Skenario perang tidak memberikan narasi yang jelas. Biasanya, pasar melakukan dua hal sekaligus. Pasar bergerak cepat menuju aset aman, lalu mereka menilai ulang kondisi dunia setelah guncangan pertama berlalu. Bitcoin berada tepat di tengah situasi tersebut.
Inilah sebabnya mengapa “perdagangan WW3” bukan sekadar satu spekulasi saja, melainkan serangkaian langkah. Dalam beberapa jam pertama, Bitcoin sering berperilaku seperti aset berisiko tinggi-beta. Dalam beberapa minggu berikutnya, Bitcoin bisa mulai berperan sebagai aset portabel yang tahan sensor, tergantung langkah pemerintah selanjutnya.
Apakah Kekhawatiran ‘World War 3’ Saat Ini Benar-Benar Nyata?
Mengingat meningkatnya eskalasi geopolitik saat ini, percakapan soal perang dunia 3 terasa lebih nyata dari sebelumnya. Beberapa orang bahkan menyebut kita sebenarnya sedang berada di tengah-tengah perang dunia, hanya saja wujudnya kini jauh berbeda dengan 90 tahun lalu.
Selama beberapa pekan terakhir, banyak titik rawan yang mempersempit ruang untuk melakukan kesalahan.
Perdebatan keamanan Eropa telah berubah dari teori menjadi perencanaan operasional. Para pejabat telah membahas jaminan keamanan pasca-perang di sekitar Ukraina, topik yang oleh Rusia selama ini dianggap sebagai garis merah.
Di kawasan Indo-Pasifik, latihan militer Cina di sekitar Taiwan makin menyerupai simulasi blokade. Krisis dengan gaya blokade seperti ini tidak perlu invasi untuk mengguncang pasar; cukup gangguan pengiriman atau insiden di laut saja sudah cukup.
SponsoredDitambah, sikap Amerika Serikat yang lebih luas. Presiden Trump pada dasarnya sedang ‘menjalankan Venezuela’ dalam komentarnya sendiri setelah menangkap presiden negara itu dari rumahnya.
Dan sekarang, pemerintah AS membahas pembelian Greenland, satu negara berdaulat yang merupakan bagian dari Denmark dan Uni Eropa.
Kemudian ada penegakan sanksi, sinyal militer berisiko lebih tinggi, serta pesan geopolitik yang makin tajam. Semua ini membuat lingkungan global kini berada di titik di mana kesalahan kecil dapat memicu kesalahan lain.
Inilah persisnya cara krisis dapat saling terhubung.
Apa Arti “WW3” di Model Ini
Analisis ini menganggap “Perang Dunia III” sebagai satu ambang batas tertentu.
- Konflik langsung dan berkelanjutan antara negara pemilik nuklir, dan
- Penyebaran konflik di lebih dari satu kawasan (Eropa ditambah Indo-Pasifik adalah jalur yang paling jelas).
Definisi ini sangat penting karena pasar bereaksi berbeda pada konflik regional dibandingkan dengan konfrontasi di banyak kawasan sekaligus.
Bagaimana Aset Utama Bergerak saat Perang
Pelajaran paling bermanfaat dari konflik terdahulu bersifat struktural: Pasar biasanya menjual saat ketidakpastian melanda, lalu bereaksi terhadap kebijakan selanjutnya.
Saham
Saham sering kali jatuh saat guncangan awal melanda, namun bisa pulih lagi jika situasi mulai jelas—meskipun perang belum selesai. Studi pasar tentang konflik modern menunjukkan bahwa “kejelasan” dapat lebih berpengaruh bagi investor daripada konfliknya sendiri, setelah mereka tidak lagi menebak-nebak dan mulai menilai harga aset.
Pengecualiannya yakni saat perang memicu perubahan rezim ekonomi makro yang signifikan: seperti guncangan energi, inflasi yang menetap, pembatasan, atau resesi mendalam. Saat itu, saham akan sulit pulih dalam waktu lama.
Emas
Emas punya riwayat panjang sebagai aset yang naik saat ketakutan meningkat. Tapi biasanya, emas akan kehilangan kembali keuntungannya ketika premi perang berakhir dan kebijakan pemerintah mulai jelas.
Keunggulan emas itu sederhana: tidak punya risiko penerbit. Tapi kelemahannya juga sederhana: emas bersaing dengan imbal hasil riil. Saat imbal hasil riil naik, biasanya harga emas tertekan.
Sponsored SponsoredSilver
Perak bersifat seperti hibrida. Harga perak bisa reli bersama emas sebagai pelindung ketakutan, tapi kemudian bisa naik-turun tajam karena permintaan industri sangat berpengaruh. Maka perak jadi penguat volatilitas, bukan sepenuhnya aset safe haven.
Minyak dan Energi
Jika konflik mengancam jalur pasokan, energi akan menjadi poros utama ekonomi makro. Harga minyak yang melonjak dapat langsung mengubah ekspektasi inflasi.
Hal ini memaksa bank sentral untuk memilih antara pertumbuhan ekonomi atau pengendalian inflasi. Keputusan ini nantinya akan mempengaruhi seluruh pasar.
Bitcoin di Perang Dunia: Bull atau Bear?
Bitcoin tidak mempunyai satu identitas dalam perang. Bitcoin punya dua identitas, dan keduanya saling bertentangan:
- Liquidity-risk Bitcoin: berperilaku seperti aset teknologi dengan beta tinggi saat terjadi deleveraging.
- Portability Bitcoin: berperilaku sebagai aset tanpa batas dan tahan sensor ketika kontrol modal serta tekanan mata uang meningkat.
Jenis yang mendominasi tergantung pada fase yang sedang berlangsung.
Phase 1: Shock Week
Ini adalah fase penjualan paksa. Investor mengumpulkan dana tunai. Divisi risiko memangkas leverage. Korelasi melonjak.
Pada fase ini, Bitcoin biasanya bergerak mengikuti risiko likuiditas. Bitcoin dapat jatuh bersama saham, terutama jika posisi derivatif terlalu penuh atau jika likuiditas stablecoin menipis.
Emas biasanya menjadi pilihan aman pertama. Dolar AS sering menguat. Selisih kredit melebar.
Phase 2: Upaya Stabilitas
Pada tahap ini, pasar tidak lagi bertanya “apa yang baru saja terjadi?” melainkan mulai bertanya “kebijakan selanjutnya apa?”
SponsoredInilah titik di mana Bitcoin bisa bergerak berbeda arah.
Jika bank sentral dan pemerintah merespons dengan dukungan likuiditas, penopang, atau stimulus, Bitcoin sering reli bersama aset berisiko.
Jika pembuat kebijakan memperketat kontrol—pada modal, sistem perbankan, atau jalan masuk aset kripto—reli Bitcoin bisa menjadi tidak merata, dengan volatilitas tinggi dan fragmentasi antar wilayah.
Fase 3: Konflik Berkepanjangan
Pada titik ini, konflik berubah menjadi rezim makro. Di sini, performa Bitcoin tergantung pada empat faktor berikut:
- Likuiditas dolar: kondisi USD yang ketat membebani Bitcoin. Kondisi yang lebih longgar mendukungnya.
- Imbal hasil riil: kenaikan imbal hasil riil menekan Bitcoin dan emas. Penurunan imbal hasil riil mendukung keduanya.
- Kontrol modal dan sanksi: meningkatkan permintaan untuk portabilitas, tapi juga bisa membatasi akses.
- Keandalan infrastruktur: Bitcoin butuh listrik, internet, dan sistem exchange yang berjalan.
Di tahap inilah konsep “Bitcoin sebagai emas digital” bisa muncul, tapi tidak dijamin terjadi. Syaratnya adalah jalur transaksi tetap bisa digunakan dan kebijakan tidak membatasi akses.
Berikut adalah tabel stres yang disederhanakan dan bisa benar-benar digunakan oleh pembaca. Tabel ini merangkum ekspektasi arah di tiga fase untuk dua skenario ala Perang Dunia III: yang dipimpin Eropa dan yang dipimpin Taiwan.
Poin penting yang harus diingat, meskipun kurang nyaman tapi bermanfaat: Jendela terburuk untuk Bitcoin adalah jendela pertama. Jendela terbaiknya biasanya datang belakangan—selama kebijakan dan jalur transaksi memungkinkan.
Apa yang Paling Mungkin Menentukan Hasil Akhir Bitcoin
Rezim “Real Yield”
Biasanya Bitcoin melemah ketika imbal hasil riil naik dan likuiditas USD mengetat. Perang bisa mendorong imbal hasil turun (karena ketakutan resesi, pelonggaran) atau malah naik (karena lonjakan inflasi, tekanan fiskal).
Siapa yang menang di antara dua kondisi itu lebih berpengaruh dibandingkan berita utama di media.
Sponsored SponsoredMasalah Rails
Bagi sebagian pihak, Bitcoin bisa menjadi bernilai, namun sekaligus sulit diakses.
Jika pemerintah memperketat akses exchange, jalur perbankan, atau jalur penukaran stablecoin, Bitcoin bisa jadi makin volatil, bukan makin stabil.
Jaringan tetap bisa berjalan, meskipun individu sulit mengalirkan dana melewati titik-titik kendali yang diatur regulator.
Capital Controls dan Tekanan Mata Uang
Di lingkungan inilah portabilitas Bitcoin menjadi lebih dari sekadar slogan.
Jika konflik memperluas sanksi, membatasi transfer lintas negara, atau menggoyang stabilitas mata uang lokal, permintaan nilai yang bisa dipindahkan pasti meningkat. Hal tersebut mendukung narasi Bitcoin untuk jangka menengah, meski minggu pertama terlihat suram.
Energy Shock dan Growth Shock
Kenaikan harga minyak dengan inflasi yang menetap bisa menjadi tekanan untuk aset berisiko. Sementara itu, guncangan ekonomi dengan pelonggaran agresif justru bisa memberi dukungan.
Kedua dampak tadi bisa terjadi akibat perang. Pasar akan menentukan harga berdasarkan jalur ekonomi makro, bukan pada narasi moral.
Struktur Prediksi yang Sederhana
Alih-alih bertanya “Apakah Bitcoin akan reli atau dump di Perang Dunia III?”, sebaiknya ajukan tiga pertanyaan berurutan berikut:
- Apakah ada kejadian mengejutkan yang memaksa deleveraging? Jika iya, biasanya Bitcoin akan turun duluan.
- Apakah kebijakan merespons dengan likuiditas dan penopang? Jika iya, Bitcoin biasanya akan pulih lebih cepat dibandingkan banyak aset tradisional.
- Apakah kontrol modal dan sanksi diperluas sementara jalur transaksi tetap bisa dipakai? Jika iya, premi portabilitas Bitcoin bisa meningkat seiring waktu.
Kerangka ini menjelaskan mengapa Bitcoin bisa anjlok tajam di hari pertama, tapi pada bulan keenam tetap terlihat tangguh.
Kesimpulan Utama
Jika terjadi Perang Dunia III atau guncangan eskalasi geopolitik besar, kemungkinan besar Bitcoin terkena dampak lebih dulu. Itulah yang terjadi saat ada krisis likuiditas. Tapi, pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah itu.
Kinerja Bitcoin dalam jangka menengah saat terjadi konflik geopolitik besar bergantung pada apakah dunia akan beralih ke rezim uang yang lebih longgar, pengawasan lebih ketat, dan keuangan yang lebih terpecah-belah.
Rezim seperti ini bisa memperkuat alasan untuk memiliki aset yang mudah dibawa dan jumlahnya langka—meskipun aset itu tetap memiliki volatilitas tinggi.
Bila pembaca ingin mengambil satu kalimat penting: Bitcoin mungkin tidak berfungsi sebagai “emas digital” di awal perang, tapi bisa jadi harganya bergerak seperti emas digital jika konflik berlangsung lama.