Harga Bitcoin memasuki November dengan bertahan di US$76.000, yaitu rata-rata harga beli holder jangka pendek. Level ini tetap terjaga setelah peretasan Binance yang sempat membuat BTC jatuh ke level terendah enam minggu di US$76.275.
Shock akibat peristiwa Binance memicu likuidasi senilai US$1,58 miliar, dan BTC menutup bulan Oktober dengan kerugian sebesar 7%.
Data On-Chain Menunjukkan Bitcoin di Titik Penentu
Data Glassnode memperlihatkan adanya arus masuk yang besar ke exchange selama penurunan akhir Oktober. Arus bersih deposit mencapai sekitar 11.500 BTC dan 8.000 BTC di hari berbeda, menandakan tekanan jual.
Setelah itu, arus keluar bersih sekitar 40.000 BTC terjadi dalam beberapa hari, menjadi salah satu yang terbesar di tahun 2026. Tapi, arus tersebut tidak mengindikasikan akumulasi.
Bitcoin sebanyak 18.270 BTC yang dicuri keluar dari hot wallet Binance saat peretasan, yang tercatat sebagai arus keluar exchange. Lalu, para pengguna menarik sekitar US$2 miliar hanya dalam waktu tiga jam setelah withdrawal dibuka kembali pada 1 November.
Sementara itu, koin milik penyerang masih belum bergerak di 19 alamat. Jika dipindahkan ke exchange, bisa menambah tekanan suplai baru.
Rasio Short-Term Holder Market Value to Realized Value (STH MVRV) memberi sinyal lebih jelas. Metrik ini membandingkan harga pasar dengan rata-rata harga beli para pembeli baru-baru ini.
Metrik ini berada di sekitar 1,02, yang artinya holder jangka pendek sekarang profit sekitar 2%. Jadi, harga beli mereka ada di kisaran US$76.000, hampir sama dengan level terendah minggu lalu.
Secara historis, penurunan di bawah 1,0 pada tahun 2026 biasanya terjadi sebelum capitulation. Breakdown di akhir Januari dan Mei mengantarkan ke level terendah di bulan Februari dan Juni. Sebaliknya, kenaikan di bulan Agustus memicu reli menuju US$87.000.
Rasio ini juga terus mencetak lower high sejak akhir September, turun dari 1,20 ke 1,03. Jika harga tetap di US$76.000, para pembeli baru masih untung, tapi jika turun kemungkinan mereka akan menjual dengan rugi.
Prediksi Harga Bitcoin Menunjukkan Dua Skenario di November
Pada grafik mingguan, BTC sedang menguji bull market support band. Band ini menggabungkan exponential moving average (EMA) 21 minggu di US$76.874 dan simple moving average (SMA) 20 minggu di US$73.779.
Namun, Gaussian channel masih tetap merah sejak Maret, menandakan tren turun yang lebih besar. BTC baru-baru ini juga tertolak di garis tengah channel yang menurun, yang kini di kisaran US$81.850.
Weekly Relative Strength Index (RSI) berada di angka 52, level netral yang cenderung sedikit turun.
Grafik harian memberikan peringatan bearish. Indikator Supertrend berubah jadi merah setelah insiden hack ini, untuk pertama kalinya sejak Mei.
Pada bulan Mei, sinyal ini mendahului penurunan 25% hingga ke US$57.800. Jika situasi sekarang sama, dan terjadi penurunan sebesar itu dari area US$80.000, target harga kemungkinan mendekati US$60.000.
Saat ini, BTC masih bertahan di level Fibonacci retracement 0,5 di US$77.876. RSI harian turun ke 38, memperpanjang tren pelemahan momentum.
Resistance berada di kisaran US$81.000–US$82.000, dengan zona suplai lebih kuat di US$85.000–US$87.000. Zona atas tersebut telah menolak BTC dua kali pada akhir September dan awal Oktober.
Jadi, prospek di bulan November sangat tergantung pada US$76.000. Jika harga tetap bertahan dan bisa kembali ke US$82.000, jalan menuju US$87.000 terbuka.
Jika gagal, zona US$73.000–US$74.000 bisa menjadi area selanjutnya. Level Fibonacci harian 0,382, SMA 20 minggu, dan level Fibonacci mingguan 0,236 semuanya berkumpul di area tersebut.
Jika breakdown terjadi di bawah zona itu, penurunan mungkin berlanjut sampai batas bawah Gaussian channel di sekitar US$71.000. Jika pola di bulan Mei terulang, target harga bisa turun ke US$60.000.
Faktor pemicu bisa mempercepat kedua skenario tersebut. ETF Bitcoin mencatat arus keluar sebesar US$643 juta sehari setelah hack. Sementara itu, pemilu sela AS pada 3 November juga menambah ketidakpastian baru.











