Tiga minggu setelah perang yang awalnya diprediksi hanya berlangsung sepuluh hari, Amerika Serikat kini terjebak dalam konfrontasi mahal dan belum terselesaikan dengan Iran. Kerugian terus bertambah, pasar energi mengalami gejolak, dan belum ada strategi keluar yang jelas. Tetapi, saat Washington menanggung kenyataan itu, mungkin saja Cina kini mulai menjadi salah satu pihak yang diam-diam diuntungkan dari konflik ini.
Dalam wawancara bersama BeInCrypto, ilmuwan politik dari Oxford, Richard Heydarian, memaparkan secara detail bagaimana hal itu bisa terjadi. Mulai dari berkurangnya stok senjata milik Amerika hingga percepatan proses de-dolarisasi, menurutnya, konflik ini memperkuat kepentingan Cina di banyak bidang sekaligus.
Lawan Cina Menanggung Dampak Terbesar dari Perang
Sekilas, Cina terlihat menerima tekanan ekonomi yang sama seperti negara lain.
Sebagai produsen terbesar dunia dan ekonomi terbesar kedua dunia, Beijing sangat bergantung pada energi. Lonjakan harga minyak akibat ketidakstabilan di Selat Hormuz menjadi beban berat bagi industri dan konsumen di Cina.
Tetapi, besarnya kerugian Cina hanyalah salah satu bagian dari cerita. Bagaimana kerugian tersebut dibandingkan dengan kerugian para pesaingnya adalah hal yang berbeda sama sekali.
Tidak seperti negara-negara Barat yang bersekutu di mana komunikasi dengan Teheran kebanyakan terhenti, Cina dan Iran tetap menjaga dialog terbuka selama konflik berlangsung. Posisi itu memberi Beijing pengaruh signifikan atas situasi yang sebenarnya tidak mereka mulai.
“Sekutu Amerika seperti Jepang, Filipina, dan Korea Selatan bahkan lebih rentan. Dan negara-negara itu juga tidak punya pengaruh apapun ke Iran,” ujar Heydarian kepada BeInCrypto dalam satu episode podcast.
Negara-negara ini pun jauh lebih bergantung pada energi dibandingkan Cina, sehingga dampak ekonomi dari konflik ini justru terasa berat bagi para sekutu Washington di kawasan tersebut.
Jika Amerika Serikat berniat memberi sanksi kepada Cina soal perdagangan minyaknya dengan Iran, Beijing memiliki langkah balasan yang kuat.
“Coba tebak negara mana yang mengendalikan banyak mineral rare earth penting? Cina,” papar Heydarian singkat.
Keunggulan Cina dalam konflik ini, bagaimanapun, tidak hanya soal pengaruh energi dan sumber daya alam. Hal itu juga mencakup mata uang yang digunakan untuk transaksi minyak dengan Iran.
Pembongkaran Diam-Diam Petrodollar
Sejak perang dimulai, Iran kabarnya mulai menetapkan syarat bagi kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz agar hanya dibayar menggunakan mata uang yuan. Bagi Beijing, ini bukan hal kecil.
Memperluas penggunaan yuan di pasar energi global telah lama menjadi salah satu tujuan strategis terbesar Cina — biasanya butuh bertahun-tahun negosiasi diplomatik dan bilateral yang sangat hati-hati. Perang Iran justru memberi peluang itu secara instan dalam hitungan minggu.
“Iran hanya membolehkan kapal yang menggunakan transaksi minyak berbasis renminbi, berbasis yuan. Pada dasarnya, perang ini memungkinkan Iran memberlakukan hegemoni Persia di wilayah itu dan bahkan memaksa Cina untuk tunduk sesuai aturan mereka,” terang Heydarian.
Ia dengan hati-hati menegaskan bahwa Iran bukan bertindak sebagai proxy atau perpanjangan tangan Cina. Iran menegaskan dominasi kawasan atas dasar keinginan sendiri. Tetapi, efeknya tetap sangat penting bagi Beijing, apapun niat asli Iran.
Sementara itu, dampak yang lebih luas untuk dolar Amerika juga tak kalah penting.
