Prediction market kini makin sering mengungguli polling tradisional sebagai alat prediksi — dan penyebab utamanya hanya satu hal: keyakinan finansial. Jika orang mempertaruhkan uang asli pada sebuah prediksi, mereka tidak akan berbohong.
Munculnya platform seperti Polymarket dan Kalshi mulai menantang dominasi prediksi tradisional. Selama ini, pollster selalu menjadi suara utama dalam memperkirakan hasil politik maupun ekonomi. Tapi, serangkaian kegagalan polling yang cukup terkenal — mulai dari Pemilu AS 2016 sampai Brexit — telah membuka peluang bagi prediksi yang menghukum ketidakpastian dengan uang sungguhan.
Mengapa Uang Menjadi Data yang Lebih Baik
Alasan utama mendukung prediction market sangat berkaitan dengan perilaku manusia. Exit poll dan survei sering mengalami masalah umum yang telah diketahui: responden cenderung memberikan jawaban yang menurut mereka terdengar masuk akal, atau memilih siapa yang mereka inginkan untuk menang, bukan siapa yang mereka yakini akan keluar sebagai pemenang. Tidak ada risiko apapun jika salah menjawab survei.
Prediction market sepenuhnya menghilangkan celah ini. Setiap probabilitas yang tercermin dalam harga pasar menandakan ada seseorang yang benar-benar rela mempertaruhkan modalnya untuk prediksi itu.
“Dibutuhkan keyakinan untuk memasang prediksi atau taruhan,” ujar George Tung, founder ClashPicks dan host kanal CryptosRUs yang banyak diikuti, kepada BeInCrypto. “Kamu harus benar-benar yakin sesuatu akan terjadi supaya mau mempertaruhkan uang sungguhan.”
Keyakinan tersebut membuat data prediction market menjadi kualitas yang berbeda. Bukan sekadar sentimen, melainkan benar-benar taruhannya nyata.
Data juga membuktikannya. Riset independen dari data scientist Alex McCullough, yang dipublikasikan melalui dashboard Dune, menemukan bahwa Polymarket bisa memprediksi hasil dengan akurasi sekitar 86% satu bulan sebelum acara diputuskan, bahkan meningkat menjadi 91% dalam empat jam terakhir. Studi tersebut menganalisis data historis Polymarket dan tidak memasukkan pasar dengan probabilitas ekstrim agar hasilnya tidak bias.
Masalah Survei Opini
Polling tradisional memang sedang kewalahan. Meski sudah banyak perombakan metode seusai tahun 2016 dan 2020, polling masih terlalu melebih-lebihkan peluang Kamala Harris untuk menang di Pemilu AS 2024 dan malah meremehkan peluang Donald Trump, terutama di negara bagian swing states.
Prediction market, di sisi lain, malah memberikan gambaran berbeda jauh sebelum malam pemilu tiba. Tung sangat menegaskan keunggulan ini berasal dari keahlian, bukan keberuntungan acak.
“Jika kamu memprediksi hasil suatu peristiwa, seperti pemilu presiden atau harga emas naik minggu ini — itu butuh skill,” terang dia kepada BeInCrypto. “Ada orang-orang yang melakukan riset mendalam dan mempelajari segala sesuatu.”
Subscribe ke kanal YouTube kami untuk menyaksikan para pemimpin dan jurnalis membagikan insight pakar
Faktor struktur utamanya adalah kecepatan. Polling butuh waktu beberapa hari untuk pengumpulan, pengolahan, hingga publikasi data. Prediction market yang didukung sumber daya baik bisa mengubah harga dalam hitungan menit ketika ada informasi baru.
Tidak Tanpa Kekurangan
Meski begitu, prediction market tidak selalu tanpa cela. Kritikus menyoroti kelemahan besar: Jika partisipasi hanya dari sekelompok kecil trader yang homogen, pasar bisa digerakkan oleh satu pelaku besar — sehingga harga lebih mencerminkan keyakinan individu, bukan kebijaksanaan kolektif.
Celah demografi pun nyata. Peserta prediction market didominasi pengguna yang sudah akrab dengan kripto dan punya pengetahuan finansial — jelas bukan cerminan masyarakat umum. Kritikus berpendapat, hal ini membatasi seberapa jauh argumen “wisdom of crowds” berlaku ketika crowd-nya terlalu sempit.
Tung secara langsung mengakui adanya ketegangan tersebut.
“Saya setuju, makin besar platform dan makin banyak penggunanya, maka akurasinya akan makin baik,” tutur dia. Tapi, ia membantah bahwa jangkauan demografi hanya jadi kelemahan prediction market. “Bentuk data mana lagi yang punya lebih banyak orang melakukan prediksi dibanding prediction market jika digabung? Data apa yang punya demografi lebih besar dari sini?”
Pertanyaan ini layak diajukan — dan sampai kini industri polling belum bisa menjawabnya dengan meyakinkan.
Banyak platform baru yang masuk ke ranah ini bertaruh bahwa semakin banyak partisipasi adalah kuncinya. ClashPicks, prediction market milik Tung berbasis Solana, menawarkan model prediksi gratis yang sengaja dirancang untuk menurunkan hambatan pengguna baru, dengan tujuan menarik peserta yang sebelumnya tak pernah berminat buka akun Polymarket sekalipun.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya
Soal apakah prediction market nanti menggantikan polling sepenuhnya sebenarnya bukan inti persoalan. Mereka sudah berhasil mengubah diskusi yang ada. Investor institusi, tim kampanye, serta organisasi media, kini mulai menggunakan data prediction market untuk melengkapi, bahkan terkadang menggantikan, agregat polling tradisional.
Skala minat institusi pun sulit diabaikan: pada Oktober 2025, Intercontinental Exchange (ICE) menginvestasikan US$2 miliar ke Polymarket, sehingga valuasi perusahaannya menjadi US$9 miliar. Ini jelas bukan sekadar eksperimen kripto kecil. Ini sinyal bahwa sektor finansial arus utama mulai menilai prediction market sebagai infrastruktur data yang sangat serius.
Ujian berikutnya adalah apakah industri ini bisa memperluas basis pesertanya tanpa kehilangan kualitas “skin-in-the-game” yang membuat data tersebut bernilai. Semakin banyak peserta berarti informasi yang lebih beragam, tapi hanya jika para peserta itu benar-benar paham, bukan sekadar berspekulasi. Keseimbangan ini masih terus dicari.
Untuk saat ini, prediction market adalah cermin paling jujur tentang apa yang benar-benar diyakini orang akan terjadi, karena jika mereka salah, mereka harus menanggung kerugian.