Perpetual decentralized exchange (perp DEX) mendapatkan perhatian besar pada tahun 2025. Aktivitas trading semakin meningkat, dan banyak platform baru masuk ke pasar untuk memanfaatkan momentum tersebut.
Dengan perp DEX yang terus mengambil porsi signifikan dan bertumbuh dalam aktivitas derivatif, mulai muncul pertanyaan tentang bagaimana perkembangan ini bisa mengubah lanskap trading secara keseluruhan. BeInCrypto berbicara dengan COO MEXC, Vugar Usi Zade, untuk membahas apakah perp DEX menjadi tantangan serius bagi centralized exchange (CEX) dan apa arti perubahan ini untuk peran CEX di masa depan.
Meningkatnya Perp DEXs
Perpetual DEX adalah platform decentralized, self-custodial, yang beroperasi 24/7 dan memungkinkan trader mengambil posisi long atau short pada aset kripto dengan leverage tanpa batas waktu jatuh tempo.
SponsoredPopularitas model ini meningkat karena regulasi exchange terpusat yang semakin ketat, peningkatan besar dalam eksekusi DEX dan pengalaman pengguna yang mirip dengan platform centralized, munculnya budaya trading yang sangat financialized, serta meta pendapatan baru di mana proyek secara langsung mendapatkan nilai lewat biaya dan pembelian kembali token.
Laporan CoinGecko terbaru menyoroti kenaikan pesat aktivitas perpetual DEX dibandingkan platform centralized. Berdasarkan data, rasio perps DEX terhadap CEX naik dari 2,1% di awal tahun 2023 menjadi 11,7% pada November 2025.
CoinGecko juga mengungkapkan bahwa bulan November menjadi bulan ke-14 secara berturut-turut yang mencatatkan pertumbuhan bulanan pada rasio volume perps DEX terhadap CEX.
Momen ini juga terlihat jelas dari peningkatan volume trading. Aktivitas perpetual DEX mencapai rekor US$903,56 miliar pada Oktober, lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Hal ini secara besar-besaran dipimpin oleh kemunculan pemain perp DEX baru – khususnya Hyperliquid, Lighter, dan edgeX – yang telah melampaui para pemain awal. Misalnya, Hyperliquid saja telah mencatat volume perps sebesar US$2,74 triliun sepanjang tahun ini, jumlah itu setara dengan Coinbase dan bahkan melebihi gabungan perp DEX besar lainnya,” tulis analis riset CoinGecko, Yuqian Lim, pada November lalu.
Berdasarkan data terbaru DefiLama, Hyperliquid, Aster, dan Lighter masih mempertahankan posisi sebagai tiga besar perpetual DEX dengan volume trading terbesar.
Perp DEX vs CEX: Model Mana yang Benar-Benar Menang?
Peningkatan pesat dari alternatif on-chain menimbulkan satu pertanyaan penting: Apakah tren ini menandakan perubahan struktur yang bertahan lama atau hanya reaksi sementara terhadap kondisi pasar?
Menurut Usi Zade, pertumbuhan ini mencerminkan perubahan perilaku trader, bukan perubahan paradigma secara total. Ia menambahkan bahwa data saat ini tetap menunjukkan centralized exchange masih mendominasi arus derivatif. Kekuatan utama mereka seperti likuiditas yang dalam dan kepercayaan institusional tetap terjaga.
Sponsored Sponsored“Agar menjadi perubahan struktural, perp DEX harus punya likuiditas berkelanjutan dan partisipasi dari profesional market maker. Jika DEX juga punya efisiensi modal, maka jarak dengan eksekusi di CEX makin kecil,” terang dia.
Ketika ditanya apakah perpetual DEX punya keunggulan dibanding centralized exchange, Usi Zade menekankan transparansi sebagai pembeda utama. Ia menjelaskan bahwa platform ini memungkinkan pengguna untuk memverifikasi posisi, kolateral, dan mekanisme likuidasi secara real time.
Usi Zade juga menyoroti bahwa transparansi kini semakin wajib bagi para trader, apalagi mereka yang pernah mengalami kegagalan exchange secara langsung.
“Model centralized exchange sulit untuk menyamai tingkat akuntabilitas seperti ini. Tidak akan ada replikasi DEX tanpa perubahan cara pengelolaan custodial dan manajemen risiko di CEX,” komentar eksekutif tersebut.
Selain transparansi, Usi Zade juga menunjukkan bahwa akses permissionless menjadi salah satu keunggulan DEX. Tapi ia menegaskan centralized exchange beroperasi dengan regulasi ketat yang memprioritaskan kepatuhan dan perlindungan pengguna.
Ia juga menyampaikan bahwa akses on-chain menjadi daya tarik lain bagi trader untuk masuk ke perp DEX, sebab mereka bisa melewati cek identitas tanpa batasan wilayah atau akun. Fitur ini jadi sangat penting ketika terjadi pengetatan regulasi.
Walaupun keunggulannya cukup menonjol, masih ada area di mana decentralized exchange tertinggal. Usi Zade menunjuk bahwa konsentrasi likuiditas dan kualitas eksekusi tetap menjadi tantangan paling besar bagi DEX.
Meski platform decentralized mengalami pertumbuhan pesat, mereka masih berjalan dengan basis modal yang lebih kecil. Dengan demikian, hal tersebut bisa berdampak pada funding rate, kedalaman pasar, dan daya tahan pasar secara keseluruhan.
SponsoredIa pun menyebutkan bahwa manajemen risiko DEX masih memiliki kekurangan karena sistem likuidasinya yang kaku.
“Centralized exchange, di sisi lain, punya kemampuan untuk melakukan intervensi, memperbaiki, atau menghentikan proses likuidasi sebagai bagian dari kebijakan keamanan yang lebih luas,” ujar sang eksekutif pada BeInCrypto.
Terakhir, Usi Zade menekankan bahwa trading derivatif on-chain umumnya butuh modal lebih banyak dan membawa biaya implisit yang lebih tinggi daripada platform centralized. Menurutnya,
“Ini bukan pilihan ideal jika kita adalah seorang strategist yang mengutamakan kecepatan.”
Perp DEX Menarik Trader, Tapi Institusi Belum Bergerak
Sementara itu, COO MEXC menyampaikan bahwa saat ini industri belum melihat perpindahan besar dari klien institusi ke platform decentralized. Sebaliknya, DEX semakin memposisikan diri sebagai alternatif.
Dia pun menjelaskan, trader yang lebih mahir biasanya tetap menjaga eksposur on-chain sebagai lindung nilai terhadap risiko regulasi atau risiko rekanan. Meski begitu, exchange terpusat masih menjadi tempat utama para trader mencari likuiditas inti, leverage, dan eksekusi.
Selain itu, Usi Zade menyarankan bahwa kebanyakan trader derivatif on-chain masuk dalam kategori semi-profesional karena mereka paham istilah teknis. Untuk akun berukuran sedang, self-custody memberi kenyamanan tambahan.
Sponsored SponsoredNamun, trader-trader ini umumnya tidak menggunakan strategi kelas institusi sehingga mereka lebih cocok dengan platform decentralized.
Di luar segmen semi-profesional ini, trader biasanya memakai perp DEX secara selektif untuk instrumen tertentu, supaya bisa melakukan diversifikasi atau arbitrase. Meski begitu, platform tersebut jarang dipakai sebagai tempat eksekusi utama. Hal ini semakin menegaskan peran sentral exchange terpusat.
“Saat ini, derivatif decentralized perlu memastikan prediktabilitas dengan likuiditas yang dalam dan dukungan operasional. Sampai saat itu tiba, perpindahan akan berjalan lebih bertahap, bukan drastis,” terang dia.
Prospek Perp DEX dan CEX di 2026
Pada akhirnya, di tahun 2026, sang eksekutif memperkirakan bahwa platform derivatif decentralized dan centralized tetap akan berdampingan. Tapi, masing-masing akan melayani kebutuhan trader yang berbeda.
“Jika platform bisa memahami dan menyeimbangkan keduanya, itu sebuah kemenangan,” ujar dia.
Usi Zade membagikan bahwa hingga akhir tahun nanti, keseimbangan ini diperkirakan akan mencapai kisaran 15–20%. Menurutnya, angka tersebut menandakan pertumbuhan berkelanjutan bagi platform on-chain tanpa mengurangi peran exchange terpusat sebagai tempat utama perdagangan derivatif.
Dia juga memprediksi bahwa pasar berpotensi semakin mengarah pada model hybrid, di mana ada koneksi lebih baik antara transparansi dengan pengalaman pengguna yang meningkat serta likuiditas dalam yang biasanya ditawarkan platform terpusat.
“Risiko yang perlu diwaspadai adalah fragmentasi, di mana likuiditas tersebar di banyak tempat dan chain, sehingga jadi tidak efisien,” papar Usi Zade.
Secara keseluruhan, perpetual DEX kini makin relevan, tapi belum menggantikan exchange terpusat. Sebaliknya, kedua model ini berkembang beriringan. Platform on-chain memperluas peran bersama CEX, sehingga ruang derivatif semakin mengarah ke model hybrid.