Sistem petrodolar, di mana harga dan perdagangan minyak dunia memakai dolar Amerika, sudah lama jadi pondasi utama kekuatan finansial Amerika Serikat. Setiap transaksi memakai yuan yang menggantikan peran transaksi dolar, pelan-pelan menggerogoti pondasi itu. Proses ini memang sudah mulai berjalan, namun konflik ini mempercepat lajunya.
Bukan hanya dolar yang semakin tertekan di tengah konflik ini.
Operasi Intelijen Militer Gratis Beijing
Saat Iran dan Amerika Serikat saling serang di atas Teluk Persia, Beijing melakukan pendekatan yang berbeda sama sekali.
Heydarian berpendapat bahwa Cina kini sedang secara sistematis mempelajari efektivitas peluncuran rudal Iran terhadap sistem pertahanan Amerika Serikat dan NATO secara langsung. Beijing mencatat tiap serangan, upaya intersepsi, hingga kegagalan sistem secara rinci.
“Pihak Cina benar-benar meneliti secara saksama efektivitas rudal buatan Iran. Mereka bisa saja membuat rudal yang sama dengan skala lebih besar dan teknologi lebih canggih,” jelas Heydarian.
Sebenarnya, yang dilakukan Iran — dengan biaya dan risiko tempur sendiri — adalah melakukan stres uji terhadap sistem pertahanan yang selama ini menjadi andalan Amerika Serikat untuk melindungi sekutu-sekutunya di Asia.
Dampaknya bagi kawasan Indo-Pasifik sangat signifikan. Sekutu Amerika di kawasan selama ini membangun strategi pertahanan dengan asumsi bahwa sistem senjata dan interseptor Amerika jauh mengungguli teknologi rival manapun. Pengetesan di atas Teluk Persia saat ini, membuat asumsi tersebut benar-benar mulai terguncang.
“Kalau Anda sekarang adalah Filipina, Jepang, Taiwan, Singapura, dan negara lain, Anda harus sangat mencermati apa yang terjadi di sini, sebab kita melihat banyak sistem senjata NATO yang selama ini dianggap sangat hebat. Interseptornya ternyata tidak se-standar emas atau keajaiban seperti yang kita bayangkan,” terang Heydarian.
Ini pada dasarnya adalah intelijen militer gratis yang diberikan dengan biaya Iran dan justru dibayar mahal oleh Amerika. Sementara Cina mendapatkan intelijen dari setiap rudal yang ditembakkan, Amerika justru kehabisan rudal.
Gudang Senjata Amerika yang Tidak Mudah Dibangun Kembali
Heydarian menyoroti bahwa senjata yang digunakan dalam konflik ini tidak bisa diganti dengan mudah.
Rudal Tomahawk, interceptor THAAD, dan berbagai jenis amunisi canggih lainnya adalah sistem kompleks yang bergantung pada rantai pasokan yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dibangun ulang. Masalah pengisian kembali itu, terang dia, menjadi salah satu biaya strategis paling serius dan kerap diremehkan dari perang ini.
“Senjata-senjata ini bukan barang yang bisa kamu pesan dari Amazon,” jelas Heydarian.
Dia juga menyoroti ironi yang ada di inti masalah ini.
Tidak ada satu pun dari senjata tersebut dapat dibuat tanpa mineral tanah jarang, sementara Cina menguasai sebagian besar pasokan mineral tersebut di seluruh dunia. Ketika Washington nantinya berupaya untuk mengisi ulang persenjataan itu, Amerika akan membutuhkan bahan mentah dari negara yang justru sedang mereka persenjatai secara tidak langsung.
“Salah satu hal paling gila yang kita lihat adalah kamu akan bergantung pada Cina untuk mengisi ulang senjata yang nantinya akan kamu gunakan melawan Cina jika suatu hari Cina memutuskan melakukan aksi militer di Selat Taiwan, Filipina, atau melawan Jepang,” ucapnya.
Apakah perang ini berakhir dalam hitungan minggu atau bulan, keuntungan strategis yang sudah diraih oleh Cina selama masa ini tidak akan mudah diambil kembali.