Kembali

Gejolak Geopolitik Memukul Mata Uang Asia — Dan Bank Sentral Tak Bisa Menghentikannya.

Pilih kami di Google
author avatar

Ditulis oleh
Kamina Bashir

editor avatar

Diedit oleh
Harsh Notariya

31 Maret 2026 15.12 WIB
  • Peso Filipina merosot ke level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS.
  • Negara tersebut mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional di tengah konflik Timur Tengah.
  • Rupee India menembus 95 per dolar meskipun ada batasan baru RBI pada posisi forex bank.
Promo

Ketegangan geopolitik sedang menekan perekonomian di seluruh dunia. Peso Filipina turun ke level 60,8 per US$ pada hari Senin.

Mata uang ini melanjutkan penurunan sejak Maret yang sudah menggerus lebih dari 5% nilainya. Bloomberg melaporkan bahwa Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) menyebut intervensi pasar mata uang mereka tetap terbatas “hanya untuk meredam fluktuasi besar yang bisa mempengaruhi inflasi, bukan untuk mempertahankan level tertentu.”

Filipina termasuk salah satu ekonomi di Asia yang paling terdampak gangguan pasokan. Negara ini mengimpor sekitar 98% kebutuhan minyaknya dari Teluk.

Pekan lalu, BeInCrypto memberitakan bahwa Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menandatangani Executive Order 110, yang mendeklarasikan status darurat energi nasional.

Disponsori
Disponsori

Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung

Peso Filipina dan Rupee India Melawan US Dollar
Rupee India dan Peso Filipina Melawan US Dollar | Sumber: TradingView

Sementara itu, rupee India juga melemah ke atas level 95 per US$ untuk pertama kalinya pada hari Senin, bahkan sempat menyentuh posisi terendah harian di 95,2. Mata uang ini telah turun 11% selama tahun fiskal India, menjadi penurunan tajam pertama sejak tahun 2011-12.

Penurunan ini terjadi meskipun Reserve Bank of India (RBI) telah mengambil langkah untuk menahan spekulasi. Bank tersebut membatasi posisi terbuka bank di pasar forex domestik hingga maksimal US$100 juta per hari, dan berlaku mulai 10 April.

Kebijakan ini memaksa pihak kreditur untuk memperkecil posisi mereka dan membatasi peluang membangun spekulasi besar terhadap rupee. Tapi, kebijakan ini hanya memberikan kelegaan sementara.

Menurut Reuters, investor asing melego lebih dari US$19 miliar saham India setahun terakhir, bahkan pada bulan Maret, outflow-nya mencapai rekor bulanan tertinggi. Penjualan besar-besaran ini makin deras setelah harga minyak melonjak akibat konflik di Timur Tengah, karena kekhawatiran tinggi tentang kerentanan ekonomi India yang amat bergantung pada energi impor.

“Intinya, aturan pembatasan RBI ini tidak mengubah dinamika mendasar yang menjadi tekanan pada mata uang,” tulis analis Barclays dalam catatan hari Senin. “INR tetap sangat rentan terhadap guncangan pasokan minyak, sementara neraca pembayaran India mungkin bisa semakin memburuk, serta tekanan modal dan akun finansial yang juga meningkat.”

Dengan Selat Hormuz yang masih banyak ditutup untuk lalu lintas komersial, kedua negara menghadapi tekanan besar. Dalam beberapa minggu ke depan, bakal kelihatan apakah batasan posisi dari RBI dan intervensi selektif BSP mampu menjaga stabilitas.

Langganan kanal YouTube kami untuk menonton para pemimpin dan jurnalis berbagi wawasan ahli

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori