saylor mengajukan proposal ini, karena poll Twitter yang dibuat oleh Elon Musk hari Jumat, 26 Maret 2022 kemarin. Musk membuat sebuah poll sederhana yang meminta pesertanya menjawab “ya” atau “tidak”.

“Kebebasan bicara penting demi demokrasi yang berfungsi. Apakah Anda percaya jika Twitter benar-benar menganut prinsip ini?” Tanya Musk dalam poll tersebut.

Dari 2 juta jawaban, sebanyak 70,4% menjawab “tidak”. Berangkat dari hasil poll tersebut, Musk akhirnya mendeklarasikan bahwa Twitter gagal “untuk menganut prinsip kebebasan bicara” dan “menggerogoti demokrasi secara fundamental”.

Di hari Minggu, 27 Maret 2022, Jordan Peterson membalas Musk. Peterson menyatakan bahwa harga dari kebebasan berbicara di era digital amatlah murah, bahkan gratis.

Cuitan Peterson itulah yang akhirnya ditanggapi oleh Michael Saylor dan menjadi landasannya untuk mengajukan gagasan ini.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Share Article

Robert D Knight adalah seorang jurnalis dan copywriter yang memiliki spesialisasi di kripto selama lebih dari 4 tahun. Ia memiliki latar belakang pengalaman yang beragam, meliputi freelancing, in-project contract, pekerjaan agensi, dan PR, memberikannya pandangan yang holistik tentang industri blockchain.

Ikuti Penulis