Exchange aset kripto terbesar kedua di Korea Selatan, Bithumb, akan meminta para pemegang saham pada 31 Maret mendatang untuk menetapkan kembali CEO Lee Jae-won untuk masa jabatan baru selama dua tahun. Hal ini terjadi meskipun ada gangguan phantom Bitcoin (BTC) senilai US$44 miliar, denda rekor sebesar US$24 juta, dan tiga investigasi regulasi yang masih berlangsung.
Keputusan untuk tetap mempertahankan pimpinan dibanding melakukan perombakan manajemen menandakan bahwa Bithumb mengutamakan kelangsungan operasional daripada akuntabilitas, di saat regulator masih mempertimbangkan perlu tidaknya sanksi lebih lanjut.
Apa yang Glitch US$44 Miliar Ungkapkan
Pada 6 Februari, seorang staf Bithumb yang menjalankan acara promosi memasukkan satuan pembayaran dalam BTC, bukan won Korea. Sistem kemudian memberikan kredit total ke 695 akun pengguna sebesar 620.000 BTC, kira-kira 15 kali lipat dari kepemilikan nyata exchange yang hanya sekitar 42.000 BTC.
Mesin perdagangan menganggap saldo phantom tersebut sebagai saldo nyata. Dalam 35 menit, sejumlah pengguna menjual atau menarik sekitar 1.788 BTC senilai US$125-135 juta, sehingga harga Bitcoin di Bithumb anjlok 17%. Pasar global tidak terdampak.
Bithumb berhasil mengembalikan 99,7% kredit keliru tersebut di hari yang sama. Exchange menanggung sisa kekurangan dengan dana perusahaan dan mengganti rugi para pengguna yang terdampak sebesar 110% dari total kerugian. Tidak ada pelanggan yang rugi secara permanen, dan cadangan on-chain tetap utuh.
Namun, CEO Lee mengakui saat dengar pendapat di parlemen pada 11 Februari bahwa exchange hanya merekonsiliasi buku internal dengan kepemilikan riil setiap 24 jam dan telah terjadi sejumlah kesalahan kecil sebelumnya.
Tiga Investigasi Masih Menggantung di Atas Bithumb
Financial Intelligence Unit (FIU) sudah menjatuhkan denda terbesar dalam sejarah Korea Selatan untuk sebuah exchange aset virtual.
Denda 36,8 miliar won (US$24 juta) ini berasal dari 6,59 juta pelanggaran anti-pencucian uang yang terungkap saat inspeksi tahun 2025, menurut Yonhap. Bithumb juga menerima:
- Suspensi sebagian kegiatan usaha selama enam bulan,
- Teguran untuk CEO, dan
- Suspensi enam bulan untuk pejabat kepatuhan internal.
Dua penyelidikan tambahan juga masih berjalan. Financial Supervisory Service (FSS) tengah mendalami dugaan pelanggaran Virtual Asset User Protection Act terkait gangguan pada 6 Februari.
Investigasi terpisah oleh FIU juga sedang meninjau praktik pembagian order book Bithumb dengan Stellar Exchange, platform asal Australia yang belum terdaftar.
Exchange aset kripto di Korea Selatan memang tidak diklasifikasikan sebagai institusi keuangan secara hukum. Artinya, teguran terhadap CEO tidak secara hukum mencegah seorang eksekutif untuk tetap menjabat.
Meski begitu, preseden dari rival utama yaitu Upbit menunjukkan hal yang berbeda. setelah perusahaan induk Upbit, Dunamu, menerima sanksi serupa dari FIU di Februari 2025, CEO saat itu Lee Sirgoo mengundurkan diri dalam waktu tiga bulan dan beralih menjadi penasihat, papar Korea Times.
Apa yang Diputuskan oleh Pemungutan Suara 31 Maret
Selain penetapan ulang CEO, rapat pemegang saham nanti juga akan melakukan pemungutan suara terkait:
- Menaikkan batas penerbitan obligasi Bithumb menjadi 300 miliar won (US$225 juta),
- Menunjuk auditor baru untuk memperkuat kontrol internal, dan
- Mengganti nama afiliasi Bithumb A menjadi “Bithumb Asset.”
Kenaikan batas obligasi ini secara luas dipandang sebagai persiapan menuju IPO di masa depan dan potensi konsolidasi pasar.
Apakah Lee akan tetap bertahan setelah pemungutan suara atau tidak, proses investigasi tetap akan berlanjut. Tetapi, hasil pada 31 Maret nanti akan menunjukkan apakah para pemegang saham Bithumb menganggap kesinambungan sebagai kekuatan atau justru sebagai risiko, terutama karena kepercayaan terhadap sistem internal exchange belum sepenuhnya pulih